Medan -Peristiwa eksekusi rumah di Jalan Kenanga pada 14 April 2026 bukan sekadar catatan hukum dalam perkara perdata warisan. Ia adalah cermin retaknya nilai, goyahnya kearifan lokal, dan terkikisnya etika dalam relasi kekerabatan masyarakat Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel). Di balik peristiwa itu, berdiri satu sosok yang selama ini justru dikenal sebagai penjaga nilai-nilai kemanusiaan: Dr. Badjora M. Siregar.
Bagi banyak orang, beliau bukan hanya seorang dokter. Ia adalah pelayan masyarakat, dermawan, tokoh pendidikan, dan figur publik yang mengabdikan hidupnya untuk kebaikan bersama. Namun lebih dari itu, bagi sebagian masyarakat—termasuk saya sebagai seorang Pujakesuma, putri Jawa yang lahir dan besar di Sumatra—beliau adalah simbol hidup dari kearifan lintas budaya. Sosok yang menghadirkan kehangatan, keadilan, dan ketulusan tanpa memandang latar belakang.
Tidak berlebihan jika kita menyebut beliau sebagai Ki Hajar Dewantaranya Tapanuli.
Seperti Ki Hajar Dewantara yang memperjuangkan pendidikan sebagai jalan kemerdekaan, Dr. Badjora M. Siregar juga menjadikan pendidikan sebagai ladang pengabdian. Semangat itu beliau warisi dari almarhum ayahnya, BM. Muda Siregar. Dalam praktiknya, beliau tidak hanya berbicara tentang pendidikan, tetapi menghadirkannya secara nyata—bahkan ketika fasilitas belum tersedia.
Ketika Nurul Ilmi baru berdiri dan belum memiliki ruang yang memadai, beliau membuka rumahnya. Memberikan tempat bagi anak-anak didik untuk belajar. Sebuah tindakan sederhana, namun sarat makna: bahwa pendidikan adalah hak, dan setiap anak berhak mendapat ruang untuk tumbuh.
Itulah bentuk kearifan yang sesungguhnya—bukan hanya dalam kata, tetapi dalam tindakan.
Sebagai seorang Pujakesuma, saya merasakan langsung bagaimana nilai-nilai kebaikan itu melampaui sekat etnis. Dalam diri beliau, saya melihat harmoni antara adat, agama, dan kemanusiaan. Beliau tidak hanya menjaga nilai Dalihan Natolu sebagai sistem sosial, tetapi juga menghidupkan ruhnya: menghormati, mengayomi, dan memuliakan sesama.
Ironisnya, peristiwa eksekusi yang terjadi justru menunjukkan sebaliknya. Relasi antara bere dan tulang yang seharusnya dijaga dengan penuh etika dan penghormatan, tergantikan oleh sikap arogan dan tindakan yang jauh dari nilai adat. Ini bukan hanya persoalan hukum—ini adalah krisis moral.
Ketika generasi mulai kehilangan pemahaman akan kearifan lokal, maka yang runtuh bukan hanya adat, tetapi juga rasa kemanusiaan.
Dr. Badjora M. Siregar adalah representasi dari generasi yang menjaga nilai itu tetap hidup. Sosok yang memberi, bukan mengambil. Yang membangun, bukan merusak. Yang merangkul, bukan memecah.
Karena itu, wajar jika banyak hati yang terluka melihat perlakuan yang beliau terima. Bukan semata karena kedudukannya, tetapi karena keteladanan yang selama ini beliau tunjukkan.
Hari ini, kita tidak hanya bicara tentang satu orang. Kita sedang bicara tentang arah peradaban: apakah kita masih ingin berdiri di atas nilai kearifan, atau membiarkannya roboh oleh ego dan kepentingan sesaat?
“Save Pak Dokter” bukan sekadar seruan emosional. Ia adalah panggilan nurani. Untuk menjaga sosok yang telah begitu banyak memberi. Untuk mempertahankan nilai yang hampir hilang. Dan untuk mengingatkan kita semua, bahwa manusia teladan seperti beliau adalah cahaya—yang seharusnya dijaga, bukan dipadamkan.
Dr. Badjora M. Siregar bukan hanya milik Tabagsel. Beliau adalah milik kita semua. Sosok teladan abad ini yang telah membuktikan bahwa kebaikan, jika dijalankan dengan tulus, akan selalu meninggalkan jejak—meski dunia kadang tak berlaku adil.

Posting Komentar