![]() |
Oleh: Zulkarnain Lubis
(Guru Besar UMA)
Ada empat pilar utama dalam membangun peradaban dan manusia Islami yang utuh. Pilar pertama yang menjadi fondasi bagi setiap muslim adalah *iman.* Iman merupakan hal penting dalam segala aspek kehidupan kehidupan. Iman adalah landasan keyakinan, landasan kokoh yang menentukan semuanya dan segalanya. Iman adalah cahaya terang yang mencapai hati dan sekaligus sebagai penerang bagi hati, sebagai petunjuk dan perekat kebahagiaan, serta tempat bergantungnya keselamatan di dunia dan akhirat. Iman memberikan inspirasi positif dan mewarnai jiwa manusia sehingga jelas tujuan hidup dan jalan yang ditempuhnya. Tanpa adanya iman, manusia akan terombang ambing tak tentu arah dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Iman meliputi satu kesatuan yang utuh, diyakini dalam hati, diucapkan lewat lisan, dan dibuktikan melalui amal perbuatan. Oleh karena itu, iman tidak akan mendatangkan kebahagiaan kecuali dengan mewujudkan keimanan tersebut dalam amal nyata yang berupa amal shalih. Demikian pula sebaliknya, seseorang yang bersungguh-sungguh dalam beramal shalih, namun jika dia tidak mempunyai iman, maka dia tidak akan mendapatkan kebaikan dalam hidupnya. Adanya iman dalam diri seseorang akan membangkitkan jiwanya untuk hijrah dari gelapnya dunia jahiliyah menuju terangnya dunia keimanan. Selanjutnya, iman seseorang akan tergambar dalam seluruh aspek kehidupan dan menjadi prinsip dasar dalam spiritualitas Islam yang terwujud dalam tingkah laku, perilaku, sikap, sifat, pandangan hidup, pola hidup, dan pola pikir seseorang. Iman juga bukan sekadar keyakinan pasif di dalam hati. Sebagai fondasi keyakinan kepada Allah, iman memiliki fungsi ganda yaitu sebagai motor penggerak berupa sumber motivasi spiritual dan sebagai pengontrol moral batin berupa rem moral internal yang mengarahkan tindakan seseorang agar tetap sejalan dengan nilai-nilai ketuhanan. Sebagai sumber motivasi spiritual, iman memberikan tujuan hidup yang jelas, dengan keyakinan kepada Allah akan mendorong seseorang untuk berbuat baik, memiliki harapan, dan tabah menghadapi cobaan karena adanya keyakinan akan nilai transenden di setiap perbuatannya. Dalam Al Qur’an surah _Al Ashr_ ayat 1-3 Allah menekankan bahwa seorang mukmin yang ingin hidupnya baik haruslah beriman dan beramal shalih (serta nasehat menasehati untuk mentaati kebenaran dan nasehat menasehati dalamn kesabaran), yang bunyinya adalah, _“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”_ Pada ayat lain pada surah _Al Nahl_ ayat 97, dinyatakan bahwa bagi laki-laki maupun perempuan yang beriman dan berbuat kebajikan, Allah memberikan kehidupan yang baik sebagai balasan atas kebajikan yang dilakukannya. Ayat tersebut berbunyi, _“Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan”_
Selanjutnya sebagai pengontrol atau rem moral bathin, iman menumbuhkan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi (Maha Melihat). Kesadaran ini menjadi filter batin yang kuat untuk mencegah seseorang melakukan perbuatan tercela. Dalam surah _Al Hujarat_ ayat 7, Allah berfirman bahwa cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah di hati manusia serta menjadikan kita benci kekafiran, kefasikan, yang berbunyi, _“……Allah menjadikanmu cinta kepada keimanan dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu serta menjadikanmu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan kebenaran.”_. Jadi, iman adalah kekuatan dan perisai untuk menangkis segala kemungkaran, kemaksiat dan perbuatan tercela lainnya. Orang beriman itu pada hakikatnya berusaha untuk tidak melakukan hal yang dapat merugikan dirinya sendiri maupun orang lain. Jika iman seseorang itu dalam keadaan baik, maka orang itu akan mencerminkan sifat-sifat terpuji, baik itu dalam sikap, perilaku maupun tutur katanya, begitu juga sebaliknya ketika iman seseorang tidak baik, maka cenderung mendekat kepada perbuatan buruk, maksiat, dan kemungkaran.
Dari uraian panjang lebar tentang iman di atas, dapat dikatakan bahwa iman tidak hanya berhenti pada aspek teologi saja, bukan pula sekadar keyakinan di dalam hati, namun sebagai prinsip yang harus dibuktikan melalui tindakan sehari-hari, termasuk di dalamnya berupa aspek sosial yang merupakan implementasi dari keimanan tersebut, sehingga iman mempunyai pengaruh terhadap kehidupan seseorang, baik itu secara individu ataupun sosial. Dengan kata lain, iman adalah unsur pokok dalam keberagamaan manusia dan menjadi penggerak bagi unsur-unsur lainnya, yang berupa ibadah maupun akhlaq. Seterusnya, iman menjadi fondasi untuk pilar utama berikutnya, yaitu *adab.* Adab lebih dari sekedar sopan santun atau tata krama, adab adalah sebuah sistem etika komprehensif yang mengatur cara manusia berinteraksi dengan Tuhan, sesama manusia, alam, dan bahkan dengan dirinya sendiri. Adab kepada Allah terlihat dari ketaatan dalam menjalankan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, berzikir, berdoa, dan selalu bersyukur. Adab dan etika adalah implementasi konkret dari keimanan, adab adalah penjelmaan dari kualitas spiritual dan moral seseorang. Adab atau moral bukanlah topeng yang bisa dipasang atau dilepas sesuai situasi, melainkan refleksi otentik dari apa yang ada di dalam hati dan pikiran seseorang. Adab adalah ibarat _“pelumas”_ dalam interaksi sosial, memaknai kejadian, dan membangun jembatan saling pengertian. Ketika setiap individu menjunjung tinggi adab, maka rasa hormat, empati, toleransi, dan kasih sayang akan tumbuh subur.
Dalam Islam, adab sangat erat kaitannya dengan *akhlaq*, yang merupakan perwujudan dari keimanan. Akhlak adalah cerminan dari iman dan tujuan utama diutusnya Nabi Muhammad saw, sebagaimana sabda Rasulullah yang berbunyi, _“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk kesempurnaan keindahan akhlak.”_ Akhlak mencakup seluruh aspek kehidupan, mengatur hubungan vertikal manusia dengan Allah swt, serta hubungan horizontal dengan sesama manusia dan alam semesta, seperti yang dituntun oleh syariat agama. Seorang muslim yang beradab akan senantiasa menjaga perkataan, perbuatan, dan sikapnya agar selaras dengan dengan nilai-nilai luhur Islam. Akhlak Rasulullah adalah Al Qur’an dan sebagai teladan utama bagi umat Islam sebagaimana riwayat dari Aisyah r.a. bahwa _“Akhlak beliau adalah Al-Quran.”_ Dengan demikian, dalam Islam, akhlak adalah bersifat konstan, tidak akan berubah seiring perubahan zaman maupun tempat, terutama akhlak yang terkait dengan perilaku-perilaku terpuji yang ditetapkan oleh agama atau perilaku-perilaku tercela yang diharamkan oleh agama. Jadi akhlak bukanlah hasil pengalaman individu, tetapi ia merupakan ketetapan-ketetapan, nilai-nilai, dan adab-adab agama. Dalam Islam, akhlak adalah kumpulan prinsip dan nilai yang mengatur tingkah laku seorang muslim, yang ditentukan oleh wahyu untuk mengatur kehidupan manusia dan wahyu juga membuat sejumlah ketentuan untuk kehidupan manusia yang memungkinkannya mewujudkan tujuan dari keberadaan manusia di muka bumi ini, yaitu untuk beribadah kepada Allah swt yang akan mengantarkan menuju kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat.
Akhlak Islam secara umum berpijak di atas tiga pilar, yaitu (i) tanggung jawab pribadi yang tercermin di dalam firman Allah swt pada surah _Al Mudatsir_ ayat 38, _“Tiap-tiap diri bertanggungjawab atas apa yang telah diperbuatnya.”_, (ii) keadilan dan ihsan yang tercermin dalam surah _An Nahl_ ayat 90 yang berbunyi, _“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat,......“_, dan (iii) mencegah perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan yang tercermin dalam kelanjutan surah _An Nahl_ ayat 90, yaitu _“.....dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.”_
Sesudah pilar adab, maka pilar berikutnya adalah *ilmu*. Ilmu memang selalu dikaitkan posisi dan kedudukannya dengan adab, bahkan kita sering mendengar pepatah Arab yang berbunyi, _“Al-adabu fauqal-ilmi”_ atau _“adab lebih tinggi daripada ilmu”_, pepatah ini adalah kesimpulan para ulama dan sahabat Nabi mengenai pentingnya etika dan akhlak mulia dalam menuntut ilmu. Ungkapan ini menekankan prinsip agar ilmu yang diperoleh menjadi berkah dan dijadikan juga sebagai nasihat moral agar seseorang tidak sombong, tidak kasar, dan tidak merasa paling benar, hanya karena ilmu pengetahuan yang dimiliki dan dikuasainya. Sejatinya memang, Islam tidak pernah mempertentangkan adab dan ilmu, keduanya bukan dua kutub yang saling meniadakan, melainkan satu kesatuan yang saling menguatkan. Ilmu adalah cahaya penunjuk arah, dan adab adalah wadahnya atau akhlak dalam berperilaku. Tanpa adab, ilmu bisa melahirkan kesombongan, namun tanpa ilmu, adab bisa kehilangan arah dan justru menyesatkan. Penjelasan lain tentang hubungan antara adab dan ilmu adalah bahwa adab berkaitan dengan etika dalam berbicara, berdialog, dan berdebat atau bersikap, sedangkan ilmu berkaitan dengan apakah pernyataan atau tindakan tersebut benar atau keliru.
Hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud menunjukkan bahwa niat baik dan adab saja tidak cukup. Tanpa ilmu, seseorang bisa menjerumuskan dirinya dan orang lain, meskipun ia merasa dengan sikap santun dan berakhlak. Hadist tersebut berbunyi, _“Barang siapa memberi fatwa tanpa ilmu, maka dosanya ditanggung oleh orang yang memberinya fatwa.”_ Sebaliknya Islam juga memerintahkan agar kebenaran atau ilmu yang disampaikan haruslah dengan cara yang baik, sebagaimana bunyi surah _An Nahl_ ayat 125, yaitu _“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik.”_ Jadi jika ditanya mana yang lebih tinggi antara adab dan ilmu, keduanya adalah bersamaan dan berdampingan, serta tidak didikotomikan, dan tidak mungkin berada pada dua titik ekstrim, yaitu keilmuan yang kering dari akhlak atau kesantunan yang kosong dari kebenaran. Islam adalah agama yang memuliakan ilmu, menegakkan kebenaran, dan membingkainya dengan adab yang luhur.
Selain sebagai cahaya dan petunjuk arah, ilmu juga adalah modal utama bagi manusia untuk mengarungi kehidupan, mengelola dan memanfaatkan alam demi kemaslahatan ummat manusia serta menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Lebih tepatnya, ilmu pengetahuan menjadi modal utama yang diberikan Allah kepada manusia, baik dalam fungsinya sebagai <hamba Allah (abdullah)_, maupun dalam tugasnya sebagai _“wakil Allah” (khalifatullah)_ di muka bumi. Manusia yang dititipi untuk mengelola bumi, diberi rasa ingin tahu, akal dan kemampuan bernalar, sehingga manusia mampu memburu sebahagian rahasia dan seluk beluk alam sekitarnya, sosial, dan budaya, termasuk hubungan antar sesama manusia, hubungan antar manusia dengan makhluk hidup lainnya, dan hubungan antar manusia dengan lingkungan fisik, baik di darat, dilaut, di perut bumi, maupun di ruang angkasa. Dengan akalnya, manusia dapat belajar dan mengajari sesamanya mengenai khazanah pengetahuan dan mampu menghasilkan teknologi yang mensejahterakan ummat manusia, tetapi tetap memperhatikan keharmonisan hubungan antar manusia dengan Sang Pencipta, antar manusia, dan antara manusia dengan makhluk lainnya.
Tiga pilar utama di atas, yaitu iman, ilmu, dan adab, perlu ditambah lagi dengan pilar keempat yaitu *penguasaan ekonomi* berupa *materi.* Jadi iman adalah fondasi atas segalanya, ilmu adalah cahaya penunjuk arah dan modal untuk berkreasi dan berkarya, adab adalah akhlak dalam berperilaku dan mengembangkan ilmu, dan materi adalah berupa harta, teknologi, atau fasilitas duniawi yang berfungsi sebagai sarana penunjang dan alat bantu dalam menggali dan mengembangkan adab dan ilmu untuk pengelolaan alam semesta, Dalam menggunakan materi, harus berlandaskan iman, memanfaatkan ilmu, dan dengan cara beradab agar dia memberikan kemanfaatan, namun jika materi yang dimiliki dikelola tanpa iman, tanpa ilmu, dan dengan cara tidak beradab, yaitu hanya sebagai penyaluran hawa nafsu, maka ia akan merusak, akan membawa kepada kemudharatan dan menimbulkan bencana. Sebaliknya, ilmu juga menjadi modal untuk memperoleh materi, tetapi harus pula dibarengi dengan adab, sehingga materi yang didapatkan adalah materi yang baik. Dengan kata lain, materi akan menjadi rahmat bagi kehidupan manusia jika dimanfaatkan dengan keilmuan dan secara beradab, namun sebaliknya materi akan menjadi malapetaka bagi kemanusiaan jika digunakan secara tanpa bekal ilmu dan tidak beradab serta tidak mengindahkan nilai-nilai moral. Begitu juga dengan ilmu, akan menjadi modal untuk mendapatkan materi yang baik jika digunakan secara beradab, sebaliknya akan menghasilkan materi yang buruk jika ilmu digunakan tanpa adab. Jadi keempat pilar utama, yaitu iman, ilmu, adab, dan materi, harus berjalan selaras dan seimbang untuk dapat membangun peradaban dan manusia Islami yang utuh. Iman untuk membuat manusia punya prinsip hidup yang kuat sehingga tidak mudah goyah, adab membuat manusia berperilaku benar dan baik, ilmu menjadi modal utama dalam belajar adab dan untuk mengumpulkan materi dalam menjalani kehidupan yang dilakukan berlandaskan iman dan secara beradab pula.

Posting Komentar