BIARLAH MEREKA MAKAN DAN BERSENANG-SENANG: KETIKA HIDUP KEHILANGAN ARAH PULANG*



Oleh Ust Abdul Latif Khan


Ada yang setiap hari bertanya, “Hari ini makan apa?” tetapi hampir tidak pernah bertanya, “Hari ini aku membawa bekal apa untuk menghadap Allah?”


Ada yang begitu teliti memilih tempat berlibur, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh memikirkan tempat kembalinya setelah kubur.


Kita merencanakan banyak hal untuk kehidupan yang belum tentu panjang. Sementara untuk kehidupan yang kekal, kita merasa masih punya banyak waktu.


Lalu Al-Qur’an datang mengguncang kelalaian itu.


Allah ﷻ berfirman:


ذَرْهُمْ يَأْكُلُوا وَيَتَمَتَّعُوا وَيُلْهِهِمُ الْأَمَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ


“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong) mereka, kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya).”

(QS. Al-Hijr: 3).


Betapa menggetarkan kalimat itu: biarkanlah mereka.


Dalam konteks ayat ini, kalimat tersebut merupakan ancaman bagi orang-orang yang ingkar. Mereka tenggelam dalam kenikmatan dan angan-angan, sementara akibat perbuatannya tetap menanti.


Dalam ayat lain, Allah menggambarkan:


وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ


“Dan orang-orang yang kafir menikmati kesenangan (dunia), dan mereka makan seperti hewan makan; dan (kelak) nerakalah tempat tinggal bagi mereka.”

(QS. Muhammad: 12).


Ayat ini secara tegas berbicara tentang orang-orang kafir. Jangan kita menjadikannya alasan untuk sembarangan mengafirkan atau merendahkan sesama. Namun, sebagai orang beriman, kita perlu bercermin: adakah kelalaian terhadap akhirat yang mulai menguasai cara kita menjalani kehidupan?


Jangan terlalu cepat menunjuk siapa “mereka”, sebelum berani memeriksa bagaimana hidup kita.

---


Islam tidak melarang kita menikmati makanan yang lezat, memiliki rumah yang nyaman, atau bergembira bersama keluarga. Nikmat yang halal dapat menjadi jalan syukur. Mencari nafkah dapat menjadi ibadah. Makan pun dapat menguatkan tubuh untuk taat.


Yang perlu kita takutkan ialah ketika seluruh perjalanan hidup berhenti pada urusan memuaskan keinginan.


Bangun untuk mengejar penghasilan. Penghasilan untuk membeli kesenangan. Kesenangan habis, lalu mencari kesenangan berikutnya. Begitu terus, sampai tubuh melemah dan usia berakhir.


Di tengah putaran itu, shalat selalu menunggu waktu luang. Al-Qur’an menunggu suasana hati. Sedekah menunggu sisa belanja. Tobat menunggu usia tua.


Seakan-akan Allah hanya berhak atas sisa-sisa kehidupan kita.


Padahal seluruh kehidupan ini adalah pemberian-Nya.


Kita bisa kecewa karena makanan terlambat datang, tetapi tenang ketika shalat terlewatkan.


Kita merasa rugi ketika harga barang naik, tetapi tidak merasa kehilangan ketika berhari-hari berlalu tanpa membaca Al-Qur’an.


Kita panik ketika tubuh menunjukkan gejala sakit, tetapi membiarkan hati terbiasa dengan dusta, dengki, dan kezaliman.


Kita begitu takut kehilangan kenikmatan, sampai lupa takut kehilangan arah menuju keselamatan.

---


*Bayangkan sebuah meja makan.*


Hidangan masih hangat. Keluarga sedang berkumpul. Seseorang bercerita tentang rencana besok: pekerjaan yang harus diselesaikan, tempat yang ingin dikunjungi, barang yang ingin dibeli.


Tidak seorang pun menyangka bahwa bagi salah satu yang duduk di sana, itulah makan malam terakhirnya.


Esok hari, kursinya kosong.


Piringnya masih ada. Pakaiannya masih tergantung. Teleponnya masih menyimpan percakapan yang belum selesai.


Tetapi kesempatan beramalnya telah berakhir.


Betapa dekatnya jarak antara seseorang yang berkata, “Besok aku akan…,” dengan orang-orang yang berkata tentang dirinya, “Kemarin beliau masih….”


Kematian tidak menunggu daftar keinginan kita selesai.


Ia dapat datang ketika tabungan sedang bertambah, usaha sedang berkembang, jabatan sedang tinggi, dan kita sedang merasa bahwa kehidupan akhirnya berjalan sesuai rencana.


Lalu semua yang begitu sibuk kita urus harus ditinggalkan.


Yang selama ini kita tunda justru harus kita hadapi: pertemuan dengan Allah,

---


Saudaraku, salah satu angan-angan yang paling berbahaya ialah merasa bahwa kita pasti punya kesempatan untuk berubah nanti.


“Nanti kalau sudah mapan, aku akan lebih taat.”


“Nanti kalau urusan selesai, aku akan memperbaiki shalat.”


“Nanti kalau sudah tua, aku akan banyak bertobat.”


Tetapi kapan urusan dunia benar-benar selesai?


Setelah satu keinginan tercapai, lahir keinginan lain. Setelah satu kesibukan berlalu, datang kesibukan berikutnya.


Akhirnya, yang terus mundur adalah waktu untuk kembali kepada Allah. Sementara waktu kematian terus mendekat.


Kita tidak pernah memiliki surat jaminan bahwa usia akan sampai pada masa tobat yang kita rencanakan.


Karena itu, jangan menunggu kehilangan selera makan untuk belajar bersyukur. Jangan menunggu tubuh tidak mampu berdiri untuk menyesali shalat yang dahulu ditinggalkan. Jangan menunggu seseorang membentangkan kain kafan untuk menyadari bahwa pakaian terindah pun tidak dapat kita bawa.


*Mulailah ketika tubuh masih kuat.*


Periksa penghasilan kita. Adakah hak orang lain yang masih tertahan? Adakah kebohongan yang perlu diluruskan? Adakah kenikmatan yang kita beli dengan melanggar ketentuan Allah?


Perbaiki shalat kita. Sediakan waktu untuk Al-Qur’an. Sisihkan rezeki untuk mereka yang membutuhkan. Mintalah maaf kepada orang yang kita lukai.


Nikmati yang halal dengan syukur. Hentikan yang haram dengan kesungguhan. Jadikan umur yang tersisa sebagai kesempatan untuk pulang.

---


Ya Allah, kami mengakui betapa seringnya kami mengingat pemberian-Mu, tetapi melupakan kewajiban kami kepada-Mu.


Kami sibuk mengenyangkan perut, sementara hati kami kekurangan zikir.


Kami merawat penampilan, sementara dosa yang tersembunyi kami biarkan tanpa penyesalan.


Kami menyusun rencana bertahun-tahun, sementara untuk bertobat hari ini pun kami masih menunda.


Ampunilah kami, ya Rabb.


Bangunkan kami dari kelalaian selama kesempatan memperbaiki diri masih Engkau berikan. Bimbing kami menikmati rezeki-Mu dengan syukur dan menggunakan kekuatan kami untuk taat.


Jangan biarkan sisa umur ini habis hanya untuk mengejar sesuatu yang akhirnya harus kami tinggalkan.


Kelak, yang paling kita sesali bukan hidangan yang belum sempat kita cicipi, melainkan kesempatan bertobat yang terus kita tunda sampai ajal tiba.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama