Medan, – Narasi sejarah lokal kembali mencuat setelah beredarnya infografis bertajuk perjalanan dari Sultan Bahadur Shah hingga penamaan “Jalan Badur” di Kota Medan. Infografis tersebut menyoroti jejak panjang perlawanan anti-kolonial yang berakar dari India Barat hingga Tanah Deli.
Dalam infografis itu dijelaskan sosok Sultan Bahadur Shah, penguasa Gujarat yang memerintah pada 1526–1537. Ia dikenal sebagai pemimpin tangguh yang menentang dominasi Portugis pasca jatuhnya Kejatuhan Malaka 1511. Perlawanan tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah anti-kolonial di kawasan Asia.
Namun, kisah tragis mengiringi perjuangannya. Pada 1537, Bahadur Shah disebut tewas akibat pengkhianatan dalam sebuah perundingan dengan gubernur Portugis di Diu, Nuno da Cunha. Ia dikabarkan dikeroyok dan tenggelam oleh pelaut Portugis, menandai akhir kepemimpinannya.
Kematian Bahadur Shah justru memicu terbentuknya aliansi perlawanan global yang melibatkan Kesultanan Utsmaniyah, Aceh, dan Gujarat. Dalam infografis disebutkan, jalur Istanbul–Aceh–Gujarat menjadi poros bantuan militer, termasuk pengiriman meriam ke Aceh sebagai bagian dari strategi melawan kekuatan kolonial.
Masuk ke abad berikutnya, gelombang diaspora pedagang Gujarat ke Medan pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 turut membawa identitas sejarah tersebut. Nama Bahadur kemudian diyakini menjadi simbol perlawanan yang hidup dalam ingatan komunitas.
Salah satu jejaknya disebut tercermin dalam penamaan “Jalan Badur” di kawasan Kampung Anggrung. Dalam infografis, istilah “Badur” dijelaskan sebagai bentuk penyederhanaan lisan dari “Bahadur Shah”.
Wacana ini mendorong sejumlah pihak untuk mengusulkan penambahan keterangan sejarah pada nama jalan tersebut agar tidak kehilangan makna. Ajakan juga ditujukan kepada Pemerintah Kota Medan untuk memperkuat narasi sejarah lokal melalui ruang publik.
Selain itu, isu dekolonisasi ruang publik turut diangkat. Upaya ini dinilai penting untuk melawan amnesia sejarah serta menjaga memori kolektif Medan sebagai kota kosmopolitan yang memiliki jejak panjang perlawanan terhadap kolonialisme.
Infografis ini pun memantik diskusi publik, khususnya di kalangan pemerhati sejarah dan masyarakat urban, mengenai pentingnya pelestarian narasi sejarah lokal yang selama ini kurang terekspos.
Dengan munculnya kembali kisah ini, diharapkan generasi muda dapat lebih mengenal akar sejarah kota Medan, sekaligus memahami keterkaitannya dengan dinamika global di masa lalu.

Posting Komentar