Segmen Marsipature Hutanabe.. MAU DIBAWA KEMANA PETANI KITA...?



Oleh : Marwan Ashari Harahap 

(Ketua Umum Pemuda Tabagsel)


Petani merupakan mata pencaharian mayoritas penduduk di wilayah Padang Bolak  (Paluta-palas), Umumnya Petani di daerah tersebut, melanjutkan tradisi para leluhur dan nenek moyangnya secara turun temurun yang tetap survive hingga sekarang dari pertanian, baik itu tani sawah, tani kebun/ladang, serta tani ternak bahkan kombinasi diantaranya.

Tapi umumnya Petani sekarang ini kehilangan dan bahkan tidak menemukan jati dirinya yang sebenarnya. Bahkan boleh dikatakan kehidupannya semakin memburuk.

Petani tidak punya lahan, jika punya lahan tidak mampu berproduksi. Belum lagi infrastruktur pertanian yg kurang mendukung, irigasi yg sangat terbatas dan bahkan mengalami kerusakan, seperti irigasi batang ilung salah satu nadi pengairan sawah di padang bolak nasibnya kini sangat memprihatinkan, selain sering rusak parah dan jebol bahkan sedimentasinya (pengendapan pasir dan lumpur) mengakibatkan terjadinya pendangkalan. 

Irigasi yg dibangun sejak presiden soeharto tersebut hingga jini tidak ada 2 nya lg, ini jg sbg bukti rendahnya perhatian terhadap petani dikawasan tersebut.

Dengan kondisi seperti ini. Tentu menambah penderitaan masyarakat petani. laju pengalihan fungsi lahan sawah-pertanian semakin meningkat, lahan sawah banyak berubah nenjadi permukiman dan perkebunan sawit, seakan tidak terkendalikan lagi. Belum lagi beban petani semakin berat, harga pupuk yg terus meroket, bantuan benih yg bagus, entah kmn hrs didapat, bantuan alat dan mesin pertanian untuk pra panen dan pasca panen yg masih jauh panggang dari api (tombob tanoh pir, tatap langit daho).

Oleh karenanya persoalan ini sudah lama dan terus menerus mendera petani Padang Bolak, sehingga masih sangat jauh, bila dikatakan petani sejahtera..padahal motto dan jargon2 seperti itu kerap terdengar keluar dari mulut para calon2 pemimpin di negeri ini, bila pada saatnya mereka membutuhkan suara petani ketika masanya Pileg dan Pilkada. tapi kini ketika mereka sudah terpilih, suara-s uara yg dulu lantang ingin membantu dan mensejahterakan petani, kini nyaris tak terdengar lagi.

Petani Padang Bolak adalah rakyat terbanyak didaerah ini. Tentu harus mendapat prioritas, baik secara politik, program, anggaran maupun kebijakan pemerintah, bukan menjadikannya sbg komoditas eksploitasi  politik belaka, tapi suatu kewajiban untuk merealisasikan kesejahteraan petani.Tapi kenyataannya petani Padang Bolak tetap saja banyak yang  miskin. Dan bahkan boleh dikatakan tidak jelas mau dibawa kemana petani kita...? Apakah menuju petani sejahtera, atau mau dibawa  ke pot-pot (semak-semak) atau lainnya...Sudah semestinya Pemerintah Daerah, para eksekutif dan para dewan yang terhormat dan umumnya semua stake holder yang tetkait kiranya kedepan memiliki beyond Petani (kepedulian/perhatian lebih/sangat kuat)  serta menciptakan kebijakan pertanian yang pro petani.

Petani Padang Bolak tentu sudah lama mengimpikan irigasi baru selain batang ilung, atau irigasi yg sdh ada, jika tidak bisa diperpanjang jangkauannya hingga distas 10 .000 Ha (kenapa tidak sudah berkali2 sudah ganti presiden, hanya sejak jaman soeharto irigasi batang ilung ada), ir8gasi yang ada direhabilitasi hingga betul2 mantap..tapi arah kesitu sampe sekarang belum muncul..?

Selain itu pemetahan atau zonasi (tata  ruang) wilayah, yakni daerah mana yg perlu disupport dan dikembangkan sbg zona persawahan misalnya. Daerah mana  yang cocok untuk perkebunan atau ladang misalnya, serta daeras h mana yang cocok untuk peternakan stau parmahanan misalnya sehinggga selanjutnya memfokuskan program2 pengembangan dan peningkatan sembari tetap melakuan monitiring dan evaluasi terhadap program yang dijalankan.

Tapi yakinlah, program tidak akan berjalan atau usaha untuk meningkatjan kesehahteraan petani tidak akan tercapai bila para pemimpinnya belum memiliki perhatian dan kepedulian yang kuat (beyond) terhadap petani kita. Kepada Allah Swt kita berserah diri.



Aku Bukan Anak Petani...?


Tulisan sebelumnya  msh menjelaskan secara umum keadaan petani kita, khusunya di Padang Bolak dan msh byk nya netizen kita yg belum ter puaskan  serta ujung ceritanya belum kongkrit dan menjelaskan secara detail sesuai thema diatas.

Pada segmen berikut ini kita secara khusus  akan membicarakan mengenai generasi muda milenial petani Padang Bolak (baca ; anak petani).

Sebagaimana disebutkan sebelumnya bahwa mayoritas mata pencaharian penduduk Padang Bolak adalah sbg petani.  Namun saya meyakini kebanyakan para anak petani milenial zaman now tdk bangga bila disebut sbg anak petani, bukan karna gengsi, malu atau rendah diri  punya ortu sbg petani. Akan tetapi lbh kpd memilih berhijrah (pindah) mencari kehidupan lain selain petani.

Hidup sbg petani bagi pandangan generasi muda milenial di Padang Bolak seakan tdk menjanjikan secara ekonomis, karena faktanya leluhur sdh bertani sejak dulu kala tapi kehidupannya begitu-begitu saja (pas-pasan)  bahkan hidup tetap miskin. Keadaan ini membuat generasi muda milenial sbg anak petani berasumsi bahwa hidup sebagai petani bukanlah pilihan utama yg tepat tapi pilihan terpaksa  karna mungkin tidak ada pekerjaan lainnya..

Selain itu petani bukanlah pekerjaan yang menjanjikan,  karena tidak didukung infrastruktur perrtanian yang memadai. Irigasi (pengairan), seperti irigasi batang ilung Padang bolak yg dibangun sejak presiden soeharto pd tahun 1986,  pada mulanya diharapkan dapat mengairi persawahan sekitar kurang lebih 5000 Ha, tapi kondisinya sekarang sdh memprihatinkan. Karena satu-satunya irigasi  yg menjadi nadi dan penharapan petani, keadaannya sudah mengalami degradasi karena rusak parah jebol serta sedimentasi.

Presiden sdh silih berganti sejak presiden Soeharto hingga presiden Jokowi sekarang ini,  Gubernur dan kepala daerah juga sdh silih berganti, tapi perhatian untuk merehabilitasi irigasi batang ilung sehingga betul-betul prima mengairi persawahan belum terwujud, yang namanya irigasi tdk ada lg selain irigasi batang ilung dan sudah jauh merosot.

Irigasi batang ilung kini sudah berusia lebih 30 an tahun, selama itu pula lah masyarakat menanti dan bermimpi punya irigasi yang baru yang mampu mengairi persawahan hingga 10.000 Ha. Tapi jangankan bermimpi irigasi baru, yg ada sekarang saja sering jebol dan rusak parah sehingga kurang mendukung pertanian untuk maju. Belum lagi alasan klasik lainnya seperti pupuk langkah dan harga yg terus naik, benih yg berkualitas juga mengenai mekanisasi pertanian yg jauh tertinggal dengan daerah lainnya di sumatera utara.

Kondisi ini memaksa sebagian Petani Padang Bolak untuk menjual sebagian lahan sawahnya terutama yg dekat dgn jalan utama (protokol) atau jalan kolektor (penghubung) karena  perkembangan daerah harga sangat menjanjikan bila dibandingkan dengan rasio penghasilan dari hasil sawah. Singkat cerita pengalihan fungsi lahan sawah/pertanian semakin tdk terkendalikan telah berubah menjadi pembangunan permukiman dan perkebunan sawit dan karet. persoalan lain yg dihadapi petani adalah, umumnya petani padang bolak adalah petani kultural artinya menjadi petani karena sejak jaman nenek moyang sudah hidup dari bertani..dan hanya sebagian kecil saja jadi petani alamiah artinya karena memang didasari niat dan keinginan kuat untuk menjadi  seorang petani (profesional). 

Tentu pemandangannya akan berbeda bila kita melihat petani Deli Serdang (salah seorang petani dif Desa Wonosari - Deli Serdang pernah saya wawancara dan lihat langsung), bertani sawah membuat mereka lebih sejahtera,  kenapa tidak, sepanjang tahun mereka tetap bisa bersawah tanpa mengkhawatirkan musim kemarau, karena ketersediaan pasokan air irigasi senantiasa terpenuhi sepanjang musim, meskipun kemarau irigasi tetap bsa mengairi sawah mereka. Karena didukung irigasi yang baik ini,  mereka bisa menanam padi dalam 2 (dua) tahun itu bisa panen sebanyak 5 (lima) kali,  seharusnya bisa panen 6 kali, tapi menurut kebiasaannya, 1 (satu) diselingi dengan menanam palawija. coba bayangkan perhitungan ekonominya, kondisi ini membuat mereka lebih sejahtera.

Kondisi yang menjanjikan ini tentu jauh berbeda dengan petani padang Bolak dan tidak pernah terlihat para anak petani milenial disana dan tidak pernah membayangkan betapa menjanjikannya hidup sbg petani, dan akhirnya membuat mereka tidak Pede dan memilih alih profesi lain yg dianggap lebih menjanjikan. 

Maka singkat cerita para generasi milenial secara perlahan namun pasti, lambat laun mulai mencari penghidupan lain dengan berhijrah di perantauan dan kini banyak menjelma menjadi orang-orang sukses, ada sukses menjadi politisi, birokrat di pemerintahan, pengusaha, cendekia dan akademisi, Pengacara TNI dan Polri, ustazd dan Ulama, wartawan profesional dan tokoh yg ahli dan profesional dibidangnya dan lain sebagainya.

Jika keadaan ini tidak segera mendapat perhatian yang serius dari semua pihak yang terkait, khususnya pihak yg terkait pengelolaan sarana prasarana sumber daya air,  pemerintah pusat dan pemerintah daerah, nasib petani padang bolak akan semakin terpuruk dan bertambah miskin..


Menjadi Petani Multi Dimensi.


Tulisan ini merupakan lanjutan dari  ulasan sebelumnya. Bahasan selanjutnya lebih menjelaskan keinginan dan solusi alternatif, mengenai arah yang akan ditempuh para Petani Padang Bolak dengan tetap memperhatikan aspek  perkembangan industri perkebunan yg pesat juga aspek keterbatasan infrastruktur pertanian tentu juga melihat keterbatasan SDM petani kita.


Petani Padang Bolak tentu harus tetap optimis, bahwa masa depan pertanian masih tetap menjanjikan dan memberi peluang untuk masa depan yang lebih baik, dengan catatan harus melakukan perubahan  yang lebih kreatif, inovatif serta melakukan terobosan-terobosan baru.


Kemajuan industri perkebunan nasional, khususnya perkebunan sawit yang kini merambah luas hingga ke daerah padang bolak, yang sebagian masyarakat merasa telah mengeliminasi pertanian (baca ; sawah) yg dibuktikan dengan  semakin lajunya pegalihan fungsi pertanian-sawah-ladang menjadi perkebunan sawit dan karet. Meskipun sebagian masyarakat juga  menilainya merupakan bahagian dari transformasi sosial-pertanian.


Dengan perkembangan  dan ekspansi perkebunan sawit, khususnya di Sumatera Utara, support dan andil Pemerintah juga perkebunan swasta sangatlah besar untuk mengejar target percepatan pembangunan. Mau tidak mau petani Padang Bolak tentu tidak bisa menutup mata, tetapi tidak juga ikut larut dan beramai-ramai beralih menjadi petani sawit, namun harus realistis menyikapinya dan bahkan  menjadikannya sebagai peluang yang dapat mendukung bagi pengembangan pertanian yang ada atau bahkan menciptakan peluang baru model pertanian lainnya yang dapat diintegrasikan. 


Sebagaimana dijelaskan pada tulisan bagian pertama, bahwa masyarakat  Padang Bolak umumnya adalah petani ; ada petani sawah, petani ladang dan petani ternak (parmahan) atau bahkan kombinasi diantara satu sama lainnya.


Pada hakekatnya petani padang bolak umumnya adalah petani kultural yakni menjadi petani karna keturunan, yang d iwariskan para leluhur sejak dulu kala hingga sekarang memang terlahir sebagai petani, namun faktor ekologi (keadaan alam) yang berbeda turut menentukan jenis pertanian yang digeluti dan dikembangkan masyarakat atau dengan kata lain, lain lubuk lain ikannya artinya lain daerah lain pula usaha pertanian yang  cocok.


Pada bagian ke 3 tulisan ini, kita mencoba memproyeksikan sebuah solusi alternatif, Menjadi Petani Multi Dimensi,  agar kiranya petani Padang Bolak dapat menemukan jati dirinya yang sebenarnya  dan memiliki masa depan yang lebih baik.


Petani Multi Dimensi, mengandung arti sebagai petani yang memiliki kapasitas banyak dimensi (sisi atau ruang) . Atau dengan kata lain, Petani dengan beragam jenis maupun model usaha pertanian sekaligus. Sebagai contoh  seorang petani , selain bersawah dan berladang (kobun) juga menjadi peternak sekaligus. Dia tidak menggantungkan sumber pencahariannya hanya dari bersawah dan berladang tetapi juga hidup dari peternakan sapi, kerbau atau kambing. Termasuk juga tekhnik maupun model pertaniannya, misalya seorang petani-sawah juga tani ternak, tapi ternaknya tidak hanya diperjual belikan  akan tetapi juga memanfaatkan susu ternaknya dengan cara diperas. Dan begitu juga dengan jenis usaha tani lainnya.


Sebagaimana diketahui bahwa daerah Padang Bolak (meliputi kab. Palas - Paluta) meskipun dikenal sebagai daerah padang yang luas (hamparan padang rumput luas = savana), namun daerahnya tetap memiliki perbedaan dan karakteristik  ekologii dan topografi yang berbeda pula.. dengan demikian, konsep solusi alternatif yang ditawarkan juga harus memperhatikan perbedaan dimaksud.


Oleh karenanya, langkah utama yang harus dilakukan adalah penetaan maupun zonasi pertanian. Ada daerah cocoknya dikembangkan sebagai sentra pertanian sawah-padi, misalnya daerah Gunung Tua Sekitarnya dan Kec. portibi karena telah didukung pengairan irigasi batang ilung. Kec. Padang Bolak Tenggara,  kec. hulu Sihapas -Padang Bolak Julu, cocoknya dikembangkan sentra peternakan, Kec. halongonan dan Dolok sekitarnya sebagai sentra perkebunan dan lain sebagainya.  Untuk lebih tepatnya tentu memerlukan eksplorasi maupun penelitian lebih lanjut 


Selanjutnya setelah pemetaan dan zonasi terbaik sudah dillakukan  barulah  fokus selanjutnya substansi inti pokok tahapan pelaksanaannya, yaitu merealisasikan jenis dan model pertanian yang sesuai berdasarkan zonasi dimaksud,  bagaimana seharusnya mengelolah pertanian-sawah yang produktif yg tidak hanya bisa panen 1 atau 2 kali panen dalam setahun, tapi lebih dari itu. dan bagaimana pula seharusnya menjadi petani - ladang (kobun) dengan hasil melimpah dan produksi yang lebih variatif, tidak hanya berkutat pada jenis tananan tertentu saja. serta bagaimana seharusnya menjadi peternak atau parmahan yang andal  dengan sistem berbeda ditengah kondisi areal perkebunan  sawit yang terasa semakin menghimpit areall padang rumput yang menjadi tempat bagus bagi penggembalaan hewan ternak. Bagaimana pula menciptakan peluang usaha baru dari masing-masing  jenis pertanian tersebut.


Secara khusus, selanjutnya saya menitikberatkan bahasan pada Peternakan (parmahan) karena ulasan sawah dan kobun sudah dibahas pada tulisan saya terdahulu dan peternakan ini juga patut menjadi perhatian khusus karena  keadaannya sekarang sudah hampir punah dan seakan mulai ditinggalkan sementara potensinya cukup besar dan daerah nya mendukung karena padang bolak adalah daerah savana (padang rumput) yang cocok untuk peternakan dan pada masa dulu sudah sempat dikenal sebagai salah satu daerah penghasil ternak (sapi, kerbau).


Seharusnya daerah penghasil ternak ini harus tetap dipertahankan dan bahkan  dikembangkan, kalau tempat atau lokasi  yang senakin terbatas bukanlah menjadi alasan karena model atau sistem peternakannya bisa berubah sesuai situasi dan kondisi dan tetap produktif. 


Sistem peternakan yang diterapjan para orangtua dan leluhur kita di padang bolak, biasanya sistem parmahanan (gembala), yaitu sapi atau kerbau setiap pagi dilepas dari kandang dan dihalau ke daerah padang rumput dan setiap sorenya hewan ternak tersebut biasanya dijemput dan dihalau pulang ke kandang, kecuali pada musim tertentu seperti musim bertanam padi, barulah parmahan ikut mengawasi ternaknya sehingga jangan sampai masuk (manjappal) tanaman padi orang lain. Demkianlah hal ini dilakukan secara turun temurun. 


Dengan kondisi sekarang jika areal savana sudah menyempit sehingga ruang untuk parmahanan semakin terbatas, sebenarnya bisa diterapkan pola dan sistem baru dengan pola Angon orang jawa bilang atau disebut juga diarit, artinya parmahan (peternak) mengarit rumput atau menyediakan pakan untuk ternak setiap harinya sedangkan ternaknya tetap dikandang tidak perlu dilepas. Dengan sistem ini produktifitas hewan ternak sangat bergantung sepenuhnya pada pasokan pakan yg diberikan tuannya..model ini tentu memerlukan penyesuaian dan bahkan merubah kebiasaan lama.


Selain itu, perlu dilakukan terobosan baru dalam peternakan, yang biasanya hanya mengandalkan hasil jual beli hewan ternaknya saja, perlu dipikirkan agar hewan ternak tersebut selain hanya diijual dagingnya, tentu bisa  dikombinasikan usaha  susu sapi perah, artinya sapi atau kerbau yg dipelihara tersebut bisa diperas susunya sehingga menghasilkan sumber pendapatan baru tanpa harus menjual ternaknya.


Mungkin karna keterbatasan ruang dan waktu jualah yg mengakhiri tulisan ini, namu saya juga menyadari bahwa kemampuan petani kita tentu memiliki keterbatasan. Oleh karenanya peran serta semua pihak dan stake holder yang terkait secara khusus perhatian dan kepedulian yang lebih dan kuat (beyond) dari pemerintah daerah menjadi  sangat urgent (penting)) untuk menentukan arah dan kebijakan yang pro petani. Termasuk membuat regulasi, pembiayaan dan juga menyangkut aspek tekhnik yg mendukung petani, sehingga akhirnya petani kita bisa bernapas lega serta memiliki pengharapan dan masa depan yang cerah..Para cendekia dan akademisi terutama putra daerah yang concern terhadap petani, kiranya tergerak dan tidak bosan2nya senantiasa tetap memberikan pencerahan2 terhadap petani Padang Bolak, sehingga petani kita bisa bangkit dan maju.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama