Oleh: H. Syahrir Nasution
Ada satu pertanyaan sederhana yang layak kita renungkan sebagai bangsa: seperti apa sesungguhnya pemimpin yang dibutuhkan rakyat?
Pertanyaan ini membawa kita melihat apa yang dilakukan Nayib Bukele, Presiden El Salvador. Sosok yang kontroversial, keras, bahkan banyak dikritik oleh organisasi hak asasi manusia, tetapi pada saat yang sama berhasil menciptakan perubahan besar dalam persoalan keamanan negaranya.
Kita tidak harus menyetujui seluruh kebijakan Bukele. Namun, ada sesuatu yang patut dipelajari: keberanian seorang pemimpin mengambil keputusan dan kemudian mempertanggungjawabkannya di hadapan rakyat.
El Salvador pernah dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat pembunuhan tertinggi di dunia. Namun menurut laporan IMF, angka pembunuhan turun dari sekitar 54 kasus per 100.000 penduduk pada 2018 menjadi sekitar 1,8–1,9 kasus per 100.000 pada 2024. IMF bahkan menyebut perubahan tersebut sebagai transformasi dramatis dalam keamanan.
Tentu, angka tersebut tidak boleh membuat kita menutup mata terhadap persoalan lain. Pemerintahan Bukele juga menghadapi kritik serius mengenai penangkapan massal, kondisi tahanan dan dugaan pelanggaran hak asasi manusia. Karena itu, model Bukele tidak boleh ditelan mentah-mentah.
Tetapi justru di sinilah letak bahan renungannya.
Rakyat membutuhkan hasil, bukan sekadar janji
Pemimpin pada akhirnya akan dinilai dari apa yang dirasakan rakyat.
Apakah rakyat merasa aman?
Apakah lapangan pekerjaan bertambah?
Apakah pendidikan semakin baik?
Apakah pelayanan publik semakin cepat?
Apakah korupsi dapat ditekan?
Apakah pembangunan benar-benar sampai kepada masyarakat bawah?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang seharusnya menjadi ukuran keberhasilan pemerintahan.
Bukele sendiri pada periode keduanya mulai menggeser perhatian dari persoalan keamanan menuju persoalan ekonomi. IMF mencatat bahwa ketika masalah kejahatan tidak lagi menjadi kekhawatiran utama masyarakat, perhatian publik bergeser kepada ekonomi, kemiskinan dan pengangguran.
Ini pelajaran penting: keberhasilan memberantas satu masalah tidak berarti pekerjaan seorang pemimpin selesai.
Setelah keamanan diperbaiki, ekonomi harus dibangun. Setelah ekonomi tumbuh, pendidikan dan kesehatan harus diperkuat. Setelah pembangunan berjalan, pemerataan dan keadilan harus dijaga.
Bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia tentu tidak bisa begitu saja dibandingkan dengan El Salvador.
Indonesia jauh lebih besar, memiliki ratusan juta penduduk, ribuan pulau, keragaman sosial dan budaya, serta persoalan yang jauh lebih kompleks.
Karena itu, yang perlu kita tiru bukan bentuk pemerintahannya secara mentah.
Yang perlu kita renungkan adalah keberanian untuk bekerja, keberanian mengambil keputusan, keberanian memberantas kejahatan dan korupsi, serta keberanian menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan kelompok.
Pemimpin tidak boleh hanya pandai membuat slogan.
Rakyat membutuhkan jalan yang baik, sekolah yang baik, rumah sakit yang baik, pekerjaan yang layak, harga yang terjangkau dan rasa aman.
Dan yang tidak kalah penting: rakyat membutuhkan kepastian bahwa hukum benar-benar berlaku bagi semua orang.
Jangan sampai hukum tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas.
Pemimpin kuat bukan berarti pemimpin tanpa batas
Di sinilah kita juga harus berhati-hati.
Kekuasaan yang kuat tanpa kontrol dapat menjadi persoalan baru. Negara memang membutuhkan ketegasan, tetapi ketegasan harus berjalan bersama hukum, transparansi dan perlindungan terhadap hak warga negara.
Maka, kalau kita ingin belajar dari Bukele, jangan hanya mengambil sisi "tangan besi"-nya.
Ambillah keberanian, disiplin, orientasi hasil dan keberpihakan kepada kepentingan publik. Tetapi jangan meninggalkan demokrasi, hukum dan hak asasi manusia.
Sebab tujuan akhir pemerintahan bukanlah menciptakan pemimpin yang ditakuti rakyat.
Tujuan pemerintahan adalah menciptakan negara yang membuat rakyat merasa aman, sejahtera dan dihargai.
RENUNGAN UNTUK KITA SEMUA
Indonesia memiliki sumber daya alam yang luar biasa.
Indonesia memiliki jumlah penduduk yang besar.
Indonesia memiliki generasi muda yang hebat.
Indonesia memiliki kekayaan budaya dan wilayah yang sangat luas.
Pertanyaannya kemudian:
Apakah kita kekurangan potensi?
Atau justru kita membutuhkan tata kelola yang lebih berani, lebih disiplin, lebih bersih dan lebih berpihak kepada rakyat?
Inilah yang patut kita renungkan.
Jangan hanya bertanya, "Siapa pemimpin yang hebat?"
Tetapi tanyakan:
"Apa yang sudah dilakukan pemimpin itu untuk rakyatnya?"
Karena jabatan adalah amanah.
Kekuasaan adalah tanggung jawab.
Dan pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang pernah berkuasa.
Sejarah akan mencatat apa yang dilakukan seorang pemimpin ketika ia diberi kekuasaan.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
H. Syahrir Nasution

Posting Komentar