DARI BANDARA DAERAH MENUJU GERBANG INTERNASIONAL: MENEMPATKAN BANDARA JENDERAL BESAR ABDUL HARIS NASUTION DALAM STRATEGI NATION-STATE



Oleh: H. Syahrir Nasution

Ada satu hal yang harus kita ubah dalam cara berpikir ketika membicarakan masa depan Bandara Jenderal Besar Abdul Haris Nasution (JHN) di Mandailing Natal.

Jangan melihatnya semata-mata sebagai sebuah infrastruktur transportasi.

Bandara adalah pintu masuk sebuah wilayah ke dalam jaringan ekonomi, sosial, budaya dan geopolitik yang lebih luas.

Karena itu, ketika kita berbicara tentang target 2029 dan gagasan menjadikan Mandailing Natal sebagai ruang temu atau cultural crossroads of Sumatra, maka pertanyaannya bukan sekadar: berapa pesawat yang akan mendarat?

Pertanyaan yang lebih besar adalah:

Untuk apa bandara itu dibangun, siapa yang akan dilayani, kawasan mana yang hendak dihubungkan, dan posisi apa yang ingin kita berikan kepada Mandailing Natal dalam peta Indonesia bahkan jaringan internasional?

Di sinilah konsep nation-state menjadi relevan.

JHN HARUS DIPIKIRKAN SEBAGAI INSTRUMEN STRATEGIS

Sebuah negara tidak membangun konektivitas hanya untuk memindahkan manusia dari satu tempat ke tempat lain.

Konektivitas dibangun untuk membuka akses.

Akses terhadap pasar.

Akses terhadap investasi.

Akses terhadap pendidikan.

Akses terhadap ilmu pengetahuan.

Akses terhadap kebudayaan.

Akses terhadap teknologi.

Dan pada akhirnya, akses terhadap dunia.

Jika cara berpikir ini kita gunakan, maka JHN tidak boleh hanya diposisikan sebagai “bandara milik Mandailing Natal”.

Ia harus diproyeksikan sebagai simpul konektivitas kawasan Pantai Barat Sumatera.

Mandailing Natal mempunyai posisi geografis yang menarik. Ia berada dalam ruang pertemuan berbagai arus sejarah dan kebudayaan Sumatera: Mandailing, Angkola, Minangkabau dan jaringan masyarakat perantauan yang selama berabad-abad bergerak melintasi batas administratif.

Maka JHN mempunyai peluang menjadi lebih dari sekadar titik keberangkatan.

Ia dapat menjadi pintu masuk menuju sebuah kawasan.

INTERNASIONALISASI BUKAN SEKADAR MENAMBAH PENERBANGAN

Kita sering keliru memahami istilah “internasional”.

Internasional bukan hanya berarti pesawat dari luar negeri mendarat.

Internasionalisasi dimulai ketika sebuah wilayah mempunyai sesuatu yang membuat dunia mempunyai alasan untuk datang.

Apa yang dimiliki Mandailing?

Kopi.

Batang Gadis.

Bentang alam Bukit Barisan.

Gordang Sambilan.

Bagas Godang.

Sejarah Islam.

Tradisi intelektual.

Kuliner.

Komunitas diaspora.

Pertanian.

UMKM.

Dan yang paling penting: manusia Mandailing yang tersebar di berbagai penjuru dunia.

Semua itu harus dikonversi menjadi reason to travel.

Orang tidak akan datang hanya karena sebuah bandara tersedia.

Orang datang karena ada alasan.

Maka pekerjaan besar setelah pembangunan infrastruktur bukan sekadar memperpanjang landasan atau menambah terminal.

Pekerjaan besarnya adalah menciptakan ekosistem yang membuat orang ingin mendarat di JHN.

DARI “POTENSI” MENJADI PRODUK

Sudah terlalu lama banyak daerah Indonesia berbicara tentang “potensi”.

Potensi wisata.

Potensi pertanian.

Potensi budaya.

Potensi ekonomi.

Potensi investasi.

Tetapi potensi yang tidak dikemas menjadi produk hanya akan menjadi daftar panjang dalam dokumen pemerintah.

Karena itu target 2029 harus diubah menjadi sesuatu yang dapat diukur.

Misalnya:

10 produk pengalaman unggulan Madina.

Bukan 100 potensi.

Sepuluh saja, tetapi benar-benar hidup.

Kopi Mandailing harus mempunyai ekosistem dari kebun sampai roastery.

Wisata Batang Gadis harus mempunyai paket perjalanan yang jelas.

Heritage Mandailing harus mempunyai jalur kunjungan.

Gordang Sambilan harus mempunyai panggung kebudayaan yang hidup.

Kuliner Mandailing harus dapat ditemukan wisatawan.

Kampung-kampung budaya harus mempunyai standar pelayanan.

Dan diaspora harus menjadi bagian dari ekosistem tersebut.

Dengan demikian, JHN bukan sekadar tempat turun.

JHN menjadi pintu menuju pengalaman.

MEMBANGUN “CULTURAL CROSSROADS OF SUMATRA”

Inilah gagasan yang menurut saya jauh lebih besar.

Jangan menjadikan Madina sebagai pusat yang merasa harus mengalahkan daerah lain.

Sebaliknya, jadikan Madina sebagai ruang pertemuan.

Orang Angkola datang.

Orang Mandailing datang.

Orang Minangkabau datang.

Masyarakat Batak dari berbagai wilayah datang.

Diaspora pulang.

Wisatawan nusantara datang.

Peneliti datang.

Investor datang.

Pelaku UMKM bertemu pembeli.

Petani bertemu buyer.

Seniman bertemu seniman.

Mahasiswa bertemu akademisi.

Dan semuanya bertemu melalui sebuah simpul konektivitas bernama JHN.

Inilah makna strategis “ruang temu”.

Bukan sekadar slogan budaya.

Melainkan sebuah ekosistem ekonomi dan sosial.

JHN DAN PASAR INTERNASIONAL

Kalau kita benar-benar ingin menaikkan taraf JHN menjadi bandara yang memiliki orientasi internasional, maka sejak sekarang harus dipikirkan jaringan pasarnya.

Jangan bertanya terlebih dahulu:

“Pesawat internasional dari mana yang mau datang?”

Tanyakan:

“Orang dari mana yang mempunyai alasan datang ke Madina?”

Dari situlah rute penerbangan dirancang.

Malaysia misalnya mempunyai hubungan sejarah dan sosial yang kuat dengan masyarakat Sumatera.

Singapura merupakan pusat bisnis dan konektivitas regional.

Jaringan diaspora Indonesia di berbagai negara juga dapat menjadi pasar potensial.

Namun semua itu membutuhkan kajian serius mengenai origin-destination, jumlah penumpang, kemampuan ekonomi, aktivitas bisnis, wisata, pendidikan, diaspora serta konektivitas lanjutan.

Rute penerbangan harus mengikuti permintaan nyata, bukan sekadar keinginan politik.

UKURAN KEBERHASILANNYA HARUS JELAS

Mulai sekarang kita harus berhenti mengukur keberhasilan pembangunan hanya dari jumlah seremoni.

Bukan berapa kali pejabat datang.

Bukan berapa baliho dipasang.

Bukan berapa kali konferensi pers dilakukan.

Ukurlah dengan angka yang menyentuh kehidupan rakyat.

Pada 2029, kita harus dapat menjawab:

Berapa penumpang JHN?

Berapa persen yang datang untuk bisnis?

Berapa yang datang untuk wisata?

Berapa yang datang karena keluarga dan diaspora?

Berapa lama mereka tinggal?

Berapa uang yang mereka belanjakan di Madina?

Berapa lapangan kerja yang tercipta?

Berapa investasi yang masuk?

Berapa produk lokal yang berhasil menembus pasar nasional dan internasional?

Dan pertanyaan terpenting:

Apakah masyarakat Madina benar-benar memperoleh manfaat ekonomi dari konektivitas tersebut?

Kalau jawabannya iya, maka kita sedang menyaksikan transformasi.

JANGAN MEMBANGUN BANDARA TANPA MEMBANGUN KAWASAN

Ini yang harus menjadi perhatian pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal.

Bandara tidak boleh berdiri sendirian.

JHN harus terhubung dengan jalan.

