Doa Bocah Kampung Dikabulkan: Azzam, 12 Tahun, Wujudkan Mimpi Melihat Ka’bah



Jakarta— Kisah nyata tentang doa, kesabaran, dan harapan yang tak pernah padam

Di sebuah kampung sederhana di Indonesia, hidup seorang anak bernama Azzam. Usianya baru dua belas tahun. Tubuhnya kecil, wajahnya polos, dan kehidupannya jauh dari kemewahan. Ayahnya bekerja sebagai buruh harian, sementara ibunya penjahit rumahan. Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, keluarga ini kerap harus menghitung hari.

Namun di balik keterbatasan itu, Azzam menyimpan satu doa yang tak pernah putus. Setiap selesai shalat, ia selalu menengadahkan tangan dan berucap lirih, “Ya Allah, izinkan aku melihat Ka’bah sebelum aku besar.” Doa itu tidak sekali dua kali. Ia ulangi bertahun-tahun, dengan keyakinan yang bahkan sering tak dimiliki orang dewasa.

Saat teman-teman sebayanya asyik bermain gawai, Azzam memilih membantu ayahnya bekerja atau mengaji di mushala kampung. Ia menabung recehan di kaleng biskuit tua—bukan untuk membeli mainan, melainkan untuk sebuah mimpi besar: bisa menjejakkan kaki di Tanah Suci.

Titik balik itu datang ketika seorang ustadz di kampungnya mengumumkan program umrah hasil patungan jamaah dan donatur. Satu kursi disiapkan khusus bagi anak yatim atau dhuafa yang istiqamah menjaga shalat dan adab. Saat nama Azzam disebut, suasana mushala hening. Ibunya tak kuasa menahan tangis. Ayahnya terduduk lama, seolah tak percaya.

Mereka tahu, ini bukan kebetulan. Ini jawaban doa.

Perjalanan menuju Tanah Suci menjadi pengalaman pertama bagi Azzam—termasuk naik pesawat. Di Madinah, ia menangis tersedu di Raudhah. Di Makkah, saat pertama kali melihat Ka’bah, kakinya gemetar. Bibirnya bergetar. Air matanya jatuh tanpa suara.

Ia tidak memanjatkan doa panjang. Dengan suara lirih, Azzam hanya berkata, “Ya Allah, terima kasih. Engkau tidak menertawakanku.”

Sepulang dari umrah, Azzam bukan berubah menjadi anak yang merasa istimewa. Justru sebaliknya. Ia semakin rendah hati, rajin shalat, menjaga lisan, dan sering mengingatkan orang dewasa dengan kelembutan yang menyejukkan. Kalimatnya sederhana, namun dalam maknanya: “Kalau Allah mau, tidak ada yang mustahil.”

Kisah Azzam bukan dongeng. Ia nyata dan terjadi di Indonesia. Kisah ini mengajarkan satu hal penting kepada kita semua: mimpi yang disertai doa, adab, dan kesabaran tidak pernah sia-sia. Kadang Allah mengabulkannya bukan karena kita mampu, tetapi karena kita sungguh-sungguh berharap kepada-Nya.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama