TERKESAN BERSAMA GUBERNUR EDY

 


Oleh: Irwansyah Nasution


Setiap kita pasti punya pengalaman pribadi tak jarang hal - hal yang baru kadang kita temui membuat kita syok atau terkesima untuk kemudian kita simpan dalam hati bahkan selalu jadi pikiran.

Inilah yang menggerakkan saya mengapa saya harus menuliskan  cerita singkat tentang gubernur Edy Rahmayadi  saat mendampingi beliau melakukan kunjungan kerja secara protokoler ke Tapteng dan Sibolga namun saya lebih senang mengatakan kunjungan Muhibbah Gubernur Edy loh mengapa ?...

Karena kunjungan itu untuk pertama kali saya tersentuh meneteskan air mata   melihat secara langsung ucapan dan tindakan seorang pemimpin Sumut  bukan sekedar sebagai gubernur dengan power kekuasaannya bisa melakukan apa saja layaknya para penguasa dimanapun namun sepertinya tidak dengan Edy , maaf jika saya berlebihan dalam mengungkapkan kesaksian yang saya lihat, saya dengar langsung tidak dengan  kata orang ,ini penting sebagai pertanggung jawaban publik .


Lalu apa yang membuat saya terkesan ? .kenapa harus repot menempuh perjalanan 8 jam dari Batubara ke Tapteng yang begitu melelahkan ,syukur dengan kebaikan hati sahabatku encekly yang juga Kadis Kominfo Sumut bersama pak Bahar yang juga Kadis Tenaga Kerja  Sumut bermurah hati menawarkan bantuan perjalanan Muhibbah Gubernur Edy selama dua hari dua malam.


Keraguan saya luntur  melihat jendral bintang tiga ini saat menyampaikan pidato resminya berubah jadi penyampaian pribadi berbagi pengalaman pada seluruh siswa tentang rentang sisi kemanusiaan  di acara Launching SMK Unggulan Zona I ,Edy mampu memukau seluruh ribuan orang  yang hadir bahkan meneteskan air mata karena terharu mendengar perkataan beliau " saya haramkan anak anak sekolah saya ikut serta dalam memikirkan politik tugas mereka belajar tidak diseret kesana kemari dengan urusan politik demi Allah demi tuhan  ".kata Edy.


Edy telah melakukan pengorbanan pertama dari ucapannya sebagai orang politik Ia Mampu mengendalikan ambisi politik pribadi demi masa depan ribuan siswa bahkan memberi contoh yang baik sebagai negarawan yang belakangan sulit kita temukan belakangan ini pada pemimpin politik yang sering memanfaatkan momentum.


Harus diakui kita memang mengalami krisis kepemimpin ,pejabat memang banyak dinegeri ini  namun berkurang dalam pertumbuhan kepemimpinan ,ini yang yang menyebabkan kita memasuki fase kritis yang rentan ketauladanan dan berakibat kita terjebak pada hal remeh temeh tidak pada substansi kepemimpinan yang sesungguhnya menyintai, mengorbankan dalam artifisial  tidak alami hanya dibuat buat.


Kekhawatiran kepemimpinan  itu semakin menjadi jadi manakala  pemimpinan lahir dari transaksi elit bukan transaksi yang tulus lewat rakyat tanpa tipu daya pencitraan."malu aku sebagai orang Sumut "kata Edy  pada suatu ketika ditanya  oleh wartawan pada saat pencalonannya menjadi gubernur beberapa tahun silam bahkan Ia di tawari presiden dan panglima Gatot Nurmantio jadi Kasad TNI kala itu namun Edy memilih. Pengabdian di Sumatera Utara dan inikah  taruhan dan karir terakhirnya? .nampaknya tidak karena masyarakat Sumut itu cerdas cerdas dalam menilai yang Menang itu adalah pemimpin yang merebut hati rakyat dan Edy telah memulainya semoga  saya tidak berlebihan.


*Penulis pengamat sosial dan kebijakan Publik

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama