Letkol dr Wiliater Hutagalung, Putra Tapanuli Menolak Tunduk Penjajah

 


MEDAN – Kemerdekaan Indonesia tidak hanya ditulis oleh mereka yang berdiri paling depan dengan senjata. Di balik dentuman perang dan strategi gerilya, ada pula orang-orang senyap merancang, merawat, mengobati, dan memastikan perjuangan tetap hidup.


Salah satunya adalah Letkol dr. Wiliater Hutagalung, putra Tarutung, Tapanuli Utara. Jejak perjuangannya bersinggungan salah satu episode paling penting dalam sejarah mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.


Lahir di Tarutung pada 20 Maret 1910, Wiliater tumbuh dalam lingkungan pendidikan yang membuka jalan menjadi seorang dokter. Ia menempuh pendidikan di HIS Kristen yang didirikan Zending RMG Jerman di Tano Batak, kemudian melanjutkan pendidikan ke ELS dan HBS di Surabaya.


Pendidikan kedokteran ditempuhnya di Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS) Surabaya. Lalu pada 1937, ia resmi menyandang gelar dokter.


Namun, ilmu kedokteran yang dimilikinya kelak tidak hanya merawat pasien di ruang pengobatan. Tetapi sejarah membawanya ke tengah revolusi.


Ketika Republik Diklaim Telah Mati


Tahun 1949 merupakan masa genting bagi Republik Indonesia. Belanda berusaha membangun persepsi di mata internasional bahwa Republik Indonesia telah runtuh. 


Setelah agresi militer, para pemimpin republik ditangkap dan pusat pemerintahan republik berada dalam tekanan hebat. Di tengah situasi, perjuangan tidak boleh berhenti.


Salah satu jawaban paling berani kemudian hadir melalui Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta.


Dalam sejumlah catatan sejarah, Letkol dr. Wiliater Hutagalung disebut sebagai salah satu tokoh yang berperan dalam perencanaan atau konsepsi serangan tersebut. Di lapangan, Letkol Soeharto menjadi salah satu komandan pasukan pelaksana.


Serangan itu bukan sekadar operasi militer


Ada pesan politik yang jauh lebih besar: Republik Indonesia belum mati. TNI masih ada. Perlawanan masih berlangsung.


Yogyakarta diserang. Pasukan republik menunjukkan eksistensinya. Dunia internasional kembali mendapatkan bukti bahwa propaganda Belanda tentang berakhirnya Republik Indonesia tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan di lapangan.


Di situlah arti penting seorang Wiliater Hutagalung tidak semata dilihat dari profesinya sebagai dokter.


Ia berada di antara orang-orang yang memikirkan bagaimana perjuangan Republik harus tetap memiliki suara di tengah dunia yang sedang menyaksikan pergulatan Indonesia dengan Belanda.


Dokter di Sisi Jenderal Soedirman


Namun medan perjuangan Wiliater tidak berhenti pada strategi. Ia juga berada di sisi Panglima Besar Jenderal Soedirman dalam perjalanan gerilya mempertahankan Republik.


Sebagai dokter pribadi sekaligus ajudan, Wiliater menyaksikan dari dekat beratnya perjuangan seorang panglima yang harus bergerak dari satu tempat ke tempat lain dalam kondisi perang dan keterbatasan.


Soedirman sendiri tengah menghadapi persoalan kesehatan. Tubuhnya tidak selalu berada dalam kondisi prima, tetapi perjuangan tidak memberi banyak pilihan.


Di tengah hutan, perjalanan panjang dan ancaman pasukan Belanda, Wiliater menjalankan perannya sebagai dokter. Ia bukan sekadar merawat seorang pasien.


Ia merawat seorang panglima yang keberadaannya menjadi simbol bahwa republik masih memiliki kepemimpinan dan perlawanan. Di sinilah profesi dan nasionalisme bertemu. Keahlian medis yang dimilikinya menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan republik.


