Oleh: H. Syahrir Nasution
Tidak ada kekuasaan yang abadi. Tidak ada jabatan yang mampu bertahan selamanya. Tidak ada harta yang dapat membeli ketenangan batin ketika hukum, nurani, dan keadilan mulai menagih pertanggungjawaban. Sejarah telah berulang kali membuktikan bahwa setiap perbuatan pasti memiliki konsekuensi. Cepat atau lambat, besar atau kecil, semuanya akan kembali kepada pelakunya. Itulah yang oleh banyak orang disebut sebagai karma atau hukum sebab-akibat.
Dalam kehidupan bermasyarakat, kita sering menyaksikan orang yang merasa dirinya kebal hukum. Karena memiliki jabatan, kedekatan dengan penguasa, kekayaan, atau jaringan politik yang kuat, mereka menganggap dapat melakukan apa saja tanpa konsekuensi. Mereka menyalahgunakan kewenangan, mengkhianati amanah rakyat, menggerogoti uang negara, memanipulasi aturan, mengintimidasi pihak yang lemah, bahkan menjadikan hukum sebagai alat untuk melindungi kepentingan pribadi.
Ketika berada di puncak kekuasaan, mereka dipuja. Banyak orang datang memberi hormat, memuji, bahkan berebut mencari kedekatan. Namun, penghormatan itu sering kali bukan lahir dari ketulusan, melainkan karena takut atau berharap mendapat keuntungan. Begitu kekuasaan berakhir dan kasus demi kasus mulai terungkap, orang-orang yang dahulu mengelilinginya perlahan menghilang. Yang tersisa hanyalah penyesalan dan rasa malu.
Ironisnya, banyak pejabat yang lupa bahwa jabatan bukanlah hak milik. Jabatan adalah amanah yang sewaktu-waktu dapat dicabut. Kekuasaan hanyalah titipan rakyat yang harus dipertanggungjawabkan, bukan kesempatan untuk memperkaya diri sendiri, keluarga, maupun kelompok.
Korupsi tidak pernah lahir secara tiba-tiba. Ia dimulai dari pembiaran terhadap pelanggaran kecil. Dari gratifikasi yang dianggap "sekadar ucapan terima kasih". Dari pengondisian proyek yang disebut "hal biasa". Dari praktik titip-menitip jabatan yang dianggap lumrah. Lama-kelamaan, semua itu berubah menjadi budaya yang merusak sendi-sendi pemerintahan.
Lebih menyedihkan lagi, praktik-praktik tersebut sering dilakukan oleh mereka yang setiap hari berbicara tentang moralitas, integritas, bahkan agama. Di depan publik mereka tampil seolah menjadi teladan, tetapi di balik meja kekuasaan mereka memperdagangkan kewenangan demi keuntungan pribadi. Topeng itu mungkin mampu menipu manusia, tetapi tidak akan mampu menipu waktu dan kebenaran.
Hari ini kita menyaksikan semakin banyak pejabat, mantan pejabat, pengusaha, hingga tokoh politik yang harus berhadapan dengan proses hukum. Ada yang ditangkap dalam operasi tangkap tangan, ada yang diperiksa berbulan-bulan sebelum akhirnya menjadi tersangka, ada pula yang kehilangan seluruh kehormatan yang dibangun selama puluhan tahun hanya karena keserakahan yang berlangsung beberapa saat.
Semua itu menjadi pelajaran bahwa hukum sebab-akibat bekerja tanpa mengenal jabatan, pangkat, suku, agama, maupun kekayaan. Ketika saatnya tiba, tidak ada pengawal, tidak ada pengacara mahal, tidak ada kekuatan politik yang mampu menghapus seluruh akibat dari perbuatan yang dilakukan.
Namun, karma tidak hanya berlaku bagi mereka yang berbuat jahat. Ia juga bekerja bagi orang-orang yang terus berbuat baik. Kejujuran yang dipertahankan meski penuh tekanan, pengabdian yang dilakukan tanpa pamrih, serta keberanian membela kebenaran pada akhirnya akan memperoleh penghargaan. Mungkin bukan hari ini, mungkin bukan besok, tetapi pada waktu yang tepat.
Oleh karena itu, jangan pernah iri kepada mereka yang memperoleh kekayaan melalui jalan yang curang. Jangan pula takut ketika memilih jalan kejujuran meskipun terasa lebih sulit. Jalan yang benar memang sering kali berat, tetapi hasilnya membawa ketenangan. Sebaliknya, jalan yang curang mungkin terlihat mudah, tetapi selalu menyimpan kegelisahan.
Bangsa ini membutuhkan lebih banyak pemimpin yang takut kepada hukum, takut kepada suara hati, dan takut kepada pertanggungjawaban di hadapan Tuhan. Kita tidak membutuhkan pemimpin yang hanya pandai berbicara, tetapi miskin keteladanan. Integritas harus menjadi fondasi utama dalam setiap pengambilan keputusan, bukan sekadar slogan yang diucapkan saat kampanye atau pidato seremonial.
Rakyat juga tidak boleh diam. Pengawasan publik harus terus dilakukan agar kekuasaan tidak berubah menjadi alat penindasan. Pers yang independen, mahasiswa yang kritis, akademisi yang jujur, dan masyarakat sipil yang berani adalah benteng terakhir untuk menjaga agar penyimpangan tidak menjadi kebiasaan.
Pada akhirnya, kehidupan akan selalu menemukan caranya sendiri untuk menegakkan keseimbangan. Cepat atau lambat, setiap kebohongan akan terbongkar, setiap kezaliman akan terungkap, dan setiap pengkhianatan terhadap amanah akan dimintai pertanggungjawaban.
Karena itu, jangan pernah merasa aman ketika melakukan kejahatan hanya karena belum tertangkap. Jangan pernah merasa hebat hanya karena masih memiliki kekuasaan. Dan jangan pernah meremehkan orang yang memilih hidup jujur meskipun sederhana.
Ingatlah, jabatan akan berakhir, kekuasaan akan berganti, harta akan ditinggalkan, tetapi akibat dari setiap perbuatan akan tetap mengikuti pemiliknya. Itulah hukum kehidupan yang tidak pernah gagal bekerja.
Karma pasti berlaku. Bila bukan hari ini, besok. Bila bukan di hadapan manusia, maka di hadapan Tuhan Yang Maha Adil.

Posting Komentar