Tragedi di Ngada: Bocah 10 Tahun Tinggalkan Surat Terakhir untuk Ibu, Potret Sunyi Kemiskinan dan Luka Sosial

 


Ngada, NTT – Tragedi memilukan kembali mengguncang nurani publik. YBS (10), siswa laki-laki kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), ditemukan meninggal dunia pada Kamis (29/1) siang di sekitar area kebun dekat pondok sederhana tempat ia tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun.

Korban diketahui hidup dalam keterbatasan ekonomi dan diasuh oleh sang nenek sejak lama. Kondisi tersebut diduga kuat memberi tekanan psikologis yang berat bagi korban, di usia yang seharusnya dipenuhi harapan dan perlindungan.

Dalam proses olah tempat kejadian perkara, aparat kepolisian menemukan sepucuk surat tulisan tangan yang diduga ditujukan untuk ibunya. Surat tersebut ditemukan tidak jauh dari lokasi dan ditulis menggunakan bahasa daerah Ngada, memperlihatkan kepolosan sekaligus beban batin yang tak terucap.

Berikut kutipan isi surat korban yang telah diterjemahkan:

“Surat untuk Mama Reti.

Mama, saya pergi dulu.

Mama, relakan saya pergi.

Jangan menangis, Mama.

Mama, saya pergi.

Tidak perlu Mama menangis dan merindukan saya.

Selamat tinggal, Mama.”

Isi surat tersebut menggambarkan kesedihan yang sunyi, sekaligus pesan perpisahan yang terlalu berat untuk ditanggung oleh seorang anak berusia 10 tahun. Tidak ada amarah, tidak pula tuntutan—hanya kepasrahan yang menyayat hati.

Peristiwa ini kembali menelanjangi wajah kemiskinan ekstrem dan lemahnya sistem perlindungan anak, khususnya di wilayah-wilayah yang masih tertinggal. Pendidikan yang seharusnya menjadi jalan keluar dari kemiskinan, justru berubah menjadi sumber tekanan akibat keterbatasan ekonomi keluarga.

Pengamat sosial dan pemerhati anak menilai, kasus ini bukan tragedi individual semata, melainkan cerminan kegagalan kolektif—ketika negara, lingkungan, dan sistem sosial terlambat hadir untuk anak-anak paling rentan.

Tragedi YBS menjadi pengingat keras bahwa kemiskinan bukan sekadar statistik, melainkan realitas yang dapat merenggut masa depan, bahkan nyawa anak-anak. Negara dan seluruh elemen masyarakat dituntut untuk memastikan tidak ada lagi anak yang merasa sendirian dan tak punya pilihan.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama