Oleh : Khalifah Hasbullah/Ali Sati Nasution S.Sos.
BERIKUT Enam dzikir harian yang mudah dilaksa-nakan sebagai langkah awal untuk menyucikan hati: Yakni, 1- Membaca Adzkar yang ditentukan setelah salat. Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Dia yang membaca dalam setiap doa: Subhanal-lah 33 kali; Alhamdulillah 33 kali, Allahu Akbar 33 kali." Bagi yang kurang paham dzikir singkat yang dibaca selesai salat fardhu itu, bisa menganggap sepele. Tentu karena kurangnya pengetahuan.
Padahal Adzkar tersebut di atas langsung diajarkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, di ARASY YANG AGUNG sewaktu Muhammad masih berben-tuk Nur. Hebatnya, lantunan kalimat itu diikuti selu-ruh malaikat penghuni langit. Dzikir itu dilengkapi seratus dengan bacaan "La ilaha illallahu, wahdahu la sharika lahu, lahulmulku wa lahul-hamdu, wa Huwa 'ala kulli shai'in Qadir".
(Tidak ada Tuhan yang benar selain Allah. Dia Esa dan tidak ada sekutu bagiNya. MilikNya kekuasaan dan puji-pujian, dan Dia Mahakuasa), diampuni segala dosa hambanya meskipun sebanyak buih di lautan. (RA-Muslim).
2- Mengucapkan Doa Adzkar Ini 100 Kali
Nabi Muhammad SAW bersabda: "Barangsiapa mengucapkan 100 kali dalam sehari kata-kata ini: 'La ilaha illallahu, wahdahu la sharika lahu, lahul-mulku wa lahul-hamdu, wa Huwa' ala kulli sha'in Qadir."
(Tidak ada Tuhan yang benar selain Allah. Dia adalah Esa dan tidak ada memiliki sekutu bagi-Nya; milik-Nyalah kekuasaan dan puji-pujian, dan Dia Mahakuasa).
Dia akan mendapatkan pahala yang setara dengan membebaskan sepuluh budak, seratus perbuatan baik akan dicatat untuk perbendaraannya, ratusan dosanya akan dihapus dari gulungannya, dan dia akan dilindungi dari setan pada hari itu sampai malam. Kemudian tidak ada yang melebihi dia dalam melakukan perbuatan baik yang lebih baik kecuali seseorang yang telah membaca kata-kata ini lebih sering dari dia.
Ikhtiar
Ibnu Rajab Al Hambali Rahimahullah mengisyarat-kan bahwa baiknya amalan badan seseorang dan kemampuannya untuk menjauhi yang haram-haram. Selain itu perlunya meninggalkan perkara-perkara syubhat (yang masih samar hukumnya, -pen), semua itu merupakan ikhtiar menata baiknya hati.
Para ulama mengatakan bahwa walaupun hati (jantung) itu kecil dibandingkan dengan anggota tubuh yang lain, namun baik dan jeleknya jasad tergantung pada hati. (Lihat Syarh Muslim, 11: 29).
Ulama menguraikan, bahwa hati adalah Malikul a’dhoo (rajanya anggota badan), sedangkan anggota badan lainnya adalah Junuduhu (tentaranya). Lihat Jaami’ul ‘Ulum, 1: 210.
Hadits ini juga merupakan dalil bahwa akal dan kemampuan memahami, pusatnya adalah di hati. Sumbernya adalah di hati, bukan di pikiran atau di otak (kepala). Kecerdasan seseorang adalah pekerjaan pikiran (otak), namun kebijakan akhlak adalah hasil dari bersihnya hati. Demikian disim-pulkan oleh Ibnu Batthol dan Imam Nawawi rahi-mahullah.
Baiknya Hati..?
Para ulama berbeda pendapat mengenai maksud baiknya hati, berikut pendapat yang ada:
1. Yang dimaksud baiknya hati adalah rasa takut pada Allah SWT dan siksanya.
2. Yang dimaksud niat yang ikhlas karena Allah, ia tidak melangkahkan dirinya dalam ibadah melain-kan dengan niat Taqorrub pada Allah, dan ia tidak meninggalkan maksiat melainkan untuk mencari Ridho Allah. Puncak tertinggi dari seluruh permo-honan seorang hamba adalah Ridho Allah. "Ilahi anta maksudi Waridhaka Matlubi" (Engkau yang kumaksud Yaa Allah ! dan Ridhamu yang kuharap).
3. Yang dimaksud adalah rasa Mahabbah/Cinta kepada Allah, juga cinta pada wali Allah dan mencintai ketaatan. Intinya, ketiga makna ini semuanya dimaksudkan untuk baiknya hati. Demikian penjelasan, Syekh Sa’ad bin Nashir Asy Syatsri dalam Syarh Al Arba’in, hal. 68-69.
Syekh Sholih Al Fauzan, dalam kebaikan dan ketaatan mengatakan, “Baiknya hati adalah dengan takut pada Allah, rasa khawatir pada siksa-Nya, bertaqwa dan mencintai-Nya. Jika hati itu rusak, yaitu tidak ada rasa takut pada Allah, tidak khawatir akan siksa-Nya, dan tidak mencintai-Nya, maka seluruh badan akan ikut rusak. Perikakunya di masyakat menjadi rusak.Ironisnya, bukan hanya dirinya yang rusak, tetapi dapat merusak umat di sekitarnya.
Karena hati memegang kendali seluruh jasad. Jika pemegang kendali ini baik, maka baiklah yang dikendalikan. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh yang dikendalikan.
Oleh karena itu, seorang Muslim hendaklah me-minta pada Allah agar dikaruniai hati yang baik. Jika baik hatinya, maka baik pula seluruh urusan-nya. Sebaliknya, jika rusak hatinya, maka tidak pula baik urusannya.” (Al Minhah Ar Robbaniyah fii Syarh Al Arba’in An Nawawiyah, hal. 109).
Karenanya, Nabi Muhammad SAW sering meminta dalam do’anya adalah agar hatinya terus dijaga dalam kebaikan. Beliau sering berdo’a,
ÙŠَا Ù…ُÙ‚َÙ„ِّبَ الْÙ‚ُÙ„ُوبِ Ø«َبِّتْ Ù‚َÙ„ْبِÙ‰ عَÙ„َÙ‰ دِينِÙƒَ
“Ya muqollibal Qulub Tsabbit Qolbi ‘alaa diini'ka- (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”*
Nara sumber : Ihya Ulumiddin/Imam Al-Gozali
: Lipilibittarik al-Haq: Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
Ajaran Tarekat.

Posting Komentar