Oleh : Rangkuti. T
I. Latar Belakang: Sebuah Pertanyaan yang Mengusik
Dalam sebuah forum bedah buku di salah satu kampus ternama di Kota Medan, ketika membedah buku "Linimasa Deli dan Sekitarnya" dan sekaligus mendiskusikan buku ringan tentang Guru Patimpus sebagai pendiri kota, ruangan dipenuhi para doktor dan profesor dari berbagai disiplin.
Penulis melemparkan pertanyaan sederhana namun menentukan:
“Adakah dari Bapak dan Ibu yang mengetahui dua istilah berbahasa Portugis ini — Tera dan Rheinos?”
Ruangan hening. Tak ada jawaban.
Padahal dua istilah inilah kunci untuk memahami bagaimana peta-peta kuno Portugis menggambarkan kawasan Aru/Haru di pesisir timur Sumatera. Tanpa memahami dua istilah ini, pembacaan kita terhadap Aru, Melayu, dan relevansinya dengan Medan masa kini menjadi bias.
II. Memahami Istilah “Tera” dan “Rheinos” dalam Peta Portugis
Dalam kartografi Portugis abad ke-16:
Terra (Tera) berarti “tanah” atau wilayah geografis.
Reinos (Rheinos) berarti “kerajaan” atau entitas politik berdaulat.
Ketika peta Portugis menuliskan “Terra de Aru”, itu menunjuk pada wilayah geografis Aru.
Ketika tertulis “Reinos de Aru”, itu menunjuk pada entitas politiknya.
Perbedaannya sangat penting. Kenapa ?
Karena Aru bukanlah monarki tunggal seperti dinasti Eropa. Ia lebih menyerupai konfederasi multi-pemimpin — struktur sosial-politik yang masih dapat kita lihat jejaknya pada masyarakat Karo, Mandailing, Toba, Pakpak, dan kelompok pedalaman lainnya: banyak raja dalam berbagai tingkatan, bukan satu raja absolut.
Dengan memahami Terra dan Reinos, kita memahami bahwa Aru adalah: Wilayah luas berbasis sungai dan jalur air
Struktur politik multi-suku
Entitas yang lentur dan konfederatif
Dan pola itu, dalam bentuk yang lebih longgar, masih hidup dalam adat hingga kini.
III. Medan dalam Catatan 1823: Sebuah Kampung Kecil
Dalam Mission to the East Coast of Sumatra karya John Anderson, Medan digambarkan secara sederhana:
Kampung kecil
±200 jiwa
Dihuni orang “Karau” (Karo) dan Melayu
Berada di pertemuan Sungai Deli dan Babura
Sepanjang alur sungai terdapat kampung-kampung kecil yang dipimpin datuk
Artinya, pada 1823:
Medan belum kota.
Belum pusat politik.
Belum pusat ekonomi besar.
Ia hanya satu simpul kecil dalam lanskap sungai Deli.
IV. Hipotesis Linimasa: Melayu Adalah Proses, Bukan Asal Tunggal
Dalam buku Linimasa Deli, hipotesis penting menyatakan:
Kemelayuan di pesisir timur Sumatera adalah hasil asimilasi panjang antara:
1. Etnik pedalaman (Karo, dsb.)
2. Migrasi Melayu-Sriwijaya dari Sumatera Selatan
3. Dampak geopolitik serangan Chola ke Sriwijaya (abad ke-11)
Melayu pesisir bukan identitas primordial statis. Ia produk sejarah maritim Selat Malaka.
V. Era Aru / Haru: Struktur Politik Konfederatif
Selama ratusan tahun, Kerajaan Aru (Haru) menguasai jalur sungai dan pesisir.
Ciri pentingnya:
1. Multi-pemimpin
2. Struktur adat
3. Islam sudah hadir, tapi belum total dalam praktik.
4. Ekonomi perdagangan + sea raiding
Identitas belum sepenuhnya Melayu-Islam
Aru sering berperang melawan Kesultanan Aceh dan berkali-kali kalah.
VI. Dominasi Aceh dan Kristalisasi Melayu-Islam
Dalam periode dominasi Aceh:
1. Islamisasi menjadi lebih formal
2. Struktur politik menjadi lebih terintegrasi
3. Identitas Melayu dan Islam melebur
Di pesisir timur era hegemoni kesultsnan Aceh.
Melayu = Islam
Islam = Melayu
Ini bukan sekadar agama, tetapi legitimasi politik dan sosial.
Dan di sinilah kristalisasi identitas regional terjadi.
VII. Lahirnya Medan Modern: Peran Kolonial Belanda
Mari kita jujur secara historis: Medan sebagai kota modern lahir karena kapitalisme kolonial Belanda abad ke-19.
Perkebunan tembakau Deli:
1.Infrastruktur jalan dan rel
2.Migrasi Jawa, Tionghoa, India
3.Administrasi modern
4.Pelabuhan Belawan
Kemudian pusat pemerintahan Kesultanan Deli berpindah ke kota baru itu.
Artinya:
Kolonial membentuk kota fisik modern.
Namun ia membangun di atas struktur Melayu-Islam yang sudah mapan.
VIII. Periodisasi Sejarah Medan Secara Objektif
Pra-Melayu → Komunitas sungai pedalaman
Aru/Haru → Konfederasi politik multi-suku
Dominasi Aceh → Kristalisasi Melayu-Islam
1823 → Medan kampung kecil (±200 jiwa)
1860–1918 → Kota kapital kolonial
Pasca 1945 → Kota nasional Indonesia
VIII. Kesimpulan Akhir: Medan Kota Siapa?
Jika ditanya secara jujur dan ilmiah:
Secara simbolis → Guru Patimpus
Secara etnogenetik → hasil asimilasi pedalaman & Melayu-Sriwijaya
Secara politik Islam → kristalisasi era Aceh
Secara fisik modern → dibentuk kolonial Belanda
Secara nasional → milik Republik Indonesia
Namun yang paling menentukan wajah kultural Medan hingga kini adalah fase Kemelayuan Islam di pesisir timur.
Ia adalah lapisan terakhir yang mengkristalkan identitas regional sebelum masuknya kapitalisme kolonial.
IX. Penutup: Tokoh Tunggal Hanyalah Simbolis
Menempatkan satu tokoh sebagai “pendiri” memang penting untuk identitas kota. Tetapi sejarah Medan adalah sejarah berlapis, bukan sejarah titik nol.
Guru Patimpus sah sebagai simbol.
Namun Medan modern adalah hasil:
1. Geografi sungai
2. Konfederasi Aru
3. Dominasi Aceh
4. Kristalisasi Melayu-Islam
5. Kapitalisme kolonial
6. Negara Indonesia
Tokoh historis tunggal hanyalah simbolis.
Sejarah sesungguhnya adalah proses panjang peradaban.
Dan memahami istilah sederhana seperti Terra dan Reinos saja sudah cukup untuk membuka bahwa sejarah kita jauh lebih kompleks daripada yang sering diajarkan. #RT
Photo : Penulis thn 2009

Posting Komentar