MEDAN — Sejarah Islam menghadirkan satu sosok pemimpin yang hingga kini relevan menjadi cermin kekuasaan: Sa’id bin Amir al-Jumahi. Ia bukan hanya seorang gubernur pada masa Khilafah Umar bin Khattab RA, melainkan simbol kepemimpinan yang gentar akan hisab Allah, takut pada kezaliman, dan rela hidup lapar bersama rakyatnya.
Perubahan hidup Sa’id bermula dari sebuah peristiwa kelam di luar Kota Makkah. Saat itu, ia masih pemuda Quraisy yang menyaksikan langsung eksekusi kejam Khubaib bin ‘Adi radhiyallahu ‘anhu, sahabat Rasulullah SAW. Di tengah hiruk-pikuk massa, Sa’id tersentak oleh ketenangan Khubaib yang meminta izin shalat dua rakaat sebelum dieksekusi. Shalat singkat itu, disertai doa yang mengguncang batin, menjadi titik balik kesadaran Sa’id.
Sejak hari itu, bayangan Khubaib tak pernah pergi dari hidupnya. Rasa takut akan azab Allah dan makna iman yang sejati akhirnya membuka jalan hidayah. Sa’id memeluk Islam dan menanggalkan seluruh kemewahan dunia Quraisy.
Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, Sa’id dipercaya menjadi Gubernur Himsh. Namun kekuasaan tidak mengubah wataknya. Ia hidup sederhana, berpakaian seperti rakyatnya, dan menolak kemewahan jabatan. Bahkan ketika Umar meminta daftar fakir miskin untuk menerima santunan Baitul Mal, nama Sa’id justru tercantum di dalamnya.
Delegasi Himsh menyebutkan, sering kali tak terlihat api menyala di rumah sang gubernur, tanda tak ada makanan yang dimasak. Umar terkejut dan menangis. Ia mengirimkan seribu dinar untuk membantu Sa’id. Namun uang itu justru dianggap Sa’id sebagai “bencana dunia” yang bisa merusak akhiratnya. Seluruh dinar tersebut dibagikan kepada janda, anak yatim, dan fakir miskin—tak satu pun tersisa.
Sa’id bin Amir kembali menjalani hidupnya seperti semula: seorang gubernur yang lapar bersama rakyatnya, namun tenang karena takutnya kepada Allah jauh lebih besar daripada takutnya pada kemiskinan.
Kisah Sa’id bin Amir al-Jumahi adalah kritik abadi terhadap kekuasaan yang rakus, sekaligus teladan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari kejujuran, ketakwaan, dan keberanian menolak godaan dunia.
Pertanyaan yang tersisa untuk zaman ini sederhana namun menggugah:
masih adakah pemimpin hari ini—dari pusat hingga daerah—yang berani hidup dan memimpin seperti Sa’id bin Amir al-Jumahi?.
Oleh: H. Syahrir Nasution, Glr. Sutan Kumala Bulan
Pemerhati Kebangsaan dan Kebijakan Publik

Posting Komentar