Pagar Tumbang, Emosi Ikut Rebahan — Demo Binjai Berujung “Olahraga Gratis”

 


Medan - Senin sore di Binjai mendadak ramai, bukan karena diskon, tapi karena ratusan pedagang dan mahasiswa turun ke depan Kantor Wali Kota. Awalnya sih niatnya baik: orasi, bawa tuntutan, suara lantang tapi masih sopan. Tapi ya namanya emosi kalau dipendam lama, bisa meledak juga.


Ceritanya, para pedagang ini lagi pusing tujuh keliling sejak lapak mereka di sekitar Masjid Agung dan RS Kesrem ditertibkan. Jualan berhenti, pemasukan ikut cuti. Harapan mereka sederhana: diajak ngobrol, dicari jalan tengah. Eh, yang ditunggu-tunggu malah belum nongol juga.


Nah, di sinilah mulai panas. Massa yang tadinya cuma “speak-speak” berubah jadi “action-action”. Pagar kantor wali kota yang tadinya berdiri gagah, akhirnya ikut tumbang—kayak habis kena leg day tanpa pemanasan. Suara teriakan makin kencang, suasana makin tegang.


Salah satu peserta aksi, Andi (28), bilang mereka sudah capek bolak-balik menyuarakan keluhan. “Kami ini cuma mau solusi, bukan disuruh hilang dari peta,” kira-kira begitu inti curhatnya di tengah keramaian.


Petugas keamanan langsung sigap, berusaha nenangin situasi biar gak makin melebar. Sempat ada dorong-dorongan tipis, tapi akhirnya kondisi bisa dikendalikan. Untungnya gak sampai jadi “episode lanjut”.


Kejadian ini jadi pengingat, kalau komunikasi itu penting. Soalnya kalau aspirasi gak ketemu jawaban, yang roboh bukan cuma pagar—kesabaran juga bisa ikut ambruk.


Ending-nya? Binjai hari ini bukan cuma belajar soal demo, tapi juga tentang pentingnya duduk bareng sebelum semuanya berdiri tegang.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama