JOKOWI, APA KAMU LUPA SUDAH 'MATENI' HTI & FPI? RAKYATMU MATI DI TRAGEDI KANJURUHAN, KPPS HINGGA KM 50?*



Oleh : *Ahmad Khozinudin, S.H.*

Advokat 



Netizen ramai mengomentari pernyataan Jokowi yang menyampaikan petuah Jawa "Lamun sira sakti ojo mateni" saat menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus Haul KH Musyaffa’ Ali di Kebumen, Jawa Tengah, pada Minggu, 30 Agustus 2026. 


Jokowi mengingatkan para pemegang kekuasaan agar tidak menggunakan kekuatan politik atau jabatan mereka untuk menjatuhkan atau mencelakakan orang lain. Namun faktanya selama 10 tahun berkuasa justru kebijakan Jokowi banyak yang mencelakakan dan mateni (membunuh) rakyatnya.


Sebut saja tragedi Kanjuruhan, matinya 800 lebih KPPS pada Pilpres 2019, pembunuhan 6 laskar FPI di KM 50, hingga membunuh eksistensi Ormas Islam HTI dan FPI.


Dalam ungkapan Jawa, Jokowi bisa disebut 'Ora Ngilo Gitok'e', atau tidak mau introspeksi. Lebih pas, dalam ungkapan Melayu, Jokowi seperti peribahasa 'Buruk Muka Cermin Dibelah'.


Bisa saja, Jokowi mengeluh dan merasa kekuasaan Prabowo Subianto digunakan untuk 'membunuh' orang-orang kepercayaan Jokowi, memecat Budi Arie Setiaji, membiarkan Gibran diserang status ijazah SMA-nya, hingga membiarkan serangan politik yang masif mengarah ke Jokowi.


Tapi itu standar saja. Karena Prabowo mengaku Jokowi guru politiknya, maka Prabowo mempraktikkan ilmu dari gurunya. Diantaranya, membunuh lawan politik dengan kekuasaan.


HTI dan FPI tidak pernah ada masalah selama pemerintahan SBY. Bahkan, bersinergi dengan pemerintah dalam menanggulangi berbagai bencana, terutama Tsunami di Aceh.


Tak pernah ada laporan, kerusakan dan korban jiwa akibat ulah HTI dan FPI. Bahkan, HTI menegaskan perjuangan penerapan syariah Islam dalam bingkai Khilafah dilaksanakan tanpa kekerasan dan tanpa fisik/senjata (La Maddiyah, La Unfiyah), murni pemikiran dan politik.


Hal itu dibuktikan, dalam setiap aksi demonstrasi (Masyiroh) yang dilakukan, HTI selalu tertib meski melibatkan banyak peserta aksi baik pria maupun wanita. Agenda besar HTI seperti Konferensi Khilafah Internasional (KKI) pada tahun 2007 di Gelora Bung Karno yang dihadiri lebih dari 100.000 peserta, berlangsung tertib.


Diskusi politik bulanan seperti Halqah Islam dan Peradaban (HIP) di Wisma Antara, rutin dilakukan dan mengundang narasumber dan peserta dari berbagai kalangan. Wiranto hingga Maruarar Sirait pernah menjadi  narasumbernya.


Namun, tiba-tiba di era Jokowi HTI dipateni. Hanya bedalih Khilafah tak sejalan dengan Pancasila, Jokowi membubarkan HTI melalui tangan Wiranto. Jokowi juga membubarkan FPI melalui tangan Mahfud MD.


Jadi, jika hari ini Jokowi merasa dipateni langkah politiknya oleh Prabowo, kesaktian kekuasaan mengekang geraknya untuk membesarkan PSI, kekuasaan membiarkan dirinya dan Gibran dipersoalkan ijazahnya, ya itu hanyalah sebagian dari panen amal dari perilaku yang dia tanam. Dalam unen unen Jawa, ini namanya 'ngunduh wohing pakerti'. [].

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama