Jakarta -Di Malaysia, sosoknya dihormati sebagai "Ibu Negara" yang paling dicintai. Namun, jauh di lubuk hatinya dan silsilah keluarganya, mengalir darah petarung dari sebuah nagari di Sumatera Barat. Tun Dr. Siti Hasmah binti Mohamad Ali bukan sekadar pendamping setia Mahathir Mohamad; ia adalah representasi kegigihan genetik perantau Minangkabau yang berhasil mengubah sejarah di negeri orang.
Bagi masyarakat Koto Rajo, Rao, Kabupaten Pasaman, nama Siti Hasmah adalah kebanggaan yang melintasi batas negara. Inilah kisah seorang putri asal Pasaman yang mendobrak tradisi dan menjadi pilar penting pembangunan Malaysia.
Dinasti Intelektual dari Koto Rajo
Lahir di Klang, Selangor, pada 12 Juli 1926, Siti Hasmah tumbuh dalam asuhan pasangan Mohamad Ali bin Mohd Taib dan Siti Khalijah binti Ahmad. Keduanya merupakan perantau murni asal Koto Rajo, Rao, Pasaman.
Keluarga ini adalah bukti nyata keberhasilan filosofi Minangkabau: merantau dan mengutamakan pendidikan. Tak heran jika saudara-saudara Siti Hasmah menjadi tokoh kunci di Malaysia:
Ismail Mohamad Ali: Sang arsitek ekonomi yang menjabat Gubernur Bank Negara Malaysia.
Mohamed Hashim Mohamad Ali: Jenderal bintang empat mantan Panglima Tentara Darat Malaysia.
Ahmad Razali Mohamad Ali: Politisi senior mantan Menteri Besar Selangor.
Dokter Wanita Melayu Pertama yang Mendobrak Sekat
Jauh sebelum suaminya menjadi Perdana Menteri, Siti Hasmah sudah mengukir prestasi monumental. Pada tahun 1955, di saat akses pendidikan bagi perempuan masih sangat terbatas, ia berhasil lulus sebagai dokter dari King Edward VII College of Medicine (Singapura).
Capaian ini menjadikannya salah satu wanita Melayu pertama yang menyandang gelar dokter. Menariknya, ia tidak memilih jalur karier yang nyaman. Siti Hasmah memilih terjun ke pelosok desa, mengabdi di dinas kesehatan pemerintah untuk memperbaiki taraf hidup ibu dan anak. Dedikasi lapangan inilah yang membentuk karakternya sebagai sosok yang rendah hati dan merakyat.
Kesetiaan di Samping Sang Maestro Politik
Menikah dengan Mahathir Mohamad pada tahun 1956, Siti Hasmah menjadi "jangkar" bagi sang negarawan besar. Selama dua periode kepemimpinan Mahathir (Perdana Menteri ke-4 dan ke-8), Siti Hasmah dikenal sebagai sosok yang teduh di tengah badai politik yang kerap menerjang suaminya.
Ia bukan sekadar pendamping protokoler. Siti Hasmah aktif sebagai pejuang isu anti-narkoba dan pemberdayaan perempuan. Berkat dedikasi tanpa pamrihnya, ia dianugerahi gelar "Tun", gelar kehormatan sipil tertinggi yang hanya diberikan kepada mereka yang memiliki jasa luar biasa bagi negara Malaysia.
Jembatan Dua Bangsa: Dari Pasaman untuk Dunia
Meski kini menetap di Malaysia, eksistensi Tun Dr. Siti Hasmah adalah pengingat abadi tentang eratnya hubungan darah antara Sumatera Barat dan Malaysia. Kisahnya membuktikan bahwa nilai-nilai luhur yang ditanamkan dari keluarga Pasaman—intelektualitas, budi pekerti, dan kerja keras—mampu melahirkan pemimpin yang membawa perubahan.
Beliau bukan hanya milik Malaysia, tetapi juga menjadi simbol kehebatan Urang Awak di panggung dunia. Sebuah bukti bahwa dari sudut kecil di Pasaman, bisa lahir tokoh yang pengaruhnya dirasakan hingga ke seluruh pelosok Asia Tenggara. (Wikipedia)

Posting Komentar