Medan — Direktur Lembaga Independen Peduli Pembangunan Sumatera Utara (LIPPSU), Azhari AM Sinik, melontarkan kritik keras terhadap penunjukan Agus Fatoni sebagai Komisaris Non Independen Bank Sumut yang ditetapkan oleh Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution.
Azhari menyebut penunjukan tersebut mencederai rasa keadilan publik dan mencerminkan krisis etika dalam pengelolaan jabatan strategis daerah.
“Agus Fatoni itu manusia serakah dan gila jabatan. Apa memang sudah tidak ada lagi orang-orang hebat di Sumatera Utara ini? Sampai harus mengimpor orang dari Jakarta,” tegas Azhari kepada wartawan, Jumat (19/12).
Menurut Azhari, Bank Sumut sebagai bank milik daerah seharusnya menjadi ruang pembuktian putra-putri terbaik Sumatera Utara, bukan justru menjadi tempat penempatan figur yang dinilai sarat kepentingan dan dekat dengan lingkar kekuasaan pusat.
“Ini bank daerah, uangnya uang rakyat Sumut. Tapi komisarisnya didatangkan dari luar daerah. Ini bukan soal personal, ini soal martabat dan kemandirian Sumatera Utara,” lanjutnya.
Soroti Krisis Profesionalisme dan Potensi Konflik Kepentingan
Azhari juga mempertanyakan urgensi dan dasar profesional penunjukan Agus Fatoni, khususnya terkait kompetensi di sektor perbankan dan potensi konflik kepentingan yang bisa muncul dari jabatan strategis tersebut.
Ia menilai kebijakan ini memperkuat dugaan bahwa jabatan komisaris BUMD masih diperlakukan sebagai hadiah politik, bukan berdasarkan prinsip tata kelola yang sehat.
“Kalau jabatan terus dibagi ke orang yang sama dan itu-itu saja, jangan salahkan rakyat kalau marah. Ini praktik lama yang dibungkus dengan kemasan baru,” ujarnya.
Desak Gubernur Bobby Nasution Evaluasi Keputusan
LIPPSU mendesak Gubernur Sumatera Utara untuk mengevaluasi ulang penunjukan tersebut dan membuka proses seleksi yang transparan, akuntabel, serta mengutamakan kapasitas sumber daya lokal.
“Kalau Bobby Nasution benar ingin dicatat sebagai pemimpin perubahan, maka keputusan seperti ini harus berani dikoreksi,” tutup Azhari.

Posting Komentar