Catatan : Ali Sati Nasution*
FESTIVAL Gordang Sambilan dan tampilan Tor-tor Mandailing Malaysia yang berlangsung dari 2-3 Sep-tember 2023 di Grand Barokah Kuala Lumpur Malaysia sesuatu yang menarik dan menyita perhatian.
Tampilnya kesenian dari tanah leluhur Mandailing di negeri orang dan mendapat perhatian tersendiri dari Menteri Dalam Negeri Kerajaan Malaysia Datuk Seri Syaifuddin Nasution Bin Ismail tentu sesuatu yang luar biasa dan penghargaan yang tinggi.
Dari even festival tersebut kelak diharapkan bisa men-jadi suguhan kesenian bertarap internasional yang ditampilkan Malaysia tetapi tetap milik Mandailing mengingat rumpun asalnya yang berjuluk " Mandailing Bumi Gordang Sambilan."
Kesenian Mandailing yang dipayungi unsur budaya bagi penulis memiliki catatan tersendiri. Memang budaya terkait dengan seni, tak terpisahkan. Setiap muncul suatu prosesi Adat Istiadat (budaya) pasti dibarengi dengan tampilnya kesenian. Adat yang dapat menuntun umat menjadi berdap (agama) disepuh dengan unsur seni semakin kelihatan auranya yang gemerlap. Semakin sempurnalah sosok seseorang itu apabila beradat dan beradab.
Adat itu adalah produk dari Bagas Godang yang mengajarkan tatakrama bagi umat dalam suatu kumpulan etnis. Katakanlah di Mandailing dengan adanya penerapan adat dan adab dalam kehidupan sehari-hari menjadi pembeda bagi sosok yang lain.
Maka tidak heran, sosok yang digembleng oleh adat dan adab ditambah paduan unsur seni menjadikan sosok seseorang menjadi panutan.Lihatlah sejumlah tokoh nasional seperti Jenderal Besar Dr.Abdul Haris Nasution, tokoh pendidik Andi Hakim Nasution, tokoh pers dan politik H.Adam Malik Batubara dan sejumlah tokoh lainnya.
Kembali ke festival kesenian yang berakar rumput Mandailing di Malaysia mengingatkan penulis pada peristiwa 2012 ( sebelas tahun silam ). Ketika itu penulis Jurnalis di salah satu media terkemuka di Medan didatangi Editor Senior dari surat kabar terkemuka di Malaysia warga negara Malaysia yang kebetulan berasal dari leluhur Mandailing.
Pihaknya datang ke Medan untuk minta maaf baik secara langsung maupun melalui sejumlah media. Kasus yang muncul ke permukaan seputar rencana pemerintah Malaysia mendaftarkan kesenian Man-dailing Gordahg Sambilan dan tarian Tor-tor ke Seksyen 67 Akta Warisan Kebangsaan 2005.
Kontroversi Gordang Sambilan dan Tor-tor mengemuka setelah adanya pernyataan Menteri Penerangan Komu-nikasi dan Kebudayaan Malaysia Dato' Seri Utama Dr.Rais Yatim adanya niat mendaftarkan dua kesenian itu ke Seksyen 67 Akta Warisan Kebangsaan 2005.
Niat yang belum dilaksanakan itu memantik kemara-han pemerintah Indonesia terkesan, kesenian dari negaranya mau dicaplok orang.
Dilihat fakta kronologi, masyarakat asal Mandailing yang sudah beberapa dekade dan sudah menetap menjadi warganegara Malaysia, tetap berupaya me-lestarikan budaya dan kesenian pertinggal leluhurnya walau sudah di negeri orang.
Pada 2009 ketika penulis berkunjung ke Malaysia dari utusan Himpunan Keluarga Besar Mandailing (HIKMA) Sumut dikomandoi HMY Effendi Nasution mendapat sambutan yang cukup baik dari Bapak Suhaimi Nasu-tion. Suhaimi Nasution berada di Malaysia sebagai Dosen Kehormatan Bidang Kesenian di salah satu Universitas terkemuka di negara itu.
Didampingi Bachtiar Nasution (asal Pidoli Lombang) Suhaimi Nasution melatih para mahasiswa/i untuk tarian Tor-tor dan menabuh Gordang Sambilan. Artinya sejak dulu kesenian yang berasal dari Mandailing itu,sudah sekian lama masuk kampus di Malaysia.*

Posting Komentar