Pangkat Bukan Tujuan


Ada sisi lain dari Wiliater Hutagalung yang tak kalah menarik. Setelah perjuangan bersenjata memasuki fase baru, justru memilih meninggalkan dinas aktif TNI.


Pada Januari 1950, ketika berusia sekitar 40 tahun, Wiliater mengundurkan diri. Keputusan tersebut sebagai sikap kritisnya terhadap hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) yang tidak menguntungkan Republik Indonesia.


Pilihan itu menunjukkan satu hal: bagi Wiliater, perjuangan bukan semata-mata soal seragam, pangkat atau jabatan.


Ia kembali menjalani profesinya sebagai dokter. Di saat banyak orang mungkin melihat karier militer sebagai jalan menuju kekuasaan dan kehormatan, Wiliater justru memilih jalan berbeda.


Ia tidak menggantungkan makna pengabdian pada berapa banyak bintang yang dapat disematkan di pundak. Pengabdian baginya telah menemukan bentuk lain.


Putra Tapanuli Memilih Jalan Pengabdian


Jika perjalanan karier militernya diteruskan, bukan tidak mungkin Wiliater Hutagalung dapat mencapai pangkat yang lebih tinggi. Namun sejarah akhirnya mencatatnya melalui pilihan yang berbeda.


Ia memilih mengakhiri karier militernya dan kembali menjadi dokter. Pilihan tersebut justru memperlihatkan dimensi lain dari nasionalisme: berjuang tanpa harus mengejar penghargaan.


Puluhan tahun kemudian, pada 1995, Wiliater kembali bertemu dengan Soeharto di Jakarta. Pertemuan dua tokoh yang pernah berada dalam pusaran perjuangan 1949 itu menjadi semacam potret panjang perjalanan sejarah Indonesia, dari masa perang menuju masa negara yang telah berdiri kokoh.


Wiliater Hutagalung wafat di Jakarta pada 29 April 2002 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.


Sejarah Tidak Disimpan di Batu Nisan


Kini, nama Letkol dr. Wiliater Hutagalung layak dibaca kembali bukan sekadar sebagai catatan masa lalu.


Bagi Tapanuli Utara, kisahnya menyimpan pesan penting bagi generasi muda: bahwa seorang putra daerah dapat menembus batas geografis dan mengambil bagian dalam sejarah nasional.


Ia berangkat dari Tarutung dengan pendidikan dunia kedokteran. Kemudian sejarah membawanya ke tengah revolusi.


Ia merawat Panglima Besar Jenderal Soedirman, terlibat dalam dinamika perjuangan mempertahankan republik, dan berada dalam episode sejarah yang kemudian dikenal sebagai Serangan Umum 1 Maret 1949.


Namun yang paling menarik justru pilihan setelah semuanya berlalu. Ia tidak menjadikan perjuangan sebagai tangga untuk mengejar kemewahan.


Ia memilih kembali menjadi dokter.


Dari sana, ada satu pelajaran yang terasa tetap relevan hingga hari ini: kemerdekaan bukan hanya tentang merebut kekuasaan dari penjajah, tetapi juga tentang menjaga agar kekuasaan tidak menjadi tujuan hidup.


Wiliater Hutagalung telah memilih jalannya.


Ia berjuang ketika republik membutuhkan keberanian. Ia mengobati ketika para pejuang membutuhkan pertolongan. Dan ketika perang berakhir, ia kembali mengabdi melalui profesinya.


Sejarah mungkin mengenang Serangan Umum 1 Maret melalui nama-nama besar yang berdiri di panggung utama. Tetapi di balik panggung itu ada orang-orang yang ikut menyusun gagasan, menjalankan tugas, merawat yang terluka dan mempertaruhkan hidup demi satu keyakinan:


Republik Indonesia harus tetap ada.


Dari Tarutung, seorang dokter bernama Wiliater Hutagalung memilih menjadi bagian dari keyakinan itu. Dari Tarutung Mengguncang Yogyakarta.. (Dikutip berbagai sumber) 


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama