Oleh: H Syahrir Nasution
Dalam percakapan yang terjadi akhir-akhir ini, muncul sebuah gagasan kuat mengenai peran integritas dan loyalitas militer dalam menjaga kedaulatan suatu negara. “Integritas dan loyalitas tinggi para jenderalnya merupakan penjaga kedaulatan negerinya,” demikian bunyi pernyataan yang tercatat pada waktu 17.00 WIB, 11 Januari 2026.
Pernyataan ini membuka diskusi penting: apakah benar bahwa kerapuhan sebuah rezim justru berasal dari persoalan internal — bukan ancaman eksternal yang datang tiba-tiba?
Pentingnya Integritas dan Loyalitas Militer
Sejarah menunjukkan bahwa mayoritas kudeta atau upaya penggulingan pemerintahan bukan berasal dari serangan asing yang tiba-tiba, melainkan pengkhianatan atau ketidakpuasan di internal pemerintahan itu sendiri — seringkali dilatarbelakangi oleh korupsi, ambisi pribadi, atau krisis kepercayaan di antara para elite militer dan politisi.
Kekuatan militer yang tidak berintegritas dan tidak setia kepada konstitusi justru menjadi ancaman terbesar terhadap kedaulatan nasional. Ketika pejabat tinggi militer tergoda oleh kekuasaan, keuntungan politik atau ekonomi, mereka bisa menjadi aktor yang meruntuhkan tatanan negara dari dalam.
Belajar dari Sejarah dan Kasus Venezuela
Kasus Venezuela menjadi contoh kontemporer untuk memahami dinamika ini. Negara yang kaya sumber daya minyak itu mengalami berbagai upaya kudeta dan krisis politik berkepanjangan, termasuk:
Beberapa kejadian upaya penggulingan kekuasaan, baik oleh militer maupun sipil yang bersekutu, telah terjadi sepanjang dekade terakhir, menunjukkan vulnerability internal rezim dalam mempertahankan kekuasaan. �
Facts.net
Loyalitas militer ternyata menjadi faktor penentu dalam keberhasilan atau kegagalan berbagai upaya tersebut. Banyak pihak melihat bahwa pemimpin yang mampu “membeli” loyalitas militer lewat kekuasaan ekonomi atau patronase politik cenderung mampu bertahan lebih lama, namun sekaligus menciptakan kondisi di mana militer tidak lagi punya integritas nasional semata.
OCCRP
Ketika loyalitas militer lebih dipengaruhi oleh keuntungan pribadi atau kekuasaan semata, daripada komitmen pada konstitusi dan kedaulatan rakyat, risiko erosi kedaulatan negara menjadi nyata.
CMI - Chr. Michelsen Institute
Kudeta: Penyebab Utama dari Dalam
Bukanlah hal yang langka dalam sejarah bahwa rezim yang jatuh atau hampir digulingkan lebih dikarenakan dinamika internal:
Pengkhianatan di lingkaran terdekat — pejabat atau komandan militer yang tidak puas sering menjadi faktor utama kudeta.
Korupsi dan kolusi — saat nilai loyalitas diganti oleh peluang ekonomi atau politik, militer kehilangan fondasi moralnya.
Keamanan negara tergadai oleh perpecahan internal — ketika loyalitas militer tercerai oleh konflik kepentingan, kedaulatan negara terancam jauh lebih besar daripada ancaman asing.
Kesimpulan: Jaga Militer, Jaga Negara
Kedaulatan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh kekuatan senjata atau sumber daya alamnya — melainkan kesetiaan militer terhadap rakyat, terhadap konstitusi, dan terhadap nilai-nilai integritas. Ketika para jenderal dan komandan tentara mengedepankan integritas serta loyalitas pada tugasnya sebagai penjaga negara, negara itu akan lebih tahan terhadap ancaman internal yang jauh lebih merusak daripada serangan luar yang sporadis.
Oleh karena itu, membersihkan institusi pertahanan dari praktik korupsi dan membangun loyalitas pada konstitusi merupakan langkah penting dalam menjaga kedaulatan bangsa, bukan sekadar memperkuat persenjataan atau aliansi luar negeri.
Jika Anda ingin artikel versi editorial media cetak atau online dengan gaya yang lebih tajam, saya bisa bantu susun juga!

Posting Komentar