Ketika bumi berguncang, mungkin yang sedang Allah guncang bukan hanya tanah di bawah kaki kita, tetapi juga hati yang terlalu lama merasa aman.
Gempa datang tanpa mengetuk pintu.
Beberapa detik saja, rumah yang selama bertahun-tahun dibangun dapat retak. Jalan yang kokoh dapat terbelah. Manusia yang beberapa menit sebelumnya sibuk dengan pekerjaan, harta, rencana, dan ambisinya, tiba-tiba berlari keluar hanya dengan pakaian yang melekat di badan.
Pada saat itu kita baru mengerti:
betapa lemahnya manusia.
Yang merasa kuat mencari tempat berlindung.
Yang kaya meninggalkan hartanya.
Yang berpangkat tidak sempat membawa jabatannya.
Yang sibuk mengejar dunia tiba-tiba hanya memikirkan satu hal:
selamat.
Lalu, adakah sesuatu yang ingin Allah ajarkan kepada kita melalui guncangan bumi?
1. Gempa Adalah Ayat Kekuasaan Allah
Allah berfirman:
«إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا
“Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya.”
(QS. Az-Zalzalah: 1–2)»
Kita boleh menjelaskan gempa melalui ilmu geologi. Ada pergerakan lempeng bumi, patahan, tekanan, dan pelepasan energi.
Semua penjelasan ilmiah itu benar pada wilayahnya.
Namun seorang mukmin tidak berhenti pada pertanyaan:
“Bagaimana gempa terjadi?”
Ia juga bertanya:
“Apa yang seharusnya gempa ini lakukan terhadap hatiku?”
Sains menjelaskan mekanismenya.
Iman mengajarkan bagaimana kita mengambil pelajaran darinya.
Sebab lempeng bumi tidak pernah keluar dari kekuasaan Allah.
2. Gempa Menghancurkan Ilusi Bahwa Kita Berkuasa
Manusia membangun gedung tinggi, teknologi canggih, sistem keamanan, kekayaan, dan kekuasaan.
Lalu bumi bergerak beberapa detik.
Semuanya dapat berubah.
Betapa mudah manusia lupa bahwa di balik segala kemampuan yang dimilikinya, ia tetaplah makhluk yang sangat lemah.
Allah berfirman:
«وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا
“Dan manusia diciptakan dalam keadaan lemah.”
(QS. An-Nisa’: 28)»
Gempa seakan berbisik:
“Jangan terlalu sombong berjalan di atas bumi. Tanah yang kau injak pun berada dalam kekuasaan Allah.”
Hari ini kita berdiri di atasnya.
Suatu hari kita akan dibaringkan di dalamnya.
3. Apakah Gempa Itu Azab?
Di sinilah kita harus berhati-hati.
Tidak setiap bencana boleh kita vonis sebagai azab bagi orang-orang yang menjadi korbannya.
Dalam Al-Qur’an memang terdapat umat-umat terdahulu yang dihukum Allah dengan berbagai bencana karena kekufuran dan pembangkangan mereka.
Namun terhadap suatu gempa tertentu hari ini, kita tidak memiliki wahyu yang memastikan:
“Ini pasti azab bagi mereka.”
Karena itu jangan mudah menunjuk korban dan berkata:
“Mereka sedang diazab.”
Boleh jadi bagi seseorang bencana menjadi ujian.
Bagi yang lain menjadi penghapus dosa.
Bagi sebagian orang menjadi sebab naiknya derajat.
Bagi masyarakat menjadi peringatan.
Dan bagi kita yang menyaksikannya dari jauh, boleh jadi ia merupakan panggilan keras agar segera kembali kepada Allah.
Jangan sibuk menebak dosa orang yang tertimpa bencana sampai lupa memeriksa dosa diri sendiri.
4. Gempa Seharusnya Mengguncang Hati Sebelum Mengguncang Rumah
Yang mengkhawatirkan bukan hanya ketika bumi berguncang.
Yang jauh lebih mengkhawatirkan adalah ketika bumi telah berguncang, tetapi hati kita tetap tidak bergerak.
Berita gempa kita lihat.
Korban kita saksikan.
Rumah runtuh memenuhi layar.
Kita berkata,
“Innalillahi…”
Kemudian beberapa menit kemudian kembali tertawa, kembali bermaksiat, kembali menzalimi manusia, kembali meninggalkan shalat, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Padahal boleh jadi Allah sedang mengirimkan kepada kita alarm dari bumi.
Bukan agar kita hidup dalam ketakutan.
Tetapi agar kita hidup dalam kesadaran.
5. Gempa Mengingatkan Kita kepada Guncangan yang Jauh Lebih Besar
Gempa terbesar belum terjadi.
Allah menggambarkan hari itu:
«يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ
“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu. Sesungguhnya guncangan Hari Kiamat itu adalah sesuatu yang sangat dahsyat.”
(QS. Al-Hajj: 1)»
Gempa dunia mungkin hanya berlangsung beberapa detik.
Tetapi ia cukup membuat manusia kehilangan ketenangan.
Lalu bagaimana dengan zalzalah as-sā‘ah, guncangan Hari Kiamat?
Hari ketika gunung-gunung dihancurkan.
Lautan meluap.
Langit terbelah.
Kuburan dibongkar.
Dan setiap manusia berdiri sendiri di hadapan Allah.
Ketika itu tidak ada lagi rumah untuk tempat berlari.
Tidak ada lagi kendaraan untuk menyelamatkan diri.
Tidak ada rekening yang dapat menolong.
Tidak ada jabatan yang dapat melindungi.
Yang dibawa hanyalah:
iman dan amal.
6. Jangan Hanya Menyelamatkan Tubuh, Selamatkan Juga Jiwa
Ketika gempa terjadi kita diajarkan melakukan mitigasi.
Keluar menuju tempat aman.
Menjauhi bangunan yang berbahaya.
Melindungi keluarga.
Mempersiapkan jalur evakuasi.
Itu semua penting.
Tetapi ada satu mitigasi yang jauh lebih penting:
mitigasi menuju akhirat.
Adakah shalat kita sudah dijaga?
Adakah dosa yang belum kita tinggalkan?
Adakah utang yang belum kita selesaikan?
Adakah hak manusia yang masih kita tahan?
Adakah orang tua yang belum kita bahagiakan?
Adakah hati yang kita sakiti tetapi belum kita mintai maaf?
Adakah taubat yang terus kita tunda?
Karena kematian juga tidak pernah mengirim jadwal kedatangannya.
7. Jika Hari Ini Kita Masih Selamat
Jika gempa terjadi di tempat lain sementara rumah kita masih berdiri, jangan hanya berkata:
“Alhamdulillah, bukan daerah kita.”
Ucapkanlah:
“Alhamdulillah Allah masih memberiku kesempatan.”
Kesempatan untuk memperbaiki shalat.
Kesempatan untuk memeluk anak-anak.
Kesempatan untuk meminta maaf.
Kesempatan untuk mengembalikan hak orang.
Kesempatan meninggalkan maksiat.
Kesempatan memperbanyak sedekah.
Kesempatan bertaubat sebelum suatu hari kita tidak lagi memiliki kesempatan.
Dan kepada saudara-saudara yang menjadi korban, jangan hanya kirim simpati.
Kirim doa.
Kirim bantuan.
Kirim makanan.
Kirim tenaga.
Kirim sebagian rezeki yang Allah titipkan kepada kita.
Karena iman tidak berhenti pada rasa takut kepada bencana.
Iman melahirkan kasih sayang kepada mereka yang sedang tertimpa bencana.
Ada Apa di Balik Gempa?
Mungkin kita tidak pernah mengetahui seluruh rahasia Allah di balik sebuah gempa.
Tetapi satu hal pasti:
tidak ada satu pun peristiwa dalam kekuasaan-Nya yang sia-sia.
Maka ketika bumi berguncang, jangan hanya periksa apakah dinding rumah kita retak.
Periksalah hati kita.
Jangan-jangan selama ini yang lebih dahulu retak adalah hubungan kita dengan Allah.
Jangan hanya bertanya:
“Apakah akan ada gempa susulan?”
Bertanyalah pula:
“Jika malam ini kematian menyusul, sudahkah aku siap bertemu Allah?”
Sebab suatu hari bumi benar-benar akan berguncang untuk terakhir kalinya.
Ketika hari itu tiba, manusia tidak lagi membutuhkan tempat evakuasi.
Yang dibutuhkan hanyalah rahmat Allah dan amal yang pernah dipersiapkan untuk menghadap-Nya.
Renungkanlah...
Gempa yang paling mengerikan bukanlah ketika bumi berguncang di bawah kaki kita, tetapi ketika berbagai peringatan Allah telah mengguncang kehidupan kita, sementara hati tetap keras, dosa tetap dipelihara, dan taubat masih terus ditunda.
Boleh jadi Allah mengguncang bumi agar hati manusia kembali tunduk kepada Pemilik bumi.
Wallāhu a‘lam.
Ust Abdul Latif Khan
-- Serial Dari Mihrab Maya

Posting Komentar