Dengan kawasan wisata.

Dengan sentra produksi.

Dengan hotel.

Dengan UMKM.

Dengan perkebunan.

Dengan pusat pendidikan.

Dengan kawasan perdagangan.

Dengan sistem transportasi regional.

Dan bahkan dengan lintasan perjalanan lintas budaya Angkola–Mandailing–Minangkabau.

Bayangkan sebuah wisatawan mendarat di JHN.

Ia menikmati Madina.

Kemudian bergerak ke Rao.

Ke Bonjol.

Ke Bukittinggi.

Atau sebaliknya, masuk dari Sumatera Barat, menikmati Minangkabau, bergerak ke Mandailing, kemudian terbang melalui JHN.

Itulah konektivitas kawasan.

Bukan kompetisi antarbandara.

DARI MADINA UNTUK INDONESIA

Pada akhirnya, pembangunan JHN bukan hanya urusan Mandailing Natal.

Ia harus ditempatkan dalam perspektif pembangunan nasional.

Indonesia membutuhkan lebih banyak pusat pertumbuhan di luar Jawa.

Indonesia membutuhkan konektivitas yang membuka wilayah-wilayah baru.

Indonesia membutuhkan pemerataan ekonomi.

Dan Indonesia membutuhkan strategi agar kekayaan budaya lokal tidak hanya menjadi identitas, tetapi juga menjadi kekuatan ekonomi dan diplomasi budaya.

Karena itu, JHN harus kita pikirkan dengan visi yang lebih jauh.

Hari ini mungkin ia adalah bandara regional.

Besok ia harus menjadi simpul nasional.

Dan jika ekosistemnya benar-benar dibangun, tidak mustahil ia berkembang menjadi pintu internasional bagi kawasan Pantai Barat Sumatera.

Tetapi semua itu tidak akan terjadi hanya karena kita menuliskan kata international dalam sebuah proposal.

Ia membutuhkan perencanaan.

Data.

Investasi.

Profesionalisme.

Promosi.

Konektivitas.

Kualitas pelayanan.

Dan yang paling penting:

konsistensi visi lintas pemerintahan.

PENUTUP: JANGAN TAKUT BERMIMPI, TETAPI WAJIB MENGUKURNYA

Mandailing Natal tidak perlu meminta dunia datang hanya karena kita mengatakan bahwa kita memiliki budaya yang hebat.

Biarkan dunia datang karena mereka menemukan sesuatu yang tidak dapat mereka temukan di tempat lain.

Biarkan kopi membawa mereka.

Biarkan alam memanggil mereka.

Biarkan sejarah mengundang mereka.

Biarkan kebudayaan menyambut mereka.

Biarkan bisnis membuat mereka kembali.

Dan biarkan masyarakat Mandailing menjadi tuan rumah yang bangga terhadap tanahnya sendiri.

Maka, mungkin pada 2029 kita tidak perlu lagi bertanya:

“Apakah Madina sudah menjadi epicentrum?”

Pertanyaan itu akan terjawab dengan sendirinya.

Ketika orang sengaja memilih turun di JHN.

Ketika investor mencari peluang di Madina.

Ketika peneliti menjadikan Batang Gadis sebagai laboratorium alam.

Ketika wisatawan mencari kopi Mandailing di sumbernya.

Ketika diaspora menjadikan Madina sebagai tempat pulang sekaligus membangun masa depan.

Dan ketika masyarakat Angkola, Mandailing, Minangkabau serta masyarakat dari berbagai penjuru Indonesia bertemu di tanah ini.

Saat itulah “ruang temu” bukan lagi konsep.

Ia menjadi kenyataan.

Dan dari kenyataan itulah sebuah daerah mulai mengambil tempat dalam percaturan nasional—bahkan internasional.

JHN adalah pintunya.

Madina adalah ruangnya.

Kebudayaan, manusia, ilmu, ekonomi dan konektivitas adalah denyutnya.

Tugas kita sekarang sederhana, tetapi berat:

Bukan sekadar bermimpi tentang 2029, melainkan mulai bekerja dan mengukurnya sejak hari ini.

Wassalam.

H. Syahrir Nasution

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama