ISTANAMU KAU BANGUN, BAGAIMANA DENGAN BEKAL KEPULANGANMU? Kisah Hikmah Harun ar-Rasyid dan Bahlul

 


Oleh Ust Abdul Latif Khan


Catatan: Dialog ini dinisbatkan kepada Harun ar-Rasyid dan Bahlul dalam kisah nasihat yang beredar. Sumber sejarah yang kuat untuk rincian percakapannya belum dapat dipastikan. Tulisan ini merupakan pengolahan kisah hikmah, bukan penegasan bahwa setiap dialognya benar-benar terjadi.


Ada nasihat yang sulit memasuki hati ketika kita duduk nyaman di tengah kemegahan. Namun, nasihat yang sama terasa begitu dalam ketika disampaikan di antara makam.


Di sana, manusia tidak lagi diperkenalkan dengan gelarnya. Tidak ada kursi kehormatan. Tidak ada orang yang berebut menyalami tangan seorang penguasa.


Hanya tanah yang sunyi, dan kehidupan yang telah selesai.


Dalam sebuah kisah yang dinisbatkan kepada Khalifah Harun ar-Rasyid, diceritakan bahwa beliau berjumpa dengan Bahlul di pemakaman. Bahlul dikenal sebagai sosok yang dianggap tidak waras, tetapi dalam kisah-kisah nasihat, perkataannya justru kerap menggugah orang yang merasa paling berakal.


“Wahai Bahlul, kapan engkau akan sadar?” tanya sang khalifah.


Bahlul menjawab dengan pertanyaan yang tidak disangka-sangka.


“Siapakah sebenarnya yang lebih sadar, wahai Harun?”


“Bagaimana maksudmu?”


Bahlul mengingatkan bahwa istana yang megah akan ditinggalkan, sementara kematian pasti didatangi. Manusia perlu menyiapkan bekal untuk kehidupan sesudahnya.


Seakan-akan ia sedang bertanya:


“Engkau begitu sibuk menata tempat yang kelak engkau tinggalkan. Sudahkah engkau menyiapkan bekal untuk perjalanan yang tidak dapat engkau batalkan?”


Kalimat itu sederhana. Tetapi betapa berat menjawabnya dengan jujur.


Kita pun mungkin demikian.


Atap rumah bocor, segera kita perbaiki. Kendaraan bermasalah, segera kita bawa ke bengkel. Tabungan berkurang, hati mulai gelisah.


Namun, ketika shalat kehilangan kekhusyukannya, kita merasa biasa saja. Ketika lisan semakin mudah menyakiti, kita tidak segera berbenah. Ketika berhari-hari berlalu tanpa membaca Al-Qur’an, kita masih merasa hidup baik-baik saja.


Kita begitu peka terhadap kerusakan yang terlihat, tetapi sering terlambat menyadari kerusakan di dalam hati.


Dalam kisah itu, Bahlul melanjutkan nasihatnya dengan mengajak sang khalifah memperhatikan penghuni pemakaman.


Di manakah mereka yang dahulu merasa kuat?


Di manakah mereka yang dahulu begitu bangga dengan kedudukannya?


Di manakah orang yang kedatangannya disambut, ucapannya ditunggu, dan perintahnya segera dilaksanakan?


Tubuh-tubuh itu kini tidak berdaya. Kebesaran di mata manusia tidak dapat menahan jasad dari pelapukan. Adapun kedudukan mereka di sisi Allah, hanya Allah yang mengetahuinya.


Makam mengajarkan sesuatu yang kerap dilupakan oleh istana: sebanyak apa pun yang kita kuasai, kita tetap tidak berkuasa untuk tinggal selamanya.


Harun kemudian meminta tambahan nasihat.


Bahlul mengarahkannya kepada Kitabullah.


“Cukuplah bagimu Al-Qur’an. Berpegang teguhlah kepadanya. Di dalamnya terdapat kabar dan pelajaran.”


Betapa dekat sebenarnya nasihat yang kita perlukan.


Al-Qur’an ada di rumah kita. Ayat-ayatnya terdengar di masjid kita. Namun, sudahkah kita membacanya sebagai hamba yang ingin dibimbing?


Sudahkah peringatannya menghentikan langkah kita dari dosa? Sudahkah janji ampunan-Nya membuat kita berani pulang dan bertaubat?


Allah berfirman:


كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ


“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.”

(QS. Ali ‘Imran: 185)


Setiap yang bernyawa.


Termasuk diri yang sedang membaca tulisan ini. Termasuk penulisnya.


Kemudian, dalam kisah tersebut, Harun menawarkan bantuan.


“Adakah kebutuhanmu yang dapat kupenuhi?”


“Ada tiga,” jawab Bahlul.


“Sebutkan.”


“Tambahkan umurku.”


“Aku tidak mampu.”


“Lindungilah aku dari malaikat maut.”


“Aku tidak bisa.”


“Masukkan aku ke surga dan jauhkan aku dari neraka.”


“Aku tidak mampu.”


Tiga permintaan. Tiga pengakuan tentang keterbatasan manusia.


Seorang khalifah memiliki kekuasaan yang luas. Namun, kekuasaan itu tidak memberinya kemampuan untuk menetapkan ajal atau menjamin keselamatan seseorang di akhirat.


Di situlah letak teguran terdalam kisah ini:


Di hadapan Allah, seorang raja tetaplah seorang hamba.


Begitu pula kita.


Jabatan tidak menghapus kehambaan. Kekayaan tidak menghilangkan ketergantungan kepada-Nya. Pujian manusia tidak menjadi jaminan bahwa Allah meridhai kita.


Tentu kita boleh saling meminta pertolongan dalam perkara yang mampu dilakukan manusia. Saling membantu adalah kebaikan. Namun, hati perlu mengenal batas kemampuan makhluk agar tidak menggantungkan harapan mutlak kepadanya.


Ada saat ketika dokter telah mengerahkan ilmunya. Keluarga telah mencurahkan kasihnya. Harta telah dikeluarkan sebanyak-banyaknya.


Lalu kita menyadari betapa kita membutuhkan rahmat Allah.


Saudaraku…


Renungan ini mengajak kita memeriksa apa yang sedang kita persiapkan.


Silakan bangun rumah yang nyaman. Carilah rezeki yang halal. Rawat keluarga dengan penuh tanggung jawab. Jadikan semuanya jalan ketaatan yang akan kita bawa pahalanya ketika pulang.


Sebab rumah itu kelak masih dapat ditempati, sementara kita sudah tidak berada di dalamnya.


Pakaian kita mungkin masih tergantung rapi. Nomor kita masih tersimpan di telepon seseorang. Orang-orang yang mencintai kita mungkin masih ingin mendengar suara kita sekali lagi.


Tetapi kesempatan beramal telah berakhir.


Yang paling menyedihkan bukanlah meninggalkan rumah yang belum selesai dibangun, melainkan berakhirnya umur ketika taubat masih terus ditunda.


Maka, sebelum hari itu tiba, mari berbenah.


Ada hak orang lain yang perlu kita kembalikan. Ada permintaan maaf yang perlu kita sampaikan. Ada dosa yang harus kita tinggalkan. Ada shalat yang perlu kita jaga dengan lebih sungguh-sungguh.


Jangan menunggu hati terasa siap untuk bertaubat. Datanglah kepada Allah dengan hati yang masih lemah itu. Akuilah kesalahan. Mintalah pertolongan-Nya untuk berubah.


Ya Allah, kami sibuk memikirkan hari esok, padahal kami tidak tahu apakah masih diberi kesempatan untuk menjalaninya.


Ampunilah kelalaian kami. Berkahilah sisa umur kami. Jadikan apa yang Engkau titipkan kepada kami sebagai sarana mendekat kepada-Mu.


Dan ketika tiba waktunya kami meninggalkan semua yang kami cintai, wafatkanlah kami dalam iman, dengan membawa ampunan dan keridhaan-Mu.


Sebab pada akhirnya, kita semua adalah hamba yang sedang menunggu waktu untuk pulang.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama