Oleh: H. Syahrir Nasution
"Amak Lampisan" bukan sekadar alas duduk yang dianyam dengan tangan-tangan terampil para perempuan Mandailing. Di balik setiap helai anyaman itu tersimpan nilai sejarah, adat, filosofi, serta jati diri yang diwariskan oleh para leluhur kepada generasi penerus.
Amak Lampisan adalah simbol penghormatan kepada tamu, lambang kesederhanaan yang bermartabat, sekaligus bukti bahwa masyarakat Mandailing sejak dahulu telah memiliki peradaban yang tinggi dalam melahirkan karya-karya berbasis kearifan lokal.
Karena itu, masyarakat Mandailing jangan sampai hanya menjadi penonton terhadap warisan budayanya sendiri. Jangan sampai suatu hari nanti Amak Lampisan justru diproduksi, dipasarkan, bahkan diklaim oleh pihak lain, sementara anak cucu Mandailing hanya mengenalnya melalui cerita dan pajangan museum.
Di era globalisasi yang penuh persaingan ini, budaya tidak cukup hanya dipertontonkan dalam seremoni. Budaya harus dihidupkan, diajarkan, diwariskan, dan diberdayakan menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.
Sudah saatnya Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal bersama Dekranasda Kabupaten Madina, tokoh adat, budayawan, akademisi, dan seluruh elemen masyarakat bergandengan tangan menyusun program kaderisasi para pengrajin Amak Lampisan. Kaum ibu rumah tangga, generasi muda, hingga pelajar perlu diberikan pelatihan agar keterampilan menganyam tidak terputus oleh zaman.
Jika dikelola dengan baik, Amak Lampisan bukan hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga mampu berkembang menjadi produk ekonomi kreatif yang memiliki identitas khas Mandailing. Nilai jualnya dapat ditingkatkan melalui inovasi desain, kualitas produksi, pemasaran digital, hingga promosi dalam berbagai pameran nasional maupun internasional.
Jangan biarkan Amak Lampisan hanya hadir ketika ada horja adat, pesta perkawinan, atau pertunjukan seni. Jadikan ia hadir di ruang-ruang keluarga, hotel, perkantoran, pusat oleh-oleh, hingga pasar dunia sebagai produk budaya yang membanggakan.
Mandailing memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Tinggal bagaimana kita memiliki kemauan untuk merawatnya. Sebab budaya yang tidak diwariskan perlahan akan kehilangan ruhnya.
Dalam falsafah Mandailing dikenal semangat marsipagodangan, yaitu saling menguatkan, saling menopang, dan bergotong royong demi kemajuan bersama. Semangat inilah yang harus dihidupkan kembali. Tidak boleh ada rasa saling menjatuhkan. Yang diperlukan adalah kebersamaan untuk membesarkan warisan leluhur.
Sebagaimana petuah orang tua kita, "Rap tu jolo, marsipagodangan tu pudi." Bersatu melangkah di depan, saling menguatkan dalam perjalanan. Dari persatuan itulah lahir kekuatan yang mampu menjaga adat, mengangkat budaya, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kita juga diingatkan oleh ungkapan orang Minangkabau, "Balam nan lupo jo jarek, jarek indak lupo jo balam." Maknanya sangat dalam, yakni jangan pernah lupa dari mana asal-usul kita. Siapa yang melupakan akar budayanya, sesungguhnya sedang kehilangan jati dirinya sendiri.
Bagi orang Mandailing, pesan itu sejalan dengan semangat "Jangan lupa bona bulu." Jangan pernah melupakan kampung halaman, akar budaya, adat istiadat, dan warisan para ompung yang telah membentuk identitas kita hingga hari ini.
Mari kita rawat Amak Lampisan bukan sekadar sebagai benda budaya, tetapi sebagai simbol kehormatan, kebanggaan, dan masa depan ekonomi masyarakat Mandailing. Jangan sampai anak cucu kita hanya mendengar namanya tanpa lagi mampu membuatnya.
Saatnya masyarakat Mandailing bangkit. Dari anyaman sederhana, lahir karya yang mendunia. Dari warisan leluhur, tumbuh kesejahteraan. Dan dari persatuan, kita buktikan bahwa budaya Mandailing tetap tegak berdiri sepanjang zaman.
Horas Tondi Madingin, Pir Tondi Matogu.
Rap mangalului adat, rap mangalului ugamo, rap mangalului hasangapon ni Mandailing.***

Posting Komentar