Oleh: H. Syahrir Nasution
Di tengah dinamika politik global yang kian memanas, terutama terkait konflik di Timur Tengah, kerap muncul penyederhanaan bahkan pencampuradukan istilah yang tidak tepat. Salah satu yang sering terjadi adalah penyamaan antara Syiah dan Iran, seolah-olah keduanya merupakan entitas yang sama. Padahal, secara konsep maupun realitas, keduanya berbeda secara mendasar.
Syiah adalah mazhab dalam Islam. Dalam khazanah keilmuan Islam, mazhab berarti aliran atau metode pemahaman dalam menjalankan ajaran agama. Sebagaimana dikenal mazhab-mazhab fikih seperti Mazhab Syafi’i, Mazhab Hambali, dan Mazhab Hanafi, demikian pula Syiah merupakan salah satu mazhab dalam tradisi Islam. Ia berbicara tentang pendekatan teologis dan fikih, bukan tentang bentuk negara.
Sementara itu, Iran adalah sebuah negara berdaulat yang secara resmi bernama Republik Islam Iran. Sistem pemerintahannya berbentuk republik dengan karakteristik Islam sebagai dasar konstitusionalnya. Memang benar bahwa mayoritas penduduk Iran menganut mazhab Syiah, tetapi hal tersebut tidak menjadikan Syiah sebagai negara, ataupun Iran sebagai representasi tunggal seluruh penganut Syiah di dunia.
Perlu ditegaskan bahwa Syiah bukanlah negara yang mewakili seluruh kaum Syiah sedunia. Sama halnya seperti Mazhab Syafi’i bukanlah sebuah negara, meskipun sebagian besar umat Islam di Indonesia menganut Mazhab Syafi’i. Mazhab adalah ranah keyakinan dan metodologi keagamaan, sedangkan negara adalah entitas politik dengan sistem pemerintahan, wilayah, dan kepentingan geopolitik.
Pencampuradukan antara mazhab dan negara dapat menimbulkan kesalahan analisis, bahkan memicu kesalahpahaman sosial dan politik. Dalam konteks geopolitik misalnya, konflik antara Iran dan Israel sering kali dibingkai dengan narasi sektarian. Ada propaganda yang menyederhanakan persoalan dengan logika “Syiah = Israel”. Namun jika kita melihat fakta di lapangan, justru yang terjadi adalah sebaliknya: Iran dan Israel berada dalam posisi konflik terbuka dan rivalitas strategis.
Secara geopolitik, hubungan antarnegara ditentukan oleh kepentingan nasional, strategi keamanan, serta kalkulasi politik internasional, bukan semata-mata oleh kesamaan atau perbedaan mazhab. Oleh sebab itu, menyederhanakan konflik negara menjadi persoalan mazhab adalah kekeliruan analisis yang dapat menyesatkan opini publik.
Dalam situasi global yang kompleks, masyarakat perlu lebih cermat membedakan antara identitas keagamaan dan entitas kenegaraan. Memahami perbedaan ini bukan hanya soal ketepatan istilah, tetapi juga bagian dari upaya menjaga kejernihan berpikir, menghindari propaganda, serta memperkuat literasi geopolitik di tengah arus informasi yang begitu deras.
Akhirnya, mari kita tempatkan persoalan pada proporsinya: Syiah adalah mazhab dalam Islam, sedangkan Iran adalah negara berdaulat dengan sistem politiknya sendiri. Keduanya tidak bisa dan tidak seharusnya dipertukarkan secara serampangan dalam narasi publik.

Posting Komentar