“Universitas Mulai Kehilangan Keberanian Moral”

 


Medan - Tokoh pemerhati pendidikan, H Syahrir Nasution, menilai dunia kampus saat ini mulai menghadapi tantangan serius dalam menjaga independensi dan keberanian moral sebagai pusat lahirnya gagasan-gagasan kritis demi masa depan bangsa.

Menurutnya, universitas pada hakikatnya merupakan “rumah besar kemerdekaan berpikir” bagi anak bangsa serta kaum intelektual akademis untuk melahirkan pemikiran yang jernih, objektif, dan konstruktif tanpa intimidasi dari pihak luar kampus, termasuk campur tangan kekuasaan.

“Universitas itu tempat insan akademik menorehkan gagasan dan pemikiran demi kemajuan negara. Kampus tidak boleh kehilangan keberanian moralnya hanya karena tekanan atau intervensi pihak tertentu,” ujar Syahrir, Kamis (22/5/2026).

Ia menegaskan, sepanjang kebijakan dan dinamika internal perguruan tinggi masih berada dalam koridor kepentingan bangsa dan negara, maka tidak boleh ada intervensi yang menghambat kebebasan akademik, baik melalui tekanan administratif maupun tindakan represif terhadap civitas akademika.

Menurut Syahrir, kebebasan berpikir di lingkungan kampus merupakan fondasi utama dalam membangun masyarakat yang cerdas, demokratis, dan berkeadaban. Karena itu, kampus harus tetap menjadi ruang aman bagi mahasiswa, dosen, peneliti, dan seluruh insan akademik untuk menyampaikan pandangan ilmiah secara terbuka.

“Kerangka berpikir akademis harus tetap hidup dan dekat dengan realitas masyarakat. Sebab, apa pun dalihnya, berpikir di kampus tidak boleh dikriminalisasi,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa sejarah menunjukkan perubahan besar dalam kehidupan berbangsa sering lahir dari keberanian moral kalangan akademisi dan mahasiswa dalam menyuarakan kebenaran.

Karena itu, Syahrir berharap seluruh elemen bangsa dapat menjaga marwah perguruan tinggi sebagai benteng intelektual yang bebas, independen, dan tetap berpihak pada kepentingan rakyat serta masa depan Indonesia.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama