Membangkitkan Tondi Mandailing Lewat Semangat Willem Iskander dan Sutan Takdir Alisjahbana



Oleh: H Syahrir Nasution 

Di tengah derasnya arus zaman, masyarakat Mandailing Natal (Madina) perlu kembali menoleh kepada akar sejarahnya sendiri. Sebab, jauh sebelum republik ini lahir, tanah Mandailing telah melahirkan tokoh-tokoh besar yang menjadikan pendidikan dan literasi sebagai jalan perubahan. Dua nama yang patut terus dihidupkan dalam ingatan kolektif adalah dan .

Keduanya hidup pada masa yang berbeda, namun memiliki satu kesamaan besar: keyakinan bahwa kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kualitas pendidikan, kemampuan berpikir, dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan.

Willem Iskander, putra terbaik Mandailing yang lahir di Tanobato, telah membuktikan bahwa pendidikan bukan sekadar proses belajar membaca dan menulis. Melalui Kweekschool Tanobato, ia berupaya mencetak guru-guru rakyat yang mampu menerangi kampung-kampung dengan ilmu pengetahuan. Baginya, guru adalah obor peradaban.

Sementara itu, Sutan Takdir Alisjahbana memandang bahasa, sastra, dan pendidikan sebagai instrumen utama untuk membangun manusia modern yang rasional, kreatif, dan terbuka terhadap perubahan. Ia percaya bahwa bangsa yang maju adalah bangsa yang menghargai ilmu, membaca buku, dan menjadikan pendidikan sebagai budaya hidup.

Pesan kedua tokoh ini sesungguhnya sangat relevan bagi Madina hari ini.

Kita harus jujur mengakui bahwa semangat membaca dan menuntut ilmu di tengah masyarakat perlahan mengalami tantangan. Anak-anak lebih akrab dengan layar gawai daripada buku. Diskusi intelektual semakin jarang terdengar. Perpustakaan sering sepi pengunjung. Padahal, buku adalah jendela dunia, sedangkan pendidikan merupakan jalan menuju kemajuan berpikir dan peradaban.

Masyarakat Batak pada umumnya dikenal memiliki gairah yang tinggi terhadap pendidikan. Semangat itu lahir dari kesadaran bahwa ilmu pengetahuan merupakan alat untuk mengubah nasib. Kesadaran yang sama pernah tumbuh kuat di bumi Mandailing ketika Willem Iskander menggerakkan rakyat untuk belajar dan menjadi guru.

Karena itu, sudah saatnya masyarakat Madina kembali membangkitkan tondi Mandailing—jiwa, semangat, dan harga diri kolektif yang pernah melahirkan tokoh-tokoh besar bangsa.

Tondi Mandailing tidak akan bangkit hanya dengan nostalgia terhadap kejayaan masa lalu. Ia harus diwujudkan melalui tindakan nyata: membiasakan membaca di rumah, memperkuat budaya literasi di sekolah, menghidupkan perpustakaan desa, mendorong anak-anak melanjutkan pendidikan setinggi mungkin, serta menjadikan diskusi dan pertukaran gagasan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Kemajuan suatu daerah tidak semata ditentukan oleh kekayaan alam atau besarnya anggaran pembangunan. Sejarah dunia menunjukkan bahwa kemajuan lahir dari kualitas manusianya. Daerah yang penduduknya gemar membaca, berpikir kritis, dan menghargai ilmu pengetahuan akan lebih cepat beradaptasi menghadapi perubahan zaman.

Warisan terbesar Willem Iskander bukanlah bangunan sekolah yang pernah berdiri di Tanobato, melainkan gagasan bahwa rakyat harus tercerahkan melalui pendidikan. Warisan terbesar Sutan Takdir Alisjahbana bukan hanya karya sastranya, melainkan keyakinan bahwa bangsa harus terus bergerak maju melalui ilmu, bahasa, dan kebudayaan.

Maka, jika kita ingin melihat Madina bangkit dan sejajar dengan daerah-daerah maju lainnya, langkah pertama yang harus dilakukan adalah membangkitkan kembali budaya membaca dan semangat belajar di tengah masyarakat.

Sebab peradaban besar selalu dimulai dari satu hal sederhana: membuka buku, membaca, lalu berpikir.

Dan sebagaimana telah dicontohkan oleh Willem Iskander dan Sutan Takdir Alisjahbana, pendidikan bukan sekadar jalan menuju pekerjaan, tetapi jalan menuju kemajuan manusia dan kemuliaan sebuah bangsa.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama