BEM UMN Al-Washliyah Bongkar Dugaan Skandal KUR Fiktif Rp17 Miliar di BRI Tanjungbalai, Aksi Mahasiswa Diwarnai Keributan di Menara BRI Medan



Medan – Aksi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muslim Nusantara (UMN) Al-Washliyah terkait dugaan skandal penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) fiktif di tubuh Bank Rakyat Indonesia (BRI) berujung ketegangan. Keributan sempat terjadi antara mahasiswa dan Satuan Pengamanan (Satpam) BRI Kanwil Regional Medan di Menara BRI, Jalan Putri Hijau No. 2A, Medan Barat, Jumat (09/01/2026).

Kericuhan bermula saat massa mahasiswa berupaya menyampaikan aspirasi dan tuntutan secara langsung kepada manajemen BRI Kanwil Sumatera Utara. Aksi tersebut dipicu oleh temuan BEM UMN Al-Washliyah terkait dugaan penyaluran KUR fiktif dengan nilai fantastis, mencapai lebih dari Rp17 miliar, yang diduga terjadi di BRI Unit Sei Kepayang, Cabang Tanjungbalai.

Dalam press release yang diterima awak media, Ketua BEM UMN Al-Washliyah, Khairum, mengungkapkan bahwa dugaan skandal tersebut berdasarkan hasil kajian mendalam disertai bukti dari sumber internal yang dinilai kredibel.

“Adanya dugaan skandal penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) fiktif senilai lebih dari Rp17 miliar mencuat di Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit Sei Kepayang, Cabang Tanjungbalai,” tegas Khairum.

Menurut BEM UMN Al-Washliyah, kasus ini diduga melibatkan seorang pengusaha di Kota Tanjungbalai yang bekerja sama dengan Kepala Unit BRI Sei Kepayang berinisial M. Modus yang digunakan yakni mencairkan dana KUR menggunakan nama-nama debitur fiktif, sehingga kredit seolah-olah disalurkan kepada pelaku UMKM, padahal dana tersebut diduga kuat dialihkan untuk membiayai kepentingan usaha pribadi pengusaha tertentu.

Ironisnya, program KUR yang sejatinya merupakan program strategis pemerintah untuk memperkuat ekonomi rakyat dan mendorong pertumbuhan UMKM, justru diduga diselewengkan secara sistematis. Akibatnya, masyarakat yang seharusnya menjadi penerima manfaat tidak pernah merasakan akses permodalan tersebut.

Seorang pekerja internal BRI yang enggan disebutkan identitasnya membenarkan dugaan tersebut. Ia menyebutkan bahwa total nilai KUR fiktif diperkirakan mencapai sekitar Rp17 miliar dan sama sekali tidak dinikmati oleh masyarakat.

“Kredit itu hanya formalitas administrasi. Dana sebenarnya dipakai oleh satu pengusaha, bukan oleh UMKM,” ungkap sumber tersebut.

Atas dugaan serius ini, BEM UMN Al-Washliyah menyatakan sikap tegas dengan tiga tuntutan utama, yakni:

Mendesak Kepala Kantor Wilayah BRI Sumatera Utara untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja Kepala Cabang BRI Tanjungbalai.

Menuntut penindakan tegas terhadap Kepala Unit BRI Sei Kepayang berinisial M serta seluruh pihak yang diduga terlibat dalam praktik penyaluran KUR fiktif.

Meminta dilakukan audit investigatif independen guna mengungkap alur pencairan dana, penggunaan kredit, serta potensi kerugian keuangan negara.

BEM UMN Al-Washliyah menegaskan bahwa dugaan skandal ini tidak boleh berhenti sebagai persoalan internal perbankan semata. Transparansi dan penegakan hukum dinilai mutlak dilakukan demi menjaga kredibilitas program KUR serta melindungi hak-hak pelaku UMKM yang selama ini kesulitan mengakses permodalan.

Mahasiswa juga memperingatkan, apabila tidak ada langkah konkret, terbuka, dan akuntabel dari pihak BRI maupun aparat penegak hukum, mereka siap mengawal kasus ini melalui konsolidasi gerakan mahasiswa serta jalur konstitusional.

“Kami tidak akan diam ketika uang rakyat diduga diselewengkan. Ini soal keadilan sosial dan masa depan UMKM,” tegas Khairum.

Kasus ini kini menjadi sorotan publik dan berpotensi menyeret nama-nama lain jika audit investigatif benar-benar dilakukan secara independen dan transparan.rel

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama