MUNAFIQUN: KETIKA WAJAH KEBAIKAN MENYEMBUNYIKAN KEMUNAFIKAN



Oleh: H. Syahrir Nasution

Ada dosa yang dilakukan secara terang-terangan. Ada pula dosa yang dilakukan di balik wajah kesalehan. Yang kedua inilah yang jauh lebih mengkhawatirkan: kemunafikan.

Al-Qur'an memberikan peringatan yang sangat keras tentang orang-orang munafik. Dalam QS. An-Nisa ayat 145 disebutkan bahwa orang-orang munafik berada “di tingkatan yang paling bawah dari neraka.”

Peringatan tersebut tentu bukan untuk dijadikan senjata guna mencap setiap orang yang berbeda pandangan dengan kita sebagai munafik. Sebaliknya, ayat tersebut harus menjadi cermin untuk mengoreksi diri sendiri.

Sebab kemunafikan bukan sekadar persoalan ucapan.

Munafik adalah ketika yang tampak berbeda dengan yang tersembunyi. Lidah mengatakan iman, tetapi hati menolak. Di depan berbicara tentang kebaikan, di belakang melakukan keburukan. Berbicara tentang amanah, tetapi mengkhianati amanah. Berbicara tentang keadilan, tetapi berlaku zalim ketika memiliki kekuasaan.

JANJI YANG MUDAH DIUCAPKAN, MUDAH PULA DIKHIANATI

Rasulullah SAW mengingatkan bahwa di antara tanda kemunafikan adalah ketika seseorang berbicara, ia berdusta; ketika berjanji, ia mengingkari; dan ketika dipercaya, ia berkhianat.

Kalau kita melihat kehidupan sosial hari ini, peringatan tersebut terasa semakin relevan.

Betapa mudahnya manusia mengucapkan janji.

Janji politik. Janji jabatan. Janji kepada rakyat. Janji kepada keluarga. Janji kepada sahabat. Bahkan janji atas nama agama.

Tetapi ketika kepentingan berubah, janji pun seolah tidak pernah ada.

Di sinilah kita harus berhenti sejenak dan bertanya:

Apakah agama hanya menjadi kata-kata di bibir, sementara perilaku justru berjalan berlawanan?

KETIKA AGAMA DIJADIKAN TOPENG

Yang paling berbahaya bukan orang yang terang-terangan mengatakan dirinya tidak baik.

Justru yang patut diwaspadai adalah ketika simbol kebaikan digunakan untuk menutupi keburukan.

Berbicara tentang moral, tetapi tidak bermoral.

Berbicara tentang amanah, tetapi mempermainkan amanah.

Berbicara tentang kepentingan rakyat, tetapi keputusan selalu bermuara kepada kepentingan kelompok.

Berbicara tentang persatuan, tetapi diam-diam menyebarkan permusuhan.

Berbicara tentang keadilan, tetapi hukum hanya tajam kepada mereka yang lemah.

Jika semua itu terjadi, maka persoalannya bukan lagi sekadar retorika.

Ada jurang antara ucapan dan perbuatan.

Dan jurang itulah yang harus kita takuti.

JANGAN MUDAH MENUDUH ORANG LAIN MUNAFIK

Namun ada satu hal yang tidak boleh dilupakan.

Kita tidak boleh sembarangan memvonis seseorang sebagai munafik.

Manusia tidak mengetahui isi hati manusia lainnya. Yang dapat kita nilai adalah perkataan dan perbuatannya.

Karena itu, kritik terhadap kemunafikan harus diarahkan kepada perilaku yang nyata, bukan menjadi alasan untuk melakukan fitnah, kebencian, atau penghakiman tanpa dasar.

Lebih baik mengatakan:

“Perbuatan itu bertentangan dengan kejujuran.”

Daripada dengan mudah berkata:

“Kamu munafik dan pasti masuk neraka.”

Urusan vonis akhirat adalah hak Allah SWT.

KEMUNAFIKAN DALAM KEKUASAAN

Kemunafikan menjadi jauh lebih berbahaya ketika bertemu dengan kekuasaan.

Sebab orang yang memiliki kekuasaan memiliki kemampuan untuk memengaruhi kehidupan banyak orang.

Jika seorang pemimpin berbicara tentang kesejahteraan tetapi kebijakannya justru menyengsarakan rakyat, masyarakat berhak mempertanyakan.

Jika pejabat berbicara tentang pemberantasan korupsi tetapi membiarkan praktik penyalahgunaan kewenangan, publik berhak meminta penjelasan.

Jika seseorang mengaku memperjuangkan kepentingan rakyat tetapi hanya muncul ketika membutuhkan dukungan, rakyat juga berhak menilai.

Jabatan adalah amanah, bukan panggung untuk membangun citra.

Kekuasaan boleh melahirkan penghormatan, tetapi kekuasaan juga membawa pertanggungjawaban.

Dan pertanggungjawaban terbesar bukan hanya kepada manusia, tetapi kepada Allah SWT.

JANGAN SAMPAI KITA MENJADI BAGIAN DARI YANG KITA KECAM

Inilah bagian yang paling penting.

Ketika kita membaca ancaman tentang orang munafik, jangan buru-buru mencari wajah orang lain.

Cari diri sendiri.

Apakah kita pernah berdusta?

Apakah kita pernah mengingkari janji?

Apakah kita pernah berkhianat ketika mendapatkan kepercayaan?

Apakah kita pernah mengatakan sesuatu di depan seseorang dan mengatakan hal yang berbeda di belakangnya?

Apakah kita menggunakan agama untuk mendapatkan keuntungan?

Apakah kita menuntut keadilan ketika dirugikan, tetapi menolak keadilan ketika kepentingan kita terganggu?

Jika jawabannya pernah, maka jangan sibuk menunjuk orang lain.

Perbaiki diri.

Sebab kemunafikan bukan hanya persoalan orang lain. Ia juga merupakan penyakit yang harus kita waspadai dalam diri sendiri.

NERAKA JAHANNAM BUKAN BAHAN UNTUK MENAKUT-NAKUTI ORANG

Peringatan tentang neraka seharusnya membuat manusia lebih takut kepada dosa, bukan lebih berani menghakimi sesamanya.

QS. An-Nisa ayat 145 harus dibaca sebagai peringatan keras agar manusia tidak memainkan iman, kejujuran, amanah, dan kebenaran.

Sebab kehidupan ini singkat.

Jabatan akan berakhir.

Harta akan ditinggalkan.

Popularitas akan hilang.

Orang-orang yang hari ini memuji kita suatu saat mungkin sudah tidak mengingat nama kita.

Tetapi amal dan pertanggungjawaban kepada Allah tidak akan hilang.

Karena itu, sebelum mengatakan:

“Munafiqun, tempatnya di neraka Jahannam!”

sebaiknya kita bertanya kepada diri sendiri:

“Apakah selama ini ucapan saya sudah sejalan dengan perbuatan saya?”

Sebab boleh jadi kita sangat sibuk membongkar kemunafikan orang lain, sementara tanpa sadar kita sedang membangun rumah kemunafikan di dalam diri sendiri.

Na'udzubillahi min dzalik.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama