KEBENARAN AKAN MENEMUKAN JALANNYA

 


Oleh: H Syahrir Nasution

Ungkapan klasik “The truth will find the way, but the false will be up” mengandung makna yang sangat dalam dalam kehidupan manusia. Jika diterjemahkan secara bebas, ungkapan tersebut bermakna bahwa kebenaran pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri, sementara kepalsuan pada waktunya akan terungkap dan terbongkar.

Sejak dahulu, manusia mengenal sebuah adagium yang kerap dijadikan pegangan hidup: kebenaran mungkin dapat disalahkan, tetapi sulit untuk dikalahkan. Dalam perjalanan sejarah umat manusia, banyak sekali contoh bagaimana kebenaran sempat ditutup-tutupi, diputarbalikkan, bahkan ditekan oleh berbagai kepentingan. Namun seiring berjalannya waktu, fakta dan kebenaran itu selalu muncul ke permukaan.

Hal ini terjadi karena akal sehat manusia pada hakikatnya tidak mudah dibohongi. Sekuat apa pun dalih dan cara yang digunakan untuk menutupi kebenaran, nurani dan logika manusia tetap memiliki kemampuan untuk menilai mana yang benar dan mana yang salah. Oleh sebab itu, masyarakat yang memiliki kesadaran moral dan intelektual akan selalu berupaya mencari kebenaran yang sesungguhnya.

Bagi umat terdahulu, keyakinan terhadap kebenaran bukan sekadar wacana. Mereka menjadikannya sebagai prinsip hidup yang tidak tergoyahkan. Kekuatan iman dan keyakinan kepada Tuhan menjadi fondasi utama dalam menjalani kehidupan, sehingga godaan duniawi, iming-iming materi, maupun tekanan kekuasaan tidak mudah menggoyahkan pendirian mereka.

Dari sinilah lahir sebuah nilai penting dalam kehidupan, yaitu memiliki prinsip hidup yang kuat atau istiqomah. Istiqomah bukan sekadar keteguhan sikap, tetapi juga konsistensi dalam memegang nilai-nilai kebenaran, kejujuran, dan keadilan. Dalam berbagai situasi, orang yang istiqomah akan tetap berdiri di jalan yang benar meskipun menghadapi risiko dan tantangan.

Hakikat kehidupan di dunia ini sejatinya hanyalah sementara. Karena itu, manusia dituntut untuk mengabdikan hidupnya kepada Sang Khalik, menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab, serta menjadikan nilai-nilai kebenaran sebagai pedoman dalam bertindak.

Seseorang yang berpegang pada kebenaran tidak seharusnya merasa takut atau ragu untuk menyuarakan dan memperjuangkannya. Sebab keyakinan bahwa ridha Allah SWT selalu menyertai perjuangan di jalan yang benar menjadi kekuatan moral yang tidak ternilai.

Pada akhirnya, perjalanan hidup manusia bukan hanya tentang bagaimana ia menjalani kehidupan di dunia, tetapi juga tentang pertanggungjawaban di hadapan Tuhan di akhirat kelak. Maka dari itu, mempertahankan kebenaran bukan hanya kewajiban moral, melainkan juga bagian dari ibadah dan pengabdian kepada Allah SWT.

Karena itulah, sepanjang sejarah, satu hal yang selalu terbukti: kebenaran mungkin tertunda untuk menang, tetapi tidak pernah benar-benar kalah.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama