Oleh: H. Syahrir Nasution
Rakyat tidak boleh selamanya hanya menjadi penonton di negeri sendiri. Ketika berbagai persoalan kehidupan semakin menekan, ketika ketidakadilan masih dirasakan, ketika suara rakyat sering kali hanya didengar saat dibutuhkan dalam momentum politik, maka sudah saatnya rakyat berpikir, bersikap dan bergerak.
Namun, bergerak bukan berarti membuat kekacauan. Berbuat bukan berarti melakukan kekerasan. Merebut kembali kedaulatan bukan berarti menggulingkan pemerintahan dengan cara-cara inkonstitusional.
Kedaulatan rakyat harus direbut kembali melalui kesadaran, persatuan, keberanian menyampaikan kebenaran dan perjuangan konstitusional.
Inilah yang semestinya menjadi ruh dari setiap gerakan rakyat.
Rakyat Jangan Lagi Menjadi Komoditas Politik
Kita sering menyaksikan bagaimana rakyat didekati ketika musim politik tiba. Suara rakyat dibutuhkan, aspirasi rakyat dijanjikan akan diperjuangkan, tetapi setelah kekuasaan diperoleh, rakyat kembali berada di belakang.
Situasi seperti ini tidak boleh terus berlangsung.
Rakyat harus memiliki kesadaran bahwa kekuasaan dalam negara demokrasi pada hakikatnya bukan milik segelintir elite. Kekuasaan harus dipergunakan untuk kepentingan rakyat.
Karena itu, rakyat harus berani mengawasi siapa pun yang memegang kekuasaan.
Tidak boleh ada kekuasaan yang terlalu kuat untuk dikritik dan tidak boleh ada rakyat yang terlalu lemah untuk menyampaikan kebenaran.
Aksi Rakyat Jangan Sampai Ditelikung
Dalam konteks dinamika politik nasional dan rencana aksi 27 Agustus 2026, kita perlu memberikan catatan penting.
Demonstrasi adalah hak rakyat untuk menyampaikan aspirasi. Jika tuntutannya menyangkut kepentingan rakyat, maka harus dihormati.
Tetapi kita juga harus waspada terhadap kemungkinan adanya kelompok politik yang mencoba memanfaatkan keresahan masyarakat untuk kepentingan kekuasaan.
Rakyat jangan sampai menjadi alat permainan elite.
Jangan sampai kemarahan rakyat terhadap persoalan tertentu justru ditelikung menjadi gerakan untuk menjatuhkan seseorang demi kepentingan kelompok politik tertentu.
Kita tidak boleh menuduh pihak tertentu tanpa bukti. Tetapi rakyat memiliki hak untuk bersikap kritis terhadap setiap manuver politik yang muncul di tengah keresahan masyarakat.
Karena itu, jika ada kelompok yang mencoba mengadu domba rakyat dengan pemerintah, rakyat harus mampu mengatakan:
“Kami bergerak untuk kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan elite.”
Jangan Adu Domba Rakyat
Indonesia adalah negara besar. Negeri ini dibangun dengan perjuangan panjang dan pengorbanan rakyat.
Jangan karena kepentingan politik sesaat, rakyat diadu domba.
Jangan mahasiswa diadu dengan pemerintah.
Jangan buruh diadu dengan aparat.
Jangan masyarakat sipil dipertentangkan dengan kelompok masyarakat lainnya.
Dan jangan pula persoalan politik elite ditransformasikan menjadi konflik horizontal di tengah masyarakat.
Rakyat harus bersatu, tetapi persatuan itu bukan persatuan membabi buta.
Persatuan rakyat adalah persatuan dalam memperjuangkan keadilan, kesejahteraan, hukum yang adil, pemerintahan yang bersih dan masa depan bangsa yang lebih baik.
Kedaulatan Rakyat Bukan Sekadar Slogan
Kedaulatan rakyat bukan sekadar kata-kata yang indah di dalam pidato.
Kedaulatan harus diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Ketika rakyat dapat mengawasi pemerintah, itulah kedaulatan.
Ketika rakyat berani mengkritik kebijakan yang tidak berpihak kepada kepentingan umum, itulah kedaulatan.
Ketika rakyat dapat memperoleh keadilan tanpa memandang status sosial, itulah kedaulatan.
Ketika korupsi diberantas tanpa pandang bulu, itulah kedaulatan.
Dan ketika kekayaan alam Indonesia benar-benar dikelola sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, itulah makna kedaulatan yang sesungguhnya.
Karena itu, rakyat harus kembali menyadari kekuatannya.
Jumlah rakyat sangat besar, tetapi kekuatan rakyat hanya akan menjadi kekuatan apabila rakyat bersatu dalam kesadaran dan tujuan.
Bergerak dengan Akal Sehat
Saya ingin menegaskan bahwa ajakan kepada rakyat untuk berbuat dan bergerak bukanlah ajakan untuk melakukan kekerasan.
Sebaliknya, rakyat harus bergerak dengan akal sehat.
Rakyat harus cerdas membaca situasi.
Rakyat harus mampu membedakan mana perjuangan dan mana provokasi.
Mana kepentingan rakyat dan mana kepentingan elite.
Mana kritik yang konstruktif dan mana propaganda politik.
Jangan mudah percaya pada potongan video, narasi media sosial atau informasi yang sengaja dibuat untuk membakar emosi.
Rakyat yang berdaulat adalah rakyat yang berpikir sebelum bertindak.
Pemerintah Juga Harus Mendengar
Gerakan rakyat yang sehat seharusnya menjadi cermin bagi pemerintah.
Jangan setiap kritik dianggap sebagai ancaman.
Jangan setiap demonstrasi dianggap sebagai upaya menggulingkan pemerintah.
Pemerintah yang kuat justru adalah pemerintah yang mampu mendengar suara rakyat dan memperbaiki kesalahan.
Presiden, menteri, gubernur, bupati, wali kota, DPR dan seluruh pejabat negara adalah pelayan masyarakat.
Karena itu, ketika rakyat menyampaikan kritik, yang harus dilakukan bukan hanya mencari siapa dalangnya.
Yang lebih penting adalah mencari apa yang menyebabkan rakyat melakukan protes.
Di situlah pemerintah dapat menemukan akar persoalan.
Rakyat Harus Merebut Kembali Ruang Pengawasan
Kedaulatan rakyat juga berarti rakyat tidak menyerahkan seluruh urusan bangsa kepada elite politik.
Rakyat harus mengawasi anggaran negara.
Rakyat harus mengawasi kebijakan pemerintah.
Rakyat harus mengawasi proses legislasi.
Rakyat harus berani melaporkan dugaan korupsi.
Rakyat harus menggunakan hak pilihnya dengan cerdas.
Dan setelah pemilu selesai, rakyat tidak boleh berhenti mengawasi.
Karena demokrasi bukan hanya berlangsung lima tahun sekali.
Demokrasi berlangsung setiap hari.
Jangan Takut Menjadi Rakyat yang Kritis
Kita membutuhkan rakyat yang kritis, bukan rakyat yang apatis.
Rakyat yang berani bertanya.
Rakyat yang berani mengatakan salah ketika memang salah.
Rakyat yang berani mengatakan benar ketika memang benar.
Tetapi juga rakyat yang mampu mengakui apabila dirinya keliru.
Inilah kedewasaan demokrasi.
Jangan karena seseorang kita dukung, seluruh kebijakannya dianggap benar.
Dan jangan karena seseorang tidak kita sukai, seluruh tindakannya dianggap salah.
Ukuran kita harus kepentingan rakyat dan kepentingan bangsa.
Penutup
Maka, kepada seluruh rakyat Indonesia, mari kita jadikan momentum ini sebagai titik kesadaran.
Rakyat harus berbuat.
Rakyat harus bergerak.
Rakyat harus bersatu.
Tetapi bergeraklah dengan kepala dingin.
Berbuatlah dengan kesadaran.
Bersatulah tanpa membenci.
Berjuanglah tanpa kekerasan.
Kritiklah kekuasaan tanpa menghancurkan negeri.
Dan yang paling penting, jangan biarkan siapa pun mengambil alih perjuangan rakyat untuk kepentingan politiknya sendiri.
Kita tidak sedang mencari siapa yang paling kuat.
Kita sedang mencari bagaimana Indonesia menjadi lebih adil.
Kita tidak sedang mencari siapa yang harus berkuasa.
Kita sedang memastikan bahwa siapa pun yang berkuasa harus tunduk pada kepentingan rakyat.
Karena pada akhirnya, kedaulatan tertinggi berada di tangan rakyat.
Dan jika kedaulatan itu mulai terasa jauh dari kehidupan rakyat, maka rakyat harus berbuat dan bergerak untuk merebut kembali kedaulatannya—dengan kesadaran, persatuan, hukum dan jalan demokrasi.
Salam perubahan untuk Indonesia yang lebih berdaulat, adil dan bermartabat.
Oleh: H. Syahrir Nasution

Posting Komentar