Oleh H. Syahrir Nasution
Pertumbuhan ekonomi di Sumatera Utara dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan kecenderungan stabil, namun belum menghadirkan lompatan berarti. Di tengah dinamika ekonomi nasional, kondisi ini menimbulkan pertanyaan mendasar: ke mana arah pembangunan ekonomi Sumatera Utara sesungguhnya diarahkan?
Realitas di lapangan memperlihatkan bahwa aktivitas ekonomi masih terpusat di wilayah tertentu, khususnya Medan dan kawasan Deli Serdang. Kawasan ini menjadi episentrum perdagangan, jasa, dan industri. Sementara itu, wilayah di luar koridor utama pertumbuhan—termasuk kawasan Tapanuli dan kepulauan Nias—masih bergerak dalam laju yang lebih lambat.
Ketimpangan ini bukan sekadar persoalan geografis, melainkan cerminan dari belum meratanya akses terhadap infrastruktur, investasi, dan peluang ekonomi. Akibatnya, pertumbuhan yang terjadi cenderung eksklusif dan belum sepenuhnya menyentuh seluruh lapisan wilayah.
Di sisi lain, struktur ekonomi daerah masih didominasi sektor berbasis komoditas seperti kelapa sawit dan karet. Ketergantungan pada komoditas mentah menyebabkan rendahnya nilai tambah dan tingginya kerentanan terhadap fluktuasi harga global. Upaya hilirisasi yang diharapkan mampu mendorong transformasi ekonomi belum menunjukkan hasil yang optimal.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan utama bukan semata pada angka pertumbuhan, melainkan pada arah dan kualitas pertumbuhan itu sendiri. Tanpa visi yang jelas dan terukur, pembangunan ekonomi berisiko berjalan tanpa fokus dan kehilangan momentum untuk bertransformasi.
Sejumlah daerah lain di Indonesia telah menunjukkan bahwa lompatan ekonomi dapat dicapai melalui keberanian menetapkan sektor prioritas, konsistensi kebijakan, serta penguatan ekosistem investasi. Pembelajaran dari pengalaman tersebut menjadi relevan bagi Sumatera Utara untuk merumuskan langkah ke depan.
Oleh karena itu, diperlukan arah kebijakan yang lebih tegas dan terintegrasi, antara lain melalui pengembangan pusat-pusat pertumbuhan baru di luar wilayah inti, percepatan pembangunan infrastruktur konektivitas, serta penguatan sektor unggulan berbasis nilai tambah.
Pada akhirnya, masa depan ekonomi Sumatera Utara sangat ditentukan oleh keberanian dalam menetapkan visi dan konsistensi dalam menjalankannya. Tanpa itu, potensi besar yang dimiliki daerah ini berisiko tidak berkembang secara optimal dan justru tertinggal di tengah persaingan antarwilayah yang semakin kompetitif.

Posting Komentar