Oleh: H. Syahrir Nasution, Glr. Sutan Kumala Bulan
"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati." (QS. Ali Imran: 185)
Masihkah saya hidup esok?
Pertanyaan sederhana ini sesungguhnya merupakan renungan yang seharusnya hadir dalam hati setiap insan yang beriman. Tidak ada seorang pun yang mampu memastikan apakah matahari esok masih akan disaksikannya atau justru hari ini menjadi akhir perjalanan hidupnya di dunia.
Manusia begitu sibuk mengejar harta, jabatan, dan kenikmatan dunia. Kita tertawa, bercanda, menyusun berbagai rencana panjang, seolah-olah usia masih sangat panjang. Padahal, kematian dapat datang kapan saja sesuai ketetapan Allah SWT.
Allah telah menegaskan bahwa setiap makhluk pasti akan kembali kepada-Nya. Tidak ada yang mampu menghindar dari ajal yang telah ditentukan. Firman Allah SWT:
"Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, sekalipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh." (QS. An-Nisa: 78).
Di tengah masyarakat beredar berbagai kisah mengenai Malaikat Izrail, jumlah kunjungannya kepada manusia, bentuk fisiknya, maupun tanda-tanda seseorang menjelang ajal. Sebagian kisah tersebut dimaksudkan sebagai pengingat agar manusia selalu mengingat kematian. Namun, sebagai seorang muslim, kita juga perlu berhati-hati membedakan mana yang benar-benar bersumber dari Al-Qur'an dan hadis sahih, dan mana yang hanya berupa riwayat yang tidak dapat dipastikan kebenarannya.
Yang pasti, Islam mengajarkan bahwa Malaikat Maut melaksanakan tugasnya atas perintah Allah SWT. Tidak seorang pun mengetahui kapan ajalnya tiba selain Allah semata.
Karena itu, yang paling penting bukanlah mengetahui kapan kematian datang, melainkan mempersiapkan bekal sebelum kematian benar-benar menghampiri.
Rasulullah SAW mengingatkan agar umatnya memperbanyak mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian. Dengan mengingat kematian, hati menjadi lebih lembut, ibadah semakin khusyuk, dan manusia terdorong untuk memperbaiki amal.
Oleh sebab itu, selagi pintu taubat masih terbuka, marilah kita memperbanyak istighfar, memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, meminta maaf kepada orang-orang yang pernah kita sakiti, mengembalikan hak yang bukan milik kita, menjauhi kezaliman, dan memperbanyak amal saleh.
Orang tua dahulu juga sering berpesan bahwa apa yang kita rasakan hari ini merupakan buah dari perbuatan kita sendiri. Kebaikan akan melahirkan kebaikan, sedangkan keburukan akan mendatangkan akibat yang buruk, baik di dunia maupun di akhirat. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang menyebutnya sebagai "hukum karma". Namun dalam Islam, balasan tersebut dipahami sebagai sunnatullah dan keadilan Allah SWT terhadap amal perbuatan manusia.
Allah SWT berfirman:
"Katakanlah, sekalipun kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditetapkan akan mati terbunuh itu akan keluar juga ke tempat mereka terbunuh." (QS. Ali Imran: 154).
Ayat ini mengajarkan bahwa ketetapan Allah tidak mungkin dapat dihindari. Karena itu, tidak ada yang lebih penting selain mempersiapkan diri untuk menghadap-Nya.
Semoga Allah SWT mengakhiri hidup kita dalam keadaan husnul khatimah, mengampuni segala dosa, menerima taubat kita, serta memasukkan kita ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang beriman.
Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.
H. Syahrir Nasution
Glr. Sutan Kumala Bulan
:

Posting Komentar