BAYANG-BAYANG KEKUASAAN JOKOWI DAN SANDRA POLITIKNYA.

 


Oleh: Saiful Huda Ems.


Masalah kontroversi ijazah palsu Jokowi jadi lama, berlarut-larut dan sangat membosankan itu bukan karena kesalahan Polisi, bukan pula kesalahan para penggugatnya, melainkan semata karena ulah Jokowi sendiri yang sampai saat ini tidak mau menunjukkan ijazahnya. Jadi Jokowi sendiri yang bikin runyam masalah ijazahnya, yang diyakini banyak orang sebagai ijazah palsu ini. Kecuali oleh orang yang sudah dapat parcel. 


Terus kalau dibilang Jokowi saat ini sudah tidak lagi memiliki kekuasaan apa-apa, ya itu sangat ngawur juga. Kan anaknya Jokowi, Gibran Rakabuming Raka masih jadi Wakil Presiden? Dan menteri-menteri yang dititipkan oleh Jokowi di kabinet Merah Putihnya Prabowo Subianto, masih bolak-balik ke Jokowi di Solo?. Kalau dikatakan mereka hanya mau bersilaturrahmi, kenapa pula mereka kalau mau ketemu Jokowi di rumahnya di Solo sering sembunyi-sembunyi? 


Jadi para menteri Kabinet Merah Putihnya Prabowo itu ke Solo menemui Jokowi, tujuannya itu entah karena meminta petunjuk pada Jokowi, ataukah mereka mau menyampaikan pesan dari Jokowi untuk dilaksanakan oleh Pemerintahan Prabowo Subianto. Maka oleh sebab itulah selalu saya katakan, bahwa Jokowi itu orang yang sangat tidak tahu diri, tidak tahu malu dan serakahnya luar biasa. Sudah tidak lagi jadi presiden namun masih suka turut campur urusan politik kekuasaan, serta mengintervensi berbagai kebijakan pemerintahan Prabowo Subianto, melalui anaknya (Wapres) dan menteri-menteri titipannya. 


Sayangnya Presiden Prabowo Subianto tidak punya keberanian untuk memutus mata rantai kekuasaan dari Solo ke Jakarta ini, sebab bisa jadi, sekali lagi bisa jadi atau patut diduga, Presiden Prabowo Sendiri merupakan "Tahanan Istana" dari "KPK Bayangan" Jokowi. Proyek-proyek strategis nasional di masa pemerintahan Jokowi yang nilainya ratusan bahkan ribuan triliun rupiah, sepertinya ada yang "menyangkut" di kaki Pak Prabowo Subianto yang ketika itu menjadi Menhan, maka dengan mudahlah Jokowi mengendalikan dan memainkan sandera politiknya ini. 


Semua yang saya tulis itu hanya analisa politik saya saja, jangan kait-kaitkan dengan hal-hal lainnya, dan jangan katakan lagi saya Anak Abah. Karena tidak ada satu riwayat atau bukti apapun saya pernah mendukung Anies Baswedan, kecuali hanya sekali saya pernah memberikan analisa soal kemungkinan Anies Baswedan akan diusung oleh PDIP menjadi Calon Gubernur DKI Jakarta 2024. Itu dulu hanya sebuah analisa saya saja, yang belum tentu berarti sebuah dukungan saya untuknya. 


Saya hanya pernah bertemu Anies Baswedan satu kali, secara tidak sengaja dan foto bersama di acaranya Srikandi Indonesia di abad modern, Prof. Connie Rahakundini Bakrie, di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Selain itu Ketua Umum Partainya Anies Baswedan (Partai Gerakan Rakyat) yang namanya Sahrin Hamid, itu dahulu sahabat saya, dan kuliah di satu kampus yang sama, Universitas Islam Bandung (UNISBA), serta pernah aktif di organisasi yang sama: HMI. 


Demikian...Wallahu a'lamu bisshawab...(SHE).


28 Maret 2026.


Saiful Huda Ems (SHE).

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama