Jakarta - Ada sebuah kisah yang mungkin belum banyak diketahui. Atau ada yg tau tapi banyak yg keliru menganggapnya satu tokoh yg sama.
Dua tokoh dari Mandailing Natal ternyata menggunakan gelar yang sama: Sutan Kumala Pontas.
Yang pertama adalah Zainal Abidin gelar Sutan Kumala Pontas—tokoh birokrasi yang kemudian mencapai puncak karier sebagai Gubernur Sumatera Utara. Arsip ANRI mencatat pelantikannya pada 25 Januari 1957. Tokoh satu ini putera Batahan, tepatnya dari Pulau Tamang, Pantai Barat Sumatera Utara.
Yang kedua adalah dr. Radjamin Nasution gelar Sutan Kumala Pontas.
Ia lahir di Barbaran Julu, Panyabungan, pada 15 Agustus 1892. Ia menempuh pendidikan kedokteran di STOVIA, menjadi dokter, kemudian masuk ke dunia pemerintahan dan pergerakan di Surabaya.
Dan setelah Indonesia merdeka—
Radjamin Nasution menjadi Wali Kota pertama Surabaya pada masa Republik.
Bayangkan perjalanan dua orang ini.
Satu dari wilayah Pantai Barat Sumatera menuju kursi Gubernur Sumatera Utara.
Satu lagi dari tanah Mandailing menuju Surabaya, menjadi dokter dan kemudian memimpin kota besar di Jawa Timur.
Dua orang.
Satu gelar.
Dua kota besar.
Dan satu akar sejarah yang membawa kita kembali ke Mandailing Natal.
Bagi Sumatra’s Westkust Society, kisah seperti ini menarik bukan hanya karena tokohnya.
Tetapi karena ia menunjukkan bahwa sejarah Pantai Barat Sumatera ternyata memiliki jaringan manusia yang jauh lebih luas daripada yang sering kita bayangkan.
Batahan. Panyabungan. Sibolga. Medan. Surabaya.
Nama-nama tempat itu mungkin berjauhan di peta.
Tetapi dalam perjalanan manusia, sejarah bisa membuat semuanya saling terhubung.
Sumber:
Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI)
Arsip dan kajian biografis Zainal Abidin/Sutan Kumala Pontas
Kajian biografis dr. Radjamin Nasution
Dokumentasi sejarah Surabaya

Posting Komentar