MODUS POLITIK "PLAYING VICTIM"?



Oleh : Pahri Efendi Harahap 

Adakah modus politik "playing victim" dalam masa masa kampanye pelaksanaan perhelatan Pilkada Tahun 2024 ini? Untuk mengidentifikasinya diserahkan sepenuhnya kepada masyarakat untuk menilainya. Karena untuk pembuktiannya sangat sulit sekali, apakah ada unsur "playing victim" nya. Skenario "playing victim" memerlukan beberapa ahli untuk menyusunnya. Mulai dari apa topik hingga memanejemen pengelolaan dan tindakan yang akan diuntungkan.


"Playing victim" secara sederhananya berarti bermain peran seolah-olah terzholimi atau tersakiti oleh pihak lain. Tapi, sebenarnya dia lah pelakunya sendiri yang menyakiti dirinya bukan orang lain. Bagaimana ini bisa terjadi, mungkin dalam ranah politik terjadi tingkat kepercayaan masyarakat kepada seorang pejabat atau politisi semakin rendah. Apa-apa yang disampaikan oleh pejabat atau politisi sekalipun benar dan bagus. Masyarakat tetap tidak mempercayainya.


Krisis kepercayaan kepada pejabat atau politisi akan memberikan dampak negatif yang sangat dalam dan kinerjanya selalu dianggap buruk. Maka ini menjadi pemikiran pejabat atau politisi bagaimana memulihkan kepercayaan masyarakat kepada dirinya sendiri. Mungkin dengan memakai modus politik "playing victim" lah salah caranya. Untuk apa dibuat modus ini, gunanya menarik simpati dan empati masyarakat. Kalau masyarakat sudah simpati dan empati tentunya memulihkan kesalahan daripada si pejabat atau si politisi yang teridap penyakit tidak dipercaya masyarakat.


Mungkin salah satu cara melihat, apakah ada gejala modus politik "playing victim " adalah pembaiaran. Misalnya, seorang warga masyarakat mem fitnah pejabat atau politisi. Jelas-jelas si tukang fitnah tidak memiliki dasar hukum yang kuat tetapi dibiarkan begitu saja. Pejabat atau politisi tersebut sebenarnya bisa mengadukannnya ke aparat penegak hukum dengan dalil hukum yang kuat. Tetapi, dibiarkan biarkan masyarakat menilai. Si pejabat dan si politisi tersebut justru di media massa hanya melemparkan senyum dan berkata sabar.


Pembiaran tersebut juga menjadi isu sentral masyarakat apalagi figur publik yang kena fitnah. Bisa-bisa menjadi komsumsi berita oleh media tertentu. Semakin sering diberitakan di masyarakat. Maka akan menjadi viral dan konsumsi masyarakat. Hingga menjadi figur publik (pejabat atau politisi) tidak membutuhkan tenaga atau modal yang banyaknuntuk mem-kampanyekan dirinya dan untuk memulihkan nama baiknya.


Modus politik "playing victim" hanya salah satu cara memulihkan kepercayaan masyarakat. Apakah pernyataan tersebut benar? Belum tentu, bisa juga salah.


catatan:

Ini hanya sekedar opini/pendapat pribadi.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama