Panen Raya Padi Organik Serdang Bedagai Jadi Bukti Nyata Pertanian Berkelanjutan Berdaya Saing



Serdang Bedagai – Panen Raya Padi Organik yang digelar di lahan demplot Pupuk Benteng Tani milik Ir. Soekirman, Duta Organik Asia, di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, menjadi bukti konkret bahwa pertanian organik mampu menghasilkan produktivitas tinggi, berkelanjutan, serta ramah lingkungan.

Kegiatan ini dihadiri lintas sektor, mulai dari petani, pemerintah daerah dan provinsi, BMKG, akademisi, asosiasi pertanian, hingga perwakilan internasional dari Malaysia. Panen raya tersebut sekaligus menjadi ajang konsolidasi gerakan pertanian organik sebagai solusi atas kerusakan tanah, krisis iklim, dan ketergantungan petani terhadap input kimia.


Inovasi Pupuk Organik Respon Cepat

Owner Pupuk Benteng Tani, Robin Hat Sitepu, menjelaskan bahwa produk yang dikembangkan PT Karunia Rotorindo Tani lahir dari perjalanan panjang sejak 2006. Berangkat dari kegelisahan petani yang menilai pupuk organik lambat bereaksi, pihaknya melakukan riset mendalam sejak 2016 untuk menciptakan pupuk organik dengan respon cepat.

“Pupuk Benteng Tani ini organik, tetapi kami perkaya dengan hormon tanaman, GPT, asam amino, dan eco enzyme. Respon tanaman cepat terlihat, sementara bahan organiknya memperbaiki tanah secara bertahap,” ujar Robin.


Ia menegaskan, pengembangan pupuk ini bukan semata bisnis. Melalui Yayasan Tata Peduli Tani Nusantara, pihaknya telah mendistribusikan pupuk organik dan edukasi gratis kepada lebih dari 5.000 petani di empat provinsi.

Data Iklim dan Pendampingan Lapangan

Perwakilan BMKG Stasiun Klimatologi Sumatera Utara, Wahyudi, menyampaikan bahwa keberhasilan pertanian tidak dapat dilepaskan dari pemanfaatan data iklim. BMKG sejak 2023 aktif mendampingi petani melalui program Sekolah Lapang Iklim, termasuk di lokasi demplot Ir. Soekirman.

“Petani yang memanfaatkan data curah hujan, suhu, dan kelembapan memiliki kemampuan adaptasi yang lebih baik terhadap perubahan iklim,” kata Wahyudi.

Dukungan Pemerintah Daerah

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Serdang Bedagai, Dedi Iskandar, mengakui bahwa sebagian besar lahan pertanian masih bergantung pada pupuk anorganik. Namun, ia menegaskan bahwa pertanian organik sangat mungkin diterapkan secara bertahap.


“Kuncinya ada pada perubahan mindset. Contoh di Ngawi menunjukkan bahwa semi-organik bisa meningkatkan indeks tanam dan pendapatan petani,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatera Utara, Amran (diwakili), menyampaikan bahwa pemerintah terus mendorong perbaikan ekosistem tanah melalui pembenah tanah hayati dan pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) berbasis ramah lingkungan.


Kesaksian Petani dan Asosiasi

Ketua APDESI, Suparman, menyampaikan kesaksian langsung dari praktik pertanian organik yang ia terapkan di lahan pekarangan dan pertanian desa. Ia mengaku hasil panen meningkat dan kualitas tanah membaik.

“Organik ini bukan instan, tapi berkelanjutan. Kalau tanah sehat, petani juga sehat,” tegasnya.

Perspektif Akademisi dan Internasional

Dari kalangan akademisi, perwakilan MAPORINA dan sejumlah dosen perguruan tinggi di Sumatera Utara menilai bahwa tantangan terbesar pertanian organik adalah proses adopsi sosial, bukan teknologinya. Mereka menekankan pentingnya pendampingan, jaminan pasar, dan kebijakan daerah.


Sementara itu, perwakilan Universiti Putra Malaysia (UPM), Lukman Hadi, menyampaikan bahwa tantangan peralihan dari kimia ke organik juga terjadi di Malaysia. Ia memperkenalkan Mr. Molic, penghalau serangga nabati 100 persen berbahan ekstrak tumbuhan yang telah digunakan secara luas di Malaysia.

“Produk ini siap dikomersialkan dan kami berharap bisa dikolaborasikan dengan praktik organik di Indonesia,” ujarnya.

Organik sebagai Gerakan Peradaban

Sebagai penutup, Ir. Soekirman menegaskan bahwa pertanian organik bukan sekadar metode produksi, melainkan gerakan peradaban untuk menjaga bumi dan kedaulatan pangan. Berdasarkan pengukuran lapangan, produktivitas padi organik di demplot tersebut mencapai sekitar 7,1 ton per hektare, sebuah capaian yang menepis anggapan bahwa organik identik dengan hasil rendah.


“Organik memang butuh kesabaran, tapi hasilnya nyata: tanah lestari, biaya turun, petani sehat, dan pangan aman,” tegas Soekirman.

Panen raya ini diharapkan menjadi titik tolak replikasi pertanian organik di Sumatera Utara dan daerah lain di Indonesia sebagai jawaban atas tantangan krisis pangan dan perubahan iklim global.red


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama