Oleh: H. Syahrir Nasution
Ada baiknya kita mengangkat sejarah dan kisah perjuangan Soekarno sejak jauh sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Mengapa?
Karena hari ini banyak generasi muda Indonesia yang baru “melek sejarah”. Mereka mengenal Soekarno dari gambar di buku pelajaran, dari nama jalan, dari patung, atau dari seremoni setiap tanggal 17 Agustus.
Tetapi pertanyaannya: seberapa jauh mereka mengenal pemikiran, perjuangan, pergulatan dan pengorbanan Soekarno sebelum Republik Indonesia lahir?
Ini bukan sekadar persoalan mengenang seorang tokoh.
Ini adalah persoalan memahami dari mana bangsa ini berasal.
Soekarno bukanlah tokoh yang tiba-tiba muncul pada 17 Agustus 1945. Jauh sebelum Proklamasi dikumandangkan, ia telah terlibat dalam pergulatan politik dan intelektual melawan kolonialisme.
Pada usia muda, Soekarno telah bersentuhan dengan gagasan kebangsaan, nasionalisme, anti-kolonialisme, sosialisme, Islam, dan berbagai pemikiran politik dunia.
Pertemuannya dengan tokoh-tokoh pergerakan serta lingkungan intelektual pada zamannya membentuk pandangan politiknya.
Ia kemudian mendirikan dan mengembangkan organisasi pergerakan yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Risikonya bukan kecil.
Penjara dan pengasingan menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Soekarno pernah ditangkap pemerintah kolonial Belanda. Ia dipenjara, kemudian diasingkan. Namun pengasingan itu tidak membuat gagasannya mati.
Justru dari tempat-tempat pengasingan itulah pemikiran kebangsaannya semakin matang.
KEMERDEKAAN TIDAK LAHIR DARI RUANG HAMPA
Inilah bagian sejarah yang sering hilang dari ingatan publik.
Kemerdekaan Indonesia tidak lahir begitu saja pada pagi 17 Agustus 1945.
Kemerdekaan adalah hasil dari perjalanan panjang.
Ada rakyat yang melawan penjajahan. Ada ulama. Ada kaum pergerakan. Ada pemuda. Ada kaum intelektual. Ada tokoh-tokoh nasionalis. Ada organisasi-organisasi kebangsaan.
Dan di dalam perjalanan panjang itu, Soekarno menjadi salah satu figur sentral.
Karena itu, memahami Soekarno harus dilakukan secara utuh.
Bukan dengan cara memujanya secara berlebihan.
Bukan pula dengan cara menghapus atau mengecilkan perannya.
Sejarah harus dibaca dengan kepala dingin, bukan dengan fanatisme.
Soekarno adalah manusia dengan kelebihan dan kekurangannya. Tetapi tidak dapat disangkal bahwa gagasan dan perjuangannya memiliki tempat penting dalam sejarah lahirnya Republik Indonesia.
DARI PANCASILA HINGGA PROKLAMASI
Salah satu tonggak penting terjadi pada 1 Juni 1945 ketika Soekarno menyampaikan pidatonya mengenai dasar negara dalam sidang BPUPKI.
Dari pergulatan pemikiran itu lahirlah gagasan mengenai dasar filosofis bagi negara Indonesia yang kemudian berkembang menjadi Pancasila.
Tetapi Pancasila pun tidak boleh dipahami hanya sebagai hafalan lima sila.
Di dalamnya terdapat pertanyaan mendasar:
Untuk apa Indonesia merdeka?
Apakah kemerdekaan hanya untuk mengganti penguasa asing dengan penguasa bangsa sendiri?
Ataukah kemerdekaan harus membawa rakyat menuju kehidupan yang lebih adil, bermartabat dan berdaulat?
Pertanyaan itu tetap relevan sampai hari ini.
Sebab kemerdekaan politik tanpa keadilan sosial akan kehilangan maknanya.
Kedaulatan negara tanpa kesejahteraan rakyat hanya akan menjadi slogan.
Dan demokrasi tanpa kejujuran dapat berubah menjadi sekadar prosedur perebutan kekuasaan.
PROKLAMASI BUKAN AKHIR PERJUANGAN
Pada 17 Agustus 1945, Soekarno bersama Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.
Tetapi Proklamasi bukanlah akhir perjuangan.
Justru sejak saat itulah perjuangan mempertahankan Republik dimulai.
Bangsa Indonesia harus menghadapi berbagai persoalan politik, militer, ekonomi dan diplomasi.
Karena itu, generasi muda perlu memahami bahwa kemerdekaan yang dinikmati hari ini bukan hadiah.
Kemerdekaan adalah hasil perjuangan panjang yang dibayar mahal oleh generasi sebelumnya.
Maka menjadi ironi apabila generasi yang menikmati kemerdekaan justru kehilangan pengetahuan tentang sejarah bangsanya sendiri.
JANGAN BIARKAN SEJARAH DIPOTONG-POTONG
Ada kecenderungan berbahaya ketika sejarah hanya dibaca berdasarkan kepentingan politik hari ini.
Tokoh tertentu dipuja ketika dianggap menguntungkan.
Tokoh yang sama dicela ketika dianggap tidak sesuai dengan kepentingan kelompok.
Padahal sejarah bukan alat propaganda.
Sejarah adalah cermin.
Kita boleh mengkritik Soekarno.
Kita boleh memperdebatkan kebijakannya.
Kita boleh membahas kekeliruannya.
Tetapi kita tidak boleh menghapus konteks sejarah yang melahirkan seorang Soekarno.
Begitu juga dengan tokoh-tokoh bangsa lainnya.
Jangan menciptakan generasi yang hanya mengenal sejarah melalui potongan video berdurasi satu menit.
Jangan sampai anak-anak muda kita mengenal Proklamasi, tetapi tidak memahami proses panjang yang melahirkannya.
Jangan sampai hafal Pancasila, tetapi tidak memahami mengapa Pancasila dirumuskan.
Jangan sampai tahu nama Soekarno, tetapi tidak mengetahui mengapa pemikiran dan perjuangannya begitu berpengaruh terhadap perjalanan bangsa ini.
GENERASI MUDA HARUS DIBERI SEJARAH, BUKAN SEKADAR CERITA
Inilah pekerjaan besar kita.
Sejarah Indonesia harus kembali diceritakan secara utuh kepada generasi muda.
Bukan untuk membangun kultus terhadap Soekarno.
Bukan untuk menghidupkan kembali pertarungan politik masa lalu.
Tetapi agar generasi baru memahami bahwa sebuah negara tidak lahir dari ruang kosong.
Ada gagasan.
Ada perdebatan.
Ada pengorbanan.
Ada penjara.
Ada pengasingan.
Ada darah dan air mata.
Dan ada keberanian untuk bermimpi tentang sebuah bangsa yang merdeka.
Soekarno harus ditempatkan dalam sejarahnya.
Bukan sebagai manusia tanpa kesalahan.
Bukan pula sebagai tokoh yang harus terus-menerus diperdebatkan untuk kepentingan politik sesaat.
Melainkan sebagai salah satu tokoh penting yang ikut mengantarkan bangsa Indonesia menuju pintu kemerdekaan.
Dan dari sejarah itulah generasi muda seharusnya belajar satu hal:
Kemerdekaan tidak pernah gratis.
Kemerdekaan harus dijaga dengan pengetahuan.
Dijaga dengan persatuan.
Dijaga dengan keberanian.
Dijaga dengan keadilan.
Dan yang paling penting, dijaga dengan kesadaran bahwa Republik Indonesia ini dibangun bukan untuk kepentingan segelintir orang, melainkan untuk seluruh rakyat Indonesia.
Karena itu, sebelum kita meminta generasi muda mencintai Indonesia, pastikan terlebih dahulu mereka mengenal sejarah Indonesia.
Sebab bangsa yang tidak mengenal sejarahnya akan mudah kehilangan arah.
Dan bangsa yang kehilangan arah akan mudah dikendalikan oleh mereka yang ingin menulis ulang masa lalu demi kepentingan hari ini.
Wassalam.

Posting Komentar