KENAPA KITA LEBIH SUKA MENYALAHKAN ORANG LAIN, KETIMBANG MENGOREKSI DIRI SENDIRI?
Ada sesuatu yang aneh dalam diri manusia.
Ketika hidup berjalan tidak sesuai keinginan, kita begitu cepat menemukan siapa yang harus disalahkan.
Suami menyalahkan istri.
Istri menyalahkan suami.
Orang tua menyalahkan anak.
Anak menyalahkan orang tua.
Bawahan menyalahkan atasan.
Atasan menyalahkan bawahan.
Ketika hubungan rusak, kita sibuk menghitung kesalahan orang lain.
Ketika usaha gagal, kita mencari siapa penyebabnya.
Ketika dakwah tidak diterima, kita mengatakan orang lain keras kepala.
Ketika hati kita terluka, kita merasa kitalah korban yang paling benar.
Tetapi jarang sekali kita berani bertanya:
"Jangan-jangan ada yang salah dalam diriku?"
Padahal Allah berfirman:
«بَلِ الْإِنْسَانُ عَلَىٰ نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ وَلَوْ أَلْقَىٰ مَعَاذِيرَهُ
“Bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan berbagai alasan.”
(QS. Al-Qiyamah: 14–15)»
Kita boleh menyusun seribu alasan di hadapan manusia.
Tetapi jauh di kedalaman hati, sering kali kita tahu bagian mana dari diri kita yang sebenarnya harus diperbaiki.
Mengoreksi orang lain memang lebih mudah
Sebab kesalahan orang lain tidak melukai harga diri kita.
Tetapi ketika harus mengakui kesalahan sendiri, ego mulai memberontak.
Mengatakan, “Dia yang salah,” terasa lebih ringan daripada berkata:
"Aku juga punya andil dalam masalah ini."
Padahal kedewasaan iman bukan terlihat dari kemampuan menemukan kesalahan orang lain, tetapi dari keberanian menemukan kesalahan diri sendiri.
Orang yang sibuk menyalahkan orang lain akan kehilangan kesempatan bertumbuh.
Sedangkan orang yang berani bermuhasabah akan mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga:
kesempatan untuk berubah.
Jangan habiskan hidup menjadi jaksa bagi orang lain
Kita sering sangat teliti membaca kekurangan manusia.
Nada bicaranya kita ingat.
Kesalahannya kita catat.
Kekurangannya kita ceritakan.
Kezalimannya kita ulang berkali-kali.
Tetapi terhadap diri sendiri kita menjadi pengacara yang sangat pandai.
Setiap kesalahan memiliki alasan.
"Aku marah karena dia memancingku."
"Aku berkata kasar karena dia lebih dahulu menyakitiku."
"Aku menjauh karena mereka tidak memahami diriku."
"Aku begini karena keadaan memaksaku."
Mungkin semua itu ada benarnya.
Tetapi muhasabah tidak berhenti pada pertanyaan:
“Siapa yang memulai?”
Muhasabah bertanya:
“Bagaimana sikapku di hadapan Allah ketika semua itu terjadi?”
Karena pada akhirnya, di hadapan Allah kita tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas dosa orang lain.
Kita akan ditanya tentang diri kita sendiri.
Kesalahan orang lain tidak membenarkan kesalahan kita
Ia mungkin menyakiti kita.
Tetapi jangan sampai luka itu menjadikan kita zalim.
Ia mungkin berbicara kasar.
Tetapi jangan sampai lisannya menyeret lisan kita kepada dosa.
Ia mungkin mengkhianati.
Tetapi jangan sampai pengkhianatannya menghancurkan akhlak kita.
Ia mungkin salah.
Tetapi kita tetap bertanggung jawab atas pilihan kita sendiri.
Inilah beratnya jalan menuju Allah.
Kita tidak hanya dituntut memenangkan pertengkaran.
Kita dituntut menyelamatkan hati.
Cobalah malam ini berhenti menunjuk keluar
Tariklah telunjuk itu kembali kepada diri sendiri.
Lalu bertanyalah dengan jujur:
"Ya Allah, apa yang harus aku perbaiki?"
"Apakah lisanku terlalu tajam?"
"Apakah egoku terlalu tinggi?"
"Apakah aku terlalu sulit meminta maaf?"
"Apakah aku menuntut orang lain berubah, sementara aku sendiri enggan berubah?"
"Apakah aku terlalu sibuk melihat dosa manusia sampai lupa menangisi dosaku sendiri?"
Mungkin kita akan menemukan banyak hal yang selama ini tersembunyi di balik kalimat:
“Semua ini salah mereka.”
Allah berfirman:
«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”
(QS. Al-Hasyr: 18)»
Perhatikan dirimu.
Bukan hanya kesalahan mereka.
Sebab manusia yang terus menyalahkan orang lain mungkin memenangkan banyak perdebatan, tetapi tidak pernah memenangkan dirinya sendiri.
Sedangkan orang yang berani berkata,
“Mungkin aku juga harus berubah,”
sedang membuka salah satu pintu terbesar menuju perbaikan.
Muhasabah Hari Ini
Jangan terlalu sibuk mencari siapa yang harus disalahkan.
Carilah apa yang harus diperbaiki.
Karena boleh jadi Allah menghadirkan kesalahan orang lain bukan hanya untuk menguji kesabaran kita, tetapi juga untuk memperlihatkan sesuatu dalam diri kita yang selama ini belum kita sadari.
Berhentilah menjadi hakim bagi semua orang.
Duduklah sejenak menjadi terdakwa di hadapan hati sendiri.
Sebab orang yang paling beruntung bukanlah orang yang selalu merasa benar.
Tetapi orang yang masih diberi Allah keberanian untuk berkata:
“Ya Allah, tunjukkan kepadaku kesalahanku sebelum aku sibuk melihat kesalahan orang lain.”
Dari Mihrab Maya
"Sering kali yang menghalangi kita menjadi lebih baik bukan karena kita tidak tahu kesalahan kita, tetapi karena ego kita selalu berhasil menemukan orang lain untuk disalahkan."
Ust Abdul Latif Khan

Posting Komentar