Sejarah Medan Jangan Disederhanakan: Identitas Kota Harus Diluruskan

 


Oleh: H. Syahrir Nasution

Pernyataan yang menyederhanakan identitas Kota Medan sebagai “kota Batak” dinilai sebagai pandangan yang naif dan tidak berpijak pada fakta sejarah. Dalam catatan perjalanan berdirinya kota ini, tidak pernah ditemukan penggunaan kata “Batak” sebagai akar penamaan maupun identitas awal Medan.

Sebaliknya, sejarah menunjukkan bahwa Kota Medan lahir dari perpaduan kuat antara budaya Karo dan Melayu Deli. Hal ini menjadi dasar penting yang tidak boleh diabaikan, apalagi dipelintir dalam narasi publik yang dapat menyesatkan generasi masa kini.

Menurut H. Syahrir Nasution, upaya meluruskan sejarah bukan untuk menegasikan kelompok tertentu, melainkan untuk menempatkan fakta pada posisi yang semestinya. Ia menegaskan bahwa identitas Kota Medan harus dilihat secara objektif berdasarkan akar sejarahnya.

“Kalau dikatakan Kota Medan itu Batak, itu sungguh naif dan harus diluruskan. Sejarah berdirinya kota ini jelas menunjukkan perpaduan Karo dan Melayu Deli,” tegasnya.

Selain itu, kuatnya pengaruh Melayu Deli tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai Islam yang mengakar dalam perjalanan sejarah Medan. Hal ini tercermin dari berbagai peninggalan bersejarah yang hingga kini masih berdiri kokoh dan menjadi ikon kota.

Salah satunya adalah Istana Maimun yang menjadi simbol kejayaan Kesultanan Deli. Bangunan bersejarah ini tidak hanya merepresentasikan kekuasaan politik masa lalu, tetapi juga memperlihatkan identitas budaya Melayu yang kental dengan nuansa Islam.

Tak jauh dari sana, berdiri pula Masjid Raya Al-Mashun yang hingga kini tetap difungsikan sebagai tempat ibadah umat Islam. Keberadaan masjid ini menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai Islam telah lama menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Medan.

Dengan demikian, narasi sejarah Kota Medan tidak dapat direduksi secara sempit. Kota ini tumbuh dari keberagaman, dengan akar kuat pada budaya Karo dan Melayu Deli serta pengaruh Islam yang signifikan.

Meluruskan sejarah, menurut H. Syahrir Nasution, adalah bagian dari tanggung jawab moral agar identitas kota tidak terdistorsi oleh persepsi yang keliru. Ia juga mengajak semua pihak untuk lebih bijak dalam memahami sejarah, serta menghargai keberagaman yang menjadi fondasi Kota Medan hingga saat ini.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama