Goresan Pena : Parulian Nasution
Di kala senja di ufuk barat mulai menghilang*,*terlihat indahnya cakrawala di langit berwarna jingga ke emas emasan*.*Ketika itu seorang ibu menatap jauh dalam khayalan sambil menikmati kopi kesukaannya*.*Lalu Ibu berdiri sambil menyiram bunga di depan rumahnya*.*Wajahnya yang dulu halus sudah mulai terlihat kerutan kerutan seiring dengan waktu yang sudah menua*.
*Langit pun makin gelap, tapi hatinya tetap hangat karena cahaya yang tak pernah padam dalam hidupnya*.
*Itulah Ibu yang selalu ada dan hadir membayangkan anaknya yang sudah pada jauh diperantauan untuk mengadu nasib demi masa depan yang diimpikannya*.
*Sambil membayangkan ketika anaknya masih suka main di tengah hujan yang menyejukkan*.*Teringat seragam sekolahnya yang sudah kotor, namun ibu tersenyum lembut melihatnya*.*Lalu ibu mencucinya sampai bersih tanpa mengeluh sedikitpun pun*. *Makin mendalam*
*khayalnya membayangkan ketika anaknya sakit* , *Ibu rela menjaganya semalaman suntuk tak harus tertidur pulas sambil mengompres keningnya*.*Lalu menggenggam tangannya erat erat* , *seolah Ibu siap menanggung beban sakit itu*.
*Seiring berjalannya waktu anak pun sudah dewasa dan mulai menghadapi rintangan*.*Ibu tetap menjadi tempat mengadu sambil memberi nasehat untuk menenangkan anaknya*. *Seperti terasa hangatnya pelukan yang tak tergantikan*.*Sementara ayah tidak pernah berhenti berusaha demi membiayai kehidupan Rumah tangganya sampai membiayai sekolah anaknya*.
*Sungguh betapa dalamnya kasih sayang Ibu seiring Perjalanan dunia pun terus berubah*.
*Boleh saja temannya datang dan pergi bahkan bisa saja melupakan sahabatnya*.*Namun orang tua itu selalu menyimpan anaknya dalam ingatan dan hatinya*.
*Cinta Ibu tidak tergantung pada keadaan ataupun kesuksesan, namun terus mengingat anaknya bahkan kadang ada rasa khawatir namun cintanya terus makin dalam*.*Begitulah tulus dan sejatinya Ibu untuk merawat anak yang dicintainya*.
*Ibu tidak menuntut anaknya untuk selamanya berada disisinya, ia hanya ingin melihat anaknya menemukan kebahagiaan dalam kehidupannya*.
*Orang tua itu sadar bahwa anaknya bukan hanya miliknya,karena anak itu adalah titipan kehidupan yang harus di beri kebebasan untuk menentukan jalan hidupnya sendiri*.
*Cinta sejati Ibu tidak terikat pada rasa memiliki*.
*Melepaskan bukan berarti berhenti mencintai*.*Kasih Ibu ada dalam doa dan harapan penuh perhatian yang tak mengenal jarak pun dari kejauhan*.
*Beberapa hari lagi Idul Adha akan tiba,wajah anak pun makin membayang,ingin bersama menuju Sholat Idul Adha sambil bawa cucu menuju Masjid sambil mengumandangkan takbir*.
*Kemudian ingin bersama menyaksikan Qurban Keluarga yang akan disembelih sebagai bukti kedekatan pada Allah swt*.
*Selamat Merayakan Idul Adha anak ku dan segenap keluargaku* *semoga Allah senantiasa menjadi tempat kita bersandar mengharap Ridho dan Taufiqnya*.
*Tetesan Air mata ibu pun tak terbendung sebagai bukti kecintaan yang tak ada batas dan tepinya*.
*Kita maknai Idul Adha ini dengan harapan melahirkan Ibu Ibu tangguh bagai Hajar yang penuh keikhlasan dan ketulusan*.
*Muncul Ismail - Ismail Masa depan yang memiliki Moralitas yang tinggi*

Posting Komentar