Dua Remaja Tewas Misterius, Dugaan Keterlibatan Oknum APH di Wilkum Medan Tembung Mencuat

 



DELI SERDANG – Kematian dua remaja, masing-masing berinisial Alfat rIsky (Alfath Rizky) dan S, memicu sorotan publik setelah muncul dugaan keterlibatan oknum aparat penegak hukum (APH) dalam insiden yang terjadi pada Selasa malam (7/4/2026).

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari warga, peristiwa bermula saat tiga remaja berinisial D, Alfa, dan S keluar pada malam hari. Ketiganya disebut sempat berada di kawasan Jalan Pancing sebelum diduga dikejar oleh oknum APH.

Pengejaran itu berlanjut hingga ke Jalan Letda Sujono, tepatnya di sekitar kawasan sekolah Prayatna yang masuk wilayah hukum Kepolisian Sektor Medan Tembung. Di lokasi tersebut, kendaraan yang ditumpangi ketiga remaja diduga dipepet bahkan ditabrak oleh kendaraan petugas yang tengah bertugas malam.

Akibat insiden itu, ketiganya terjatuh ke parit di pinggir jalan. Namun, menurut keterangan warga, kondisi mereka saat keluar dari parit masih dalam keadaan sadar.

“Setelah itu yang jadi pertanyaan, kenapa akhirnya ada yang meninggal. Karena katanya sempat terjadi dugaan penganiayaan,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.

Alfat, yang diketahui merupakan Ketua Remaja Masjid Istiqomah, warga Batang Kuis, dilaporkan meninggal dunia pada malam kejadian. Sementara rekannya berinisial S, warga Mandala, disebut menghembuskan napas terakhir sehari setelahnya, Kamis (9/4/2026).

Satu-satunya yang selamat, yakni remaja berinisial D, telah kembali ke rumahnya. Namun, pengakuannya memunculkan polemik baru. D disebut mengaku sempat diminta membuat pernyataan di kantor polisi yang menyebutkan bahwa kejadian tersebut merupakan kecelakaan lalu lintas.

“Katanya dia terpaksa menandatangani surat itu. Ini yang membuat kami curiga,” ungkap sumber lain di lingkungan tempat tinggal korban.

D juga dikabarkan menyesali kejadian tersebut, lantaran dirinya yang mengajak kedua rekannya keluar pada malam naas itu.

Sejumlah pihak kini mempertanyakan apakah peristiwa tersebut diketahui atau terekam oleh pihak Polsek Medan Tembung, mengingat lokasi kejadian berada dalam wilayah hukumnya dan melibatkan dugaan kendaraan patroli.

Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait kronologi pasti kejadian, termasuk klarifikasi atas dugaan pengejaran, penabrakan, maupun penganiayaan terhadap para korban.

Masyarakat mendesak agar Kepolisian Daerah Sumatera Utara dan Kepolisian Negara Republik Indonesia segera turun tangan melakukan penyelidikan secara transparan dan independen.

Kasus ini menjadi perhatian luas karena menyangkut keselamatan warga sipil dan dugaan penyalahgunaan wewenang oleh aparat. Publik kini menanti kejelasan, apakah insiden tersebut murni kecelakaan atau ada fakta lain yang belum terungkap.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama