GELAR DI BELAKANG NAMA, KEJUJURAN DI HADAPAN ALLAH

 


Oleh Ust Abdul Latif Khan


Dalam sebuah kesempatan bersilaturahim dengan seorang tokoh di Medan, beliau menyampaikan sesuatu yang membuat saya termenung.


Beliau bercerita bahwa, menurut pengetahuannya, ada orang-orang yang pernah menempuh pendidikan di Mesir, khususnya di Al-Azhar, tetapi belum menyelesaikan studinya, kemudian menggunakan gelar Lc. Beliau menyebut jumlahnya tidak sedikit dan menyampaikan keprihatinannya.


Saya belum memverifikasi penuturan itu. Karena itu, cerita tersebut tidak patut menjadi dasar untuk menuduh siapa pun, terlebih untuk mencurigai seluruh alumni sebuah lembaga pendidikan yang terhormat.


Namun, percakapan itu meninggalkan sebuah pertanyaan yang layak saya arahkan terlebih dahulu kepada diri sendiri:


Pernahkah saya membiarkan orang lain menghormati saya karena sesuatu yang sebenarnya tidak saya miliki?


Pertanyaan itu terasa lebih dekat daripada sekadar membicarakan gelar seseorang.


Sebab, kita bisa tergoda menikmati sebutan yang terlalu tinggi. Membiarkan riwayat pendidikan ditulis melebihi kenyataan. Diam ketika pembawa acara menyebut pencapaian yang sebenarnya belum kita raih.


Kita mendengarnya. Kita tahu itu tidak tepat. Namun, karena sebutan itu membuat kita dihormati, kita membiarkannya.


Di situlah kejujuran kita sedang diuji.


---


Belum menyelesaikan kuliah bukanlah aib.


Ada orang yang harus pulang karena orang tuanya sakit. Ada yang kehabisan biaya. Ada yang menghadapi persoalan keluarga. Ada pula yang tersendat karena kelemahannya sendiri, lalu membutuhkan waktu untuk bangkit kembali.


Mereka tetap berhak dihormati sebagai manusia. Ilmu yang benar dan manfaat yang mereka berikan tetap layak dihargai.


Tetapi, apabila seseorang dengan sadar memakai gelar akademik yang belum menjadi haknya, ada ketidakjujuran yang perlu dihentikan.


Kita boleh memiliki perjalanan pendidikan yang belum selesai. Namun, jangan menutupinya dengan pengakuan yang tidak sesuai kenyataan.


Mengatakan, “Saya pernah belajar di sana, tetapi belum menyelesaikan pendidikan,” mungkin terasa berat di lidah.


Namun, betapa lapangnya hati ketika tidak perlu lagi menjaga sebuah kesan yang keliru.


Tidak perlu cemas ketika ditanya tahun kelulusan. Tidak perlu menghindar ketika diminta menjelaskan riwayat pendidikan. Tidak perlu menyusun jawaban baru untuk mempertahankan pengakuan sebelumnya.


Kejujuran mungkin membuat kita kehilangan sebagian kekaguman manusia. Tetapi kekaguman seperti apakah yang pantas dipertahankan dengan mengorbankan kebenaran?


---


Allah berfirman:


ÙŠَا Ø£َÙŠُّÙ‡َا الَّذِينَ آمَÙ†ُوا اتَّÙ‚ُوا اللَّÙ‡َ ÙˆَÙƒُونُوا Ù…َعَ الصَّادِÙ‚ِينَ


“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar.”


(QS. At-Taubah: 119)


Ayat ini terasa dekat sekali dengan kehidupan orang yang mengajarkan agama.


Kita mengajak jamaah untuk jujur. Kita mengingatkan pedagang agar tidak menyembunyikan keadaan barangnya. Kita menasihati anak-anak agar tidak berbohong demi mendapatkan pujian.


Lalu, bagaimana dengan keterangan yang kita letakkan di belakang nama sendiri?


Bagaimana dengan biodata yang kita kirim kepada panitia?


Bagaimana dengan sebutan yang kita tahu keliru, tetapi terus kita biarkan beredar?


Jangan sampai lidah kita mengajarkan kejujuran, sementara hati kita masih mempertahankan penghormatan yang tumbuh dari kesalahpahaman.


Orang yang mendengarkan dakwah kita berhak mendapatkan penjelasan yang jujur tentang siapa orang yang sedang mereka percayai.


---


Renungan ini juga untuk saya.


Mungkin saya tidak memakai gelar yang bukan hak saya. Namun, sudahkah saya jujur ketika mengutip tulisan orang lain? Sudahkah saya berani mengatakan, “Saya belum tahu”? Sudahkah saya meluruskan pujian yang berlebihan, atau justru diam-diam menikmatinya?


Betapa mudahnya melihat ketidakjujuran pada nama orang lain, tetapi betapa sulitnya memeriksa keinginan dipandang hebat di dalam hati sendiri.


Padahal Allah mengetahui diri kita sebelum orang mengenal nama kita.


Allah mengetahui apa yang sungguh-sungguh kita pelajari, apa yang kita selesaikan, dan apa yang hanya kita tampilkan.


Di hadapan-Nya, tidak ada biodata yang dapat menyembunyikan kenyataan.


---


Jika ada keterangan tentang diri kita yang tidak benar, masih ada kesempatan untuk memperbaikinya.


Luruskan biodata itu. Sampaikan kepada panitia. Perbaiki profil yang telanjur tersebar. Jika ada hak orang lain yang terdampak, usahakan pemulihannya.


Tidak perlu menunggu terbongkar untuk mulai jujur.


Dan kepada orang yang sedang memperbaiki kesalahannya, jangan kita tutup jalan pulangnya dengan penghinaan. Nasihatilah dengan adab. Berilah ruang untuk bertobat dan membenahi diri.


Sebab tujuan nasihat adalah mengantarkan seseorang kembali kepada Allah.


Ya Allah, ampunilah kami jika selama ini terlalu menikmati pujian hingga enggan meluruskan kekeliruan.


Berilah kami keberanian untuk mengakui kekurangan, meskipun suara kami bergetar dan wajah kami menunduk.


Lebih baik mengakui bahwa pendidikan kita belum selesai, daripada terus mempertahankan pengakuan yang kita tahu tidak benar.


Semoga ilmu yang kita pelajari menumbuhkan keberanian untuk jujur, terutama ketika kejujuran itu menuntut kita melepaskan sesuatu yang membuat manusia terkesan.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama