Oleh ust Abdul Latif Khan
أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ بِذَنْبِي
“Aku mengakui segala nikmat-Mu kepadaku, dan aku mengakui segala dosaku.”
Betapa jujurnya kalimat ini.
Di hadapan Allah, kita berdiri membawa dua pengakuan: nikmat-Nya yang tidak terhitung dan dosa kita yang tidak sedikit.
Allah terus memberi, sementara kita sering lupa bersyukur.
Allah menutupi aib, sementara kita berkali-kali melanggar larangan-Nya.
Allah memanjangkan umur, sementara hari-hari kita tidak selalu dipenuhi ketaatan.
Allah membuka pintu rezeki, tetapi terkadang kita menggunakan rezeki itu untuk menjauh dari-Nya.
Allah memanggil kita dalam setiap azan, tetapi kita masih sering menunda untuk datang.
أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ
“Ya Allah, aku mengaku…”
Semua yang ada padaku berasal dari-Mu.
Napas yang masih berembus, tubuh yang masih mampu bergerak, keluarga yang masih mendampingi, makanan yang masih dapat kunikmati, dan kesempatan untuk kembali kepada-Mu. Semuanya adalah pemberian-Mu.
Tidak ada satu pun yang benar-benar kumiliki. Bahkan kemampuan untuk bersujud dan menyebut nama-Mu pun merupakan karunia dari-Mu.
Namun setelah mengakui nikmat, kita melanjutkan dengan pengakuan yang membuat hati tertunduk:
وَأَبُوءُ بِذَنْبِي
“Dan aku mengakui dosaku.”
Bukan dosa orang lain.
Bukan kesalahan pasangan, anak, sahabat, atau keadaan.
Tetapi dosaku sendiri.
Dosa yang diketahui manusia dan dosa yang hanya diketahui Allah.
Dosa yang masih kuingat dan dosa yang telah kulupakan.
Dosa mata yang tidak terjaga, lisan yang melukai, hati yang iri, ibadah yang disusupi riya, serta janji taubat yang berkali-kali kulanggar.
Ya Allah…
Engkau tidak pernah berhenti melimpahkan nikmat, sedangkan aku tidak pernah benar-benar bersih dari dosa. Jika Engkau memperlakukanku menurut amalanku, entah bagaimana nasibku. Namun jika Engkau memperlakukanku dengan rahmat-Mu, masih ada harapan bagiku.
Aku datang bukan karena merasa pantas diampuni.
Aku datang karena tidak mempunyai pintu lain selain pintu-Mu.
Aku malu atas dosaku, tetapi aku lebih takut jika rasa malu itu membuatku menjauh dari-Mu. Karena itu, aku kembali. Meski tertatih, meski menangis, meski membawa hati yang penuh luka dan noda.
أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ بِذَنْبِي
Ya Allah, aku mengakui nikmat-Mu dan aku mengakui dosaku.
Maka jangan biarkan nikmat-Mu membuatku lalai. Jangan biarkan dosaku membuatku berputus asa. Ajari aku menjadi hamba yang pandai bersyukur ketika menerima dan segera memohon ampun ketika tergelincir.
Sebab aku tidak akan selamat karena banyaknya amal, tetapi karena rahmat dan ampunan-Mu.
فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ
“Maka ampunilah aku, karena tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau.”

Posting Komentar