Tri Sula Kejahatan: Ketika Penguasa, Pengusaha, dan Ulama Bertemu



Oleh: H. Syahrir Nasution, SE, MM


Sejarah berkali-kali mengajarkan satu pelajaran penting: kejahatan paling berbahaya bukanlah yang dilakukan sendirian, melainkan ketika kekuasaan, modal, dan legitimasi moral saling menopang.


Dalam istilah yang saya sebut Tri Sula Kejahatan, terdapat tiga elemen yang bila bersekutu untuk tujuan menyimpang akan melahirkan kerusakan yang jauh lebih sulit dilawan: penguasa, pengusaha, dan ulama.


Penguasa memiliki kewenangan membuat keputusan. Pengusaha memiliki sumber daya dan modal. Sementara ulama memiliki pengaruh moral di tengah masyarakat. Ketiganya pada dasarnya adalah pilar peradaban. Namun ketika ketiga pilar itu menyimpang dari amanah, lahirlah kolusi yang mampu menutupi ketidakadilan dengan kekuatan, uang, bahkan pembenaran.


Masyarakat biasanya hanya melihat hasil akhirnya: proyek yang merugikan rakyat, kebijakan yang berpihak kepada segelintir orang, atau hilangnya kepercayaan terhadap lembaga. Padahal akar persoalannya sering kali adalah pertemuan kepentingan yang berlangsung diam-diam, jauh dari pengawasan publik.


Karena itu, pers yang independen, aparat penegak hukum yang berintegritas, akademisi yang jujur, dan masyarakat sipil yang kritis menjadi benteng agar tiga kekuatan tersebut tetap berada di rel pengabdian, bukan menjadi alat kejahatan.


Negara tidak akan runtuh karena sedikit orang jahat. Negara runtuh ketika orang-orang yang memegang amanah memilih diam terhadap kejahatan. Integritas adalah benteng terakhir yang menjaga keadilan tetap hidup di tengah masyarakat.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama