Oleh: H Syahrir Nasution
Salah satu ciri utama seorang intelektual adalah menjunjung tinggi kebenaran sejak dari cara berpikirnya. Seorang intelektual tidak mudah larut dalam euforia, tidak pula terbawa arus propaganda. Ia menempatkan fakta, data, dan analisis di atas kepentingan sesaat. Karena itu, ketika sebuah rumor politik atau ekonomi beredar luas di media sosial, seorang intelektual akan bertanya: apa makna yang tersembunyi di balik rumor tersebut?
Belakangan ini kembali beredar rumor lama yang menyebut nama Chatib Basri akan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan. Menariknya, rumor yang beredar saat ini memiliki tambahan narasi bahwa Purbaya Yudhi Sadewa akan mendapat tugas baru sebagai Gubernur Bank Indonesia.
Terlepas dari benar atau tidaknya rumor tersebut, yang menarik justru adalah sosok Chatib Basri sendiri. Ia bukan nama baru dalam dunia ekonomi Indonesia. Chatib Basri pernah menjabat Menteri Keuangan pada akhir pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sebelum dan sesudah menjabat, ia dikenal sebagai seorang ekonom akademis yang berkiprah di dunia kampus dan riset.
Chatib Basri memiliki kesamaan dengan Sri Mulyani Indrawati karena sama-sama alumni Universitas Indonesia. Namun, perjalanan akademik keduanya kemudian berbeda. Sri Mulyani menempuh pendidikan lanjut di Amerika Serikat, sementara Chatib Basri mengembangkan kapasitas akademiknya di Australia, tepatnya di Australian National University (ANU), Canberra, yang dikenal sebagai salah satu pusat riset ekonomi terkemuka di kawasan Asia Pasifik.
Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian publik kembali tertuju kepada Chatib Basri melalui sejumlah tulisan dan pandangannya mengenai kondisi ekonomi Indonesia. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah ketika ia mengungkapkan fakta mengenai menyusutnya jumlah kelas menengah Indonesia dalam satu dekade terakhir.
Dengan gaya penulisan yang hati-hati, khas seorang akademisi, Chatib Basri menyampaikan sebuah kenyataan yang cukup mengguncang. Di tengah berbagai narasi keberhasilan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, ternyata jumlah masyarakat kelas menengah Indonesia mengalami penurunan yang signifikan.
Pernyataan tersebut membuka ruang diskusi yang lebih luas mengenai kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia. Selama bertahun-tahun, pertumbuhan ekonomi nasional berada di kisaran 5 persen. Angka itu kerap dipandang sebagai indikator keberhasilan. Namun pertanyaan mendasarnya adalah: siapa yang sebenarnya menikmati pertumbuhan tersebut?
Jika pertumbuhan ekonomi tidak mampu memperkuat kelas menengah, maka terdapat persoalan struktural yang harus dicermati. Sebab, di banyak negara maju, kelas menengah merupakan tulang punggung ekonomi nasional. Mereka menjadi motor konsumsi, investasi, pendidikan, dan stabilitas sosial-politik.
Menurunnya jumlah kelas menengah sesungguhnya menjadi sinyal bahwa manfaat pertumbuhan belum terdistribusi secara merata. Pertumbuhan mungkin terjadi, tetapi kualitas pertumbuhan itu sendiri perlu dipertanyakan. Apakah pertumbuhan hanya terkonsentrasi pada kelompok tertentu, atau benar-benar mengangkat kesejahteraan masyarakat secara luas?
Dalam teori pembangunan ekonomi, kondisi seperti ini sering dikaitkan dengan fenomena Middle Income Trap atau jebakan pendapatan menengah. Sebuah negara berhasil keluar dari kategori miskin, tetapi gagal melompat menjadi negara maju karena produktivitas stagnan, daya saing melemah, dan pertumbuhan tidak lagi mampu mendorong peningkatan kesejahteraan secara merata.
Indonesia tidak boleh terjebak dalam situasi tersebut. Pendapatan per kapita harus terus meningkat, kualitas lapangan kerja harus membaik, dan jumlah kelas menengah harus bertambah, bukan sebaliknya. Kelas menengah yang kuat merupakan fondasi penting menuju Indonesia sebagai negara maju.
Di sinilah pentingnya peran para intelektual. Tugas intelektual bukan sekadar memuji keberhasilan, melainkan juga mengingatkan ketika terdapat persoalan yang berpotensi menghambat masa depan bangsa. Kebenaran memang tidak selalu menyenangkan untuk didengar, tetapi tanpa keberanian mengungkap kebenaran, bangsa ini akan kehilangan kompas dalam menentukan arah pembangunan.
Karena itu, terlepas dari benar atau tidaknya rumor mengenai posisi Chatib Basri di pemerintahan, satu hal yang patut dicatat adalah pentingnya suara-suara intelektual yang berani menyampaikan realitas apa adanya. Sebab kemajuan sebuah bangsa tidak dibangun oleh pujian yang berlebihan, melainkan oleh keberanian melihat kenyataan dengan jujur dan mencari solusi berdasarkan akal sehat serta data yang dapat dipertanggungjawabkan.

Posting Komentar