Kesalehan Sosial dan Keberanian Moral Disorot, H. Syahrir Nasution: Dunia Tak Kekurangan Orang Ibadah

 


Medan — Wacana tentang hubungan antara religiusitas dan keberanian sosial kembali menjadi perhatian. Tokoh masyarakat Sumatera Utara, H. Syahrir Nasution, menegaskan bahwa krisis utama yang dihadapi dunia saat ini bukanlah kekurangan orang yang beribadah, melainkan minimnya individu yang mampu menjadikan ibadah sebagai sumber keberanian sosial dan kekuatan moral dalam menghadapi ketidakadilan.

Dalam pernyataannya, Selasa (21/4), Syahrir mengungkapkan bahwa esensi dari kalimat tauhid “Laa Ilaaha Illallaah” bukan sekadar pengakuan lisan atas keesaan Tuhan, melainkan sebuah prinsip pembebasan yang memutus seluruh rantai ketakutan manusia terhadap sesama makhluk, termasuk terhadap kekuasaan yang bersifat zalim.

“Tauhid sejatinya membebaskan manusia dari segala bentuk ketundukan selain kepada Allah. Ketika seseorang masih takut menyuarakan kebenaran karena tekanan kekuasaan atau kepentingan jabatan, maka perlu dipertanyakan sejauh mana tauhid itu benar-benar hidup dalam dirinya,” ujar Syahrir.

Ia menyoroti fenomena yang menurutnya kian menguat di tengah masyarakat, yakni munculnya kesalehan yang bersifat formalitas dan ritual semata, namun tidak berdampak pada keberanian untuk menegakkan nilai-nilai keadilan. Dalam pandangannya, agama tidak seharusnya melahirkan individu yang pasif, apalagi menjadi alat legitimasi bagi kekuasaan yang menyimpang.

“Religiusitas yang sejati tidak melahirkan manusia yang penurut tanpa sikap, tidak pula melahirkan penjilat kekuasaan atau pengkhianat nilai-nilai kebenaran. Justru, iman yang kuat akan melahirkan manusia yang merdeka—yang hanya tunduk kepada otoritas langit, bukan kepada tekanan atau kepentingan duniawi,” tegasnya.

Lebih lanjut, Syahrir mengingatkan bahwa kesalehan yang tidak disertai dengan nalar kritis justru berpotensi membahayakan. Ia menilai, dalam kondisi seperti itu, agama dapat dengan mudah dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk mempertahankan dominasi dan melanggengkan praktik penindasan.

“Kesalehan tanpa nalar kritis hanyalah alat. Ia bisa dipakai oleh siapa saja, termasuk oleh para pendzaliman, untuk membungkam suara kebenaran dan mempertahankan kekuasaan atas nama Tuhan,” katanya.

Menurutnya, dunia saat ini sedang menghadapi paradoks besar: jumlah orang yang beribadah terus meningkat, namun ketidakadilan, korupsi, dan penyalahgunaan kekuasaan tetap marak terjadi. Hal ini, kata dia, menjadi indikator bahwa ibadah yang dilakukan belum sepenuhnya bertransformasi menjadi kesalehan sosial.

“Ibadah seharusnya tidak berhenti pada hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan. Ia harus melahirkan dampak horizontal—yakni keberanian membela yang lemah, melawan ketidakadilan, serta menegakkan kebenaran tanpa rasa takut,” ujarnya.

Syahrir juga mengajak masyarakat, khususnya kalangan umat beragama, untuk melakukan refleksi mendalam terhadap makna kesalehan. Ia menekankan pentingnya membangun karakter yang tidak hanya taat secara ritual, tetapi juga memiliki integritas dan keberanian moral dalam kehidupan sosial.

“Jangan menjadi orang saleh hanya untuk menyenangkan penguasa atau mendapatkan posisi. Jadilah orang saleh yang kehadirannya justru membuat para pelaku kezaliman tidak tenang. Kesalehan harus menghadirkan keberanian, bukan ketakutan,” katanya.

Ia menambahkan, keberanian sosial bukan berarti sikap konfrontatif tanpa arah, melainkan keberanian yang berlandaskan nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan. Dalam konteks ini, kritik terhadap kekuasaan, menurutnya, merupakan bagian dari tanggung jawab moral yang tidak boleh diabaikan.

Pernyataan Syahrir tersebut menjadi refleksi penting di tengah dinamika sosial dan politik yang terus berkembang. Di tengah berbagai tantangan, mulai dari praktik korupsi hingga ketimpangan sosial, kehadiran individu-individu dengan kesalehan sosial dinilai menjadi kebutuhan mendesak.

Dengan demikian, ia berharap agar pemahaman keagamaan tidak hanya berhenti pada aspek simbolik dan seremonial, tetapi benar-benar mampu melahirkan perubahan nyata dalam kehidupan bermasyarakat.

“Dunia tidak kekurangan orang yang beribadah. Yang kurang adalah mereka yang berani menjadikan ibadahnya sebagai kekuatan untuk membela kebenaran. Inilah yang harus kita bangun bersama,” pungkasnya.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama