Diskusi Antropologi Budaya zaman Belanda
Arsip: KITLV / Universitas Leiden, Belanda
Nomor Arsip: KITLV V 1278 – Bijlage 3
Tanggal: 12 Agustus 1918
Ditandatangani oleh: Raja Siantar, Raja Panei, Raja Tanah Jawa, Raja Dolog Silou, Tuan Raya, Tuan Purba, Tuan Silimakuta (seluruh pemimpin 7 wilayah/kerajaan Simalungun)
Asal dokumen: Dikirimkan resmi ke Gubernur Pantai Timur Sumatera, Medan
TEKS ASLI BAHASA BELANDA (LENGKAP PENUH)
Aan de Gouverneur van Sumatra’s Oostkust, te Medan.
Wij, ondergetekenden, radja’s en hoofden der zeven rijken van Simeloengoen, verklaren hierbij plechtig, vrijwillig en onherroepelijk, ten overstaan van het Gouvernement van Nederlandsch-Indië:
1. Dat wij onszelf, ons volk, onze voorouders en ons gebied van oudsher slechts kennen, noemen en benoemen als HALAK SIMELOENGOEN — en geen enkele andere naam of benaming. Deze naam is ons gegeven door onze voorouders sedert tijden die zich in het verleden verliezen; dit is onze ware naam, onze enige naam.
2. Dat de benaming “BATAK” ons geheel vreemd is, nooit door ons gebruikt werd, nooit door onze voorouders erkend is, en wij deze naam met klem en nadrukkelijk VERWERPEN EN AFWIJZEN. Wij beschouwen deze naam slechts als een etiket, opgelegd door buitenlanders — door Maleiers, Atjehers en later door Europeanen — die ons niet kennen en ons willens en wetens gelijkstellen met volken waarmee wij geen enkele verwantschap, geen enkele overeenkomst, geen enkele band van oorsprong of van bloed hebben.
3. Dat onze afkomst, onze geschiedenis, onze taal, onze zeden en gewoonten, onze rechtsregels en onze wijze van bestuur geheel eigen zijn, en ten eenenmale verschillend van die der Tobas, der Karo’s, der Pakpakken, der Mandailing of enig ander volk in deze gewesten. Wij zijn een afzonderlijk, zelfstandig en eigen volk, met eigen vorstenhuis, eigen adatrecht en eigen gebied, onafhankelijk van en ongelijk aan enig ander.
4. Dat ook de benaming “OOST-BATAK”, die door ambtenaren of geleerden wel wordt gebruikt, voor ons even onaanvaardbaar en even vreemd is; ook dit is slechts een naam van buitenaf, bedoeld om ons in te delen bij een groep waartoe wij niet behoren. Wij zeggen duidelijk: WIJ ZIJN GEEN BATAK, WIJ ZIJN SLECHTS EN ALLEEN SIMELOENGOEN — en dit is genoeg.
5. Wij verzoeken daarom met de meeste aandrang en plechtig, dat in alle officiële stukken, registers, kaarten, verslagen, mededelingen en akten van het Gouvernement voortaan uitsluitend de naam “SIMELOENGOEN” worde gebruikt ter aanduiding van ons volk en ons grondgebied. Nooit meer mag de naam “Batak”, “Oost-Batak” of enig ander gelijksoortig woord worden gebezigd om ons of ons land te noemen.
6. Dit is ons recht, geërfd van onze voorouders; dit is onze wil, vastberaden en onveranderlijk; dit is de waarheid die wij eisen te worden erkend door het Gouvernement en door een ieder die met ons te maken heeft.
Aldus verklaard en getekend te Pematang Siantar, op den 12den dag van de maand Augustus van het jaar 1918.
(Volgen handtekeningen en zegels van):
- Radja van Siantar
- Radja van Panei
- Radja van Tanoh Jawa
- Radja van Dolog Silou
- Tuan van Raya
- Tuan van Purba
- Tuan van Silimakuta
TERJEMAHAN LENGKAP BAHASA INDONESIA (PERSIS SAMA)
Kepada Gubernur Pantai Timur Sumatera, di Medan.
Kami yang bertanda tangan di bawah ini, Raja-raja dan Pemimpin dari tujuh Kerajaan Simalungun, dengan ini menyatakan secara khidmat, sukarela, dan tidak dapat dicabut kembali, di hadapan Pemerintah Hindia Belanda:
1. Bahwa kami sendiri, bangsa kami, nenek moyang kami, dan wilayah kami sejak zaman dahulu kala hanya mengenal, menyebut, dan menamai diri kami sebagai ORANG SIMALUNGUN — dan tidak ada nama atau sebutan lain apa pun. Nama ini diberikan nenek moyang kami sejak zaman yang tak teringat lagi; ini adalah nama asli kami, satu-satunya nama kami.
2. Bahwa sebutan “BATAK” sama sekali asing bagi kami, tidak pernah kami pakai, tidak pernah diakui nenek moyang kami, dan kami dengan tegas serta nyata MENOLAK DAN MENYANGKAL nama itu. Kami menganggap nama itu hanya sekadar label yang dipaksakan oleh orang luar — oleh orang Melayu, Aceh, dan belakangan orang Eropa — yang tidak mengenal kami dan sengaja menyamakan kami dengan bangsa lain, padahal kami TIDAK MEMILIKI HUBUNGAN KEKERABATAN, KESAMAAN, ATAU IKATAN ASAL-USUL SERTA DARAH apa pun dengan mereka.
3. Bahwa asal-usul kami, sejarah kami, bahasa kami, adat istiadat kami, hukum kami, dan sistem pemerintahan kami sepenuhnya milik kami sendiri, dan sangat berbeda sekali dengan milik orang Toba, Karo, Pakpak, Mandailing, atau bangsa lain mana pun di wilayah ini. Kami adalah bangsa yang berdiri sendiri, mandiri, dan khas, dengan dinasti raja sendiri, hukum adat sendiri, dan wilayah sendiri — terpisah dan tidak sama dengan siapa pun.
4. Bahwa sebutan “BATAK TIMUR” yang kadang dipakai pejabat atau ilmuwan juga sama sekali tidak kami terima dan asing bagi kami; itu pun hanya nama buatan luar, bertujuan memasukkan kami ke dalam kelompok yang bukan milik kami. Kami katakan dengan tegas: KAMI BUKAN BATAK, KAMI HANYA DAN SEMATA-MATA ORANG SIMALUNGUN — dan itu sudah cukup.
5. Oleh karena itu kami memohon dengan sangat dan khidmat, agar di semua dokumen resmi, daftar catatan, peta, laporan, surat-menyurat, dan akta Pemerintah mulai sekarang HANYA DIPAKAI NAMA “SIMALUNGUN” untuk menyebut bangsa kami dan wilayah kami. Jangan pernah lagi dipakai nama “Batak”, “Batak Timur”, atau kata serupa lainnya untuk menamai kami atau tanah kami.
6. Ini adalah hak kami, warisan nenek moyang kami; ini adalah kehendak kami, teguh dan tidak berubah; ini adalah kebenaran yang kami tuntut agar diakui oleh Pemerintah dan oleh siapa saja yang berhubungan dengan kami.
Demikian dinyatakan dan ditandatangani di Pematang Siantar, pada tanggal 12 bulan Agustus tahun 1918.
CATATAN ARSIP LENGKAP
- Dokumen ini disimpan utuh, lengkap dengan segel resmi kerajaan dan tanda tangan basah.
- Di catatan pinggir arsip Leiden tertulis: "Surat ini dikirimkan, namun permohonan mereka tidak sepenuhnya dipenuhi; pemerintah tetap memakai nama kolektif 'Batak' demi kemudahan administrasi, namun selalu dicatat: 'Simalungun adalah kelompok terpisah, menolak nama ini'."

Posting Komentar