Jakarta – Keputusan Vicky Katiandagho untuk menanggalkan seragam kepolisian menuai perhatian publik. Langkah yang dinilai tak biasa itu justru mendapat dukungan penuh dari keluarga, terutama sang istri yang setia berdiri di belakangnya.
“Bukan seragam atau pangkatnya yang membuatku jatuh hati, melainkan jiwanya yang seharum aroma kopi di pagi hari—pahit namun jujur,” tutur sang istri, sembari menatap suaminya dengan penuh kebanggaan.
Bagi keluarga, keputusan tersebut bukanlah bentuk kemunduran, melainkan kemenangan moral. Sang istri menegaskan bahwa keberkahan hidup jauh lebih penting dibanding jabatan dan status.
“Vicky membuktikan bahwa keberkahan keluarga tak bisa ditukar dengan kedudukan. Kami berdiri tegak di belakangnya. Apapun jalan yang ia tempuh, selama itu halal, itulah surga bagi kami,” ujarnya.
Simbol Dilepas, Prinsip Tetap Dijaga
Dikenal sebagai sosok polisi berdedikasi, Vicky Katiandagho juga kerap mencuri perhatian dengan penampilannya yang khas, termasuk rambut panjangnya yang ikonik. Namun di balik itu, ia dikenal sebagai pribadi yang memegang teguh nilai integritas.
Keputusan untuk mengakhiri pengabdian di Kepolisian Negara Republik Indonesia disebut bukan tanpa alasan. Ia dikabarkan menghadapi mutasi yang dianggap janggal, tepat saat tengah mengusut dugaan kasus korupsi.
“Seragam mungkin hanya simbol, namun keberkahan adalah warisan abadi untuk anak cucu,” ungkapnya tegas.
Kejujuran di Atas Segalanya
Bagi Vicky, kejujuran adalah prinsip yang tidak bisa ditawar. Ia memilih meninggalkan jabatan daripada harus berkompromi dengan hal yang bertentangan dengan nuraninya.
“Pahitnya kejujuran jauh lebih terhormat daripada manisnya harta yang tak jelas asalnya,” tegasnya.
Sang istri pun menegaskan bahwa perjuangan suaminya tidak akan berhenti, meski tanpa atribut kepolisian.
“Kami tahu betapa ia mencintai institusinya, tapi kami lebih mencintai keberkahan hidup kami. Vicky akan tetap berjuang untuk masyarakat, meski tanpa lencana di dada,” katanya.
Kisah Vicky Katiandagho menjadi pengingat bahwa jabatan dan status bisa hilang sewaktu-waktu, namun harga diri dan integritas adalah nilai yang akan selalu abadi. Keputusan mundur yang diambilnya justru menjadi langkah maju untuk tetap berdiri sebagai pribadi yang utuh dan berprinsip.

Posting Komentar