PERSATUAN TANPA KRITIK AKAN MELAHIRKAN PEMBENARAN



Menyambut 81 Tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia

Oleh: H. Syahrir Nasution

Menyambut Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81, suasana peringatan kemerdekaan tahun ini terasa berbeda. Gema dan gaungnya seakan tidak lagi sekuat tahun-tahun sebelumnya.

Mengapa?

Tentu ada banyak jawaban. Namun, salah satu yang patut kita renungkan adalah semakin lesunya kesadaran sebagian anak bangsa terhadap persoalan negeri ini. Hari demi hari, masyarakat berhadapan dengan berbagai persoalan kehidupan, sementara harapan terhadap masa depan bangsa seolah semakin jauh dari cita-cita para pejuang kemerdekaan.

Kemerdekaan bukan hadiah. Kemerdekaan lahir dari pengorbanan.

Para pejuang dahulu berjuang bukan untuk menikmati fasilitas kekuasaan. Mereka tidak berjuang agar kelak mendapatkan jabatan, kekayaan atau keistimewaan.

Mereka berjuang karena kecintaan kepada tanah air.

Mereka menginginkan Indonesia yang merdeka, bermartabat dan mampu berdiri di atas kaki sendiri. Mereka ingin melihat anak-anak bangsa bersatu, saling menghormati dan bersama-sama membangun negeri yang telah direbut dengan pengorbanan yang begitu besar.

Tetapi setelah 81 tahun, kita patut bertanya:

Apakah cita-cita itu masih hidup dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita?

Persatuan Bukan Berarti Membungkam Kritik

Kita sering mendengar seruan tentang persatuan.

Persatuan memang mutlak diperlukan.

Namun ada persoalan yang tidak boleh kita abaikan:

Persatuan tanpa kritik akan melahirkan pembenaran.

Jika semua orang hanya diminta bersatu tetapi tidak boleh mengkritik, maka persatuan dapat berubah menjadi alat untuk membungkam suara rakyat.

Jika pejabat hanya dikelilingi orang-orang yang selalu mengatakan “benar”, bagaimana mereka mengetahui kesalahan?

Jika pemimpin hanya mendengar pujian, bagaimana ia mengetahui penderitaan rakyat?

Jika kekuasaan tidak boleh dikritik, siapa yang mengawasi kekuasaan?

Karena itu, kritik bukan musuh persatuan.

Kritik yang lahir dari kecintaan kepada bangsa justru merupakan bentuk kepedulian terhadap negara.

Yang harus dilawan bukan kritiknya, tetapi kritik yang tidak berdasar, fitnah dan kebencian.

Sebaliknya, kritik yang disampaikan dengan data, argumentasi dan niat memperbaiki keadaan harus ditempatkan sebagai bagian penting dari demokrasi.

Jangan Sampai Persatuan Menjadi Pembenaran

Persatuan tidak boleh dimaknai sebagai kewajiban untuk selalu membenarkan penguasa.

Negara membutuhkan masyarakat yang kritis.

Pemerintah membutuhkan pers yang bebas dan bertanggung jawab.

Bangsa membutuhkan akademisi yang berani menyampaikan kebenaran.

Dan generasi muda membutuhkan teladan dari para pemimpinnya.

Sebab ketika kritik dimatikan, kesalahan mudah dianggap sebagai kebenaran.

Ketika pertanyaan dianggap sebagai ancaman, kekuasaan akan semakin jauh dari rakyat.

Dan ketika masyarakat memilih diam karena takut atau apatis, maka ruang publik akan dipenuhi oleh pembenaran.

Di situlah demokrasi mulai kehilangan ruhnya.

Cinta Tanah Air yang Mulai Dipertanyakan

Cinta tanah air tidak cukup diucapkan dalam pidato.

Cinta tanah air harus dibuktikan melalui tindakan.

Menjaga lingkungan adalah cinta tanah air.

Membayar pajak dengan kesadaran adalah cinta tanah air.

Menolak korupsi adalah cinta tanah air.

Melawan ketidakadilan adalah cinta tanah air.

Mengkritik kebijakan yang merugikan rakyat adalah cinta tanah air.

Dan menjaga persatuan tanpa mengorbankan kebenaran juga merupakan cinta tanah air.

Karena mencintai Indonesia bukan berarti menutup mata terhadap kekurangannya.

Justru karena mencintai Indonesia, kita tidak boleh membiarkan kesalahan terus berlangsung.

Apa yang Kita Wariskan kepada Generasi Berikutnya?

Kondisi bangsa hari ini akan menjadi contoh bagi generasi berikutnya.

Anak-anak muda akan melihat bagaimana para pemimpinnya bertindak.

Mereka akan melihat apakah kekuasaan digunakan untuk melayani rakyat atau untuk kepentingan kelompok.

Mereka akan melihat apakah orang yang jujur dihargai atau justru disingkirkan.

Mereka akan melihat apakah kritik diterima sebagai masukan atau dianggap sebagai permusuhan.

Dan dari sanalah karakter generasi masa depan akan terbentuk.

Karena itu, jangan salahkan generasi muda jika mereka kehilangan kepercayaan kepada negara, sementara orang-orang yang seharusnya menjadi teladan justru mempertontonkan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai perjuangan kemerdekaan.

Bangsa ini tidak kekurangan slogan. Bangsa ini membutuhkan keteladanan.

Kemerdekaan Harus Terus Dijaga

81 tahun Indonesia merdeka bukan berarti perjuangan telah selesai.

Penjajahan fisik memang telah berakhir. Tetapi perjuangan melawan kemiskinan, kebodohan, korupsi, ketidakadilan, kesenjangan dan penyalahgunaan kekuasaan masih panjang.

Karena itu, jangan jadikan persatuan sebagai alasan untuk menghentikan kritik.

Jangan jadikan stabilitas sebagai alasan untuk membungkam kebenaran.

Dan jangan jadikan kecintaan kepada negara sebagai alasan untuk membenarkan semua tindakan penguasa.

Persatuan membutuhkan kejujuran.
Persatuan membutuhkan keberanian.
Persatuan membutuhkan kritik.
Dan persatuan membutuhkan keadilan.

Sebab bangsa yang sehat bukan bangsa yang tidak memiliki kritik.

Bangsa yang sehat adalah bangsa yang mampu menerima kritik tanpa kehilangan persatuan.

Pada akhirnya, kecintaan kepada Indonesia harus mengembalikan kita kepada cita-cita para pendiri bangsa: sebuah negeri yang merdeka, berdaulat, adil dan sejahtera.

Jangan sampai 81 tahun kemerdekaan hanya menghasilkan perubahan pada siapa yang memegang kekuasaan, tetapi tidak membawa perubahan berarti bagi kehidupan rakyat.

MERDEKA bukan berarti bebas dari kritik.
MERDEKA berarti berani berkata benar, berani mengoreksi kesalahan, dan berani menjaga negeri ini agar tetap berada di jalan yang benar.